
Happy reading guys 😁
***
Akhirnya mereka pun sampai di rumah sakit terdekat.
Anza pun hendak langsung mengangkat Mira, tapi Mira sudah terlanjur lari duluan menuju koridor rumah sakit.
Orang-orang menatap ngeri Tangan Mira yang bersimbah darah hingga membuat baju Mira kotor dengan darahnya sendiri.
Mira pun dengan santainya naik ke atas brankar yang sudah di dorong oleh perawat menuju dirinya.
Sedangkan Anza, Anza pun langsung berjalan mengikuti para perawat menuju UGD.
Anza pun berdiri di luar ruang UGD, ia takut melihat darah Mira.
Mira memang menahan pisau dengan tangannya, padahal Mira bisa memegang tangan orang yang memakai pisau, tapi Mira malah memegang pisau itu yang menyebabkan dirinya terluka.
Setelah Anza tenang, dia pun memantapkan hatinya dan memasuki tempat Mira di obati.
Ketika Anza yang memaksa masuk hingga di perbolehkan melihat Mira, Anza pun tepat melihat Mira yang tangannya sedang di jahit.
Mira yang tadinya mau di kasih obat agar pingsan dan tak merasa sakit pun tidak mau dan malah melihat langsung tangannya di jahit di depan matanya.
Anza yang melihat itu hanya bisa keheranan, karena seharusnya Mira merasakan sakit dan sudah teriak kalau tidak di buat pingsan.
Anza pun menghampiri Mira dan Mira langsung memegang tangan Anza dengan tangan kirinya.
Dokter yang sedang menjahit berusaha fokus untuk menjahit, karena dia sendiri ngilu ngebayangin tangannya di jahit tanpa di bikin tak sadar.
Jahit menjahit pun selesai, Mira pun hanya biasa saja tanpa ekspresi kesakitan, tapi tiba-tiba Mira pusing dan sangat pusing.
__ADS_1
Anza menyadari itu dan dia pun langsung membaringkan Mira yang duduk selama di jahit tangannya.
"Mira kenapa dok?" ucap Anza penuh amarah menggertak sang dokter.
"Sebentar pak, saya akan periksa" ucap dokter sambil berusaha tetap tenang.
Dokter pun memeriksa sang pasien dan dia menemukan penyebab masalah dari sakit kepala Mira.
"Maaf pak, pasien butuh darah, pasien sudah banyak mengeluarkan darah" ucap dokter menginformasikan.
Anza pun sudah melihat Mira pingsan sebelum Dokter memeriksa, dia marah pada dirinya sendiri, karena dirinya Mira sampai terluka.
Anza pun tak berpikir panjang dan langsung keluar ruangan agar bisa menelpon keluarga Mira.
0821-xxxx-xxxx --> Calling
--> Ringing
--> 0.01
"Hallo ma" ucap Anza melalui telepon dengan gelisah.
"Ada apa Za?" ucap Acha bertanya dengan bingung dan agak gelisah meski tidak tau apa penyebabnya.
"Ma, Mira terluka lagi dan dia butuh donor darah, ini di rumah sakit xxxxx" ucap Anza tanpa basa-basi.
"Hah, ok, mama langsung ke sana" ucap Acha dan langsung mematikan sambungan telpon.
Di tempat yang berbeda atau lebih tepatnya di mansion Acha.
"Pa" ucap Acha memanggil sembari berjalan menuju kantor suaminya, karena sang suami sedang tidak ke kantor.
__ADS_1
"Iya ma, kenapa?" ucap Farki.
"Pa, anak kita..." ucap Acha di potong.
"Kenapa anak kita?" ucap Farki tiba-tiba panik sembari memotong ucapan Acha dan langsung meninggalkan pekerjaan untuk berjalan menghampiri Acha.
"Dengerin dulu" ucap Acha kesal.
"I, iya" ucap Farki seketika gugup.
"Mira, kamu tau kan?, owh iya, kamu belum tau ya, jadi Mira adalah anak terakhir kamu dan dia butuh donor, kalau gak salah kamu tuh sama kan golongan darahnya sama aku" ucap Acha panjang lebar.
"Jadi aku punya anak terakhir dan itu bukan Anfal?, iya, darah kita sama" ucap Farki.
"Iya, maaf baru ngasih tau, ok kita langsung ke rumah sakit" ucap Acha tanpa basa-basi dan langsung menarik tangan suaminya.
Akhirnya Farki pun tak banyak bertanya dan dia hanya mengikuti Acha.
Farki baru tau tentang Mira yang ternyata adalah anak terakhirnya.
Farki pun seketika cemas, karena mengetahui bahwa Mira butuh donor.
***
Di rumah sakit.
Anza sangat cemas dan hanya mondar-mandir tidak jelas.
Anza tau bahwa sedari tadi Mira mengeluarkan banyak darah, tapi Mira tetap saja berkelahi dengan seru dan tidak memperdulikan darahnya yang sangat banyak karena luka yang dalam itu.
***
__ADS_1
BERSAMBUNG....