
Berita pernikahan kedua Andrew begitu cepat tersebar di keluarga besarnya. Bukan hanya keluarga Tan namun juga keluarga Jhonson pun juga mendengarnya. Terutama Zelia tampak begitu terkejut dengan berita itu.
Afzriel Tan dan juga Oliv Jhonson benar-benar murka dengan keputusan Andrew yang di nilai tak menghargai keluarga sama sekali. Bahkan secara terang-terangan mengundang dua keluarga besar itu untuk datang ketempat yang telah di tentukan oleh Andrew.
Terlepas dari kecaman keluarga besar calon suaminya Liera tetap bersikukuh menikahi Andrew.
Malam ini adalah malam sebelum Liera menikah. Ya besok secara resmi dia akan menyandang status istri. Meski hanya istri kedua Andrew Tan.
Liera berfikir hanya butuh waktu saja untuknya menduduki tempat sebagai istri satu-satunya bagi Andrew.
Saat wanita itu tengah dilanda kebahagiaan, dari balik jendela seseorang memperhatikannya dengan penuh kekecewaan.
"Liera," panggil pria itu saat Liera membuka jendela kamarnya.
Liera terkejut karena kedatangan pria itu. Dia segera menutup jendela dan menguncinya.
"Liera keluarlah, beri aku kesempatan terakhir untuk bisa menemuimu. Setelah kemauanmu terpenuhi besok, aku tak bisa lagi bertemu denganmu."
Pria itu memelas dengan penuh harapan kepada Liera. Berat untuknya melepas wanita yang begitu dia cintai. Tapi keinginan wanita itu begitu besar kepada Andrew. Dia tak bisa mencegahnya.
Liera akhirnya keluar dari rumah dan menemui pria itu. Menarik lengan pria yang berpawakan tinggi kurus itu.
__ADS_1
"Bram ngapain kamu kesini lagi! aku udah bilang jangan temui aku lagi!" bentak Liera pada pria yang bernama Bram itu.
"Liera aku sangat mencintaimu, jangan tinggalkan aku sayang?" ucap Bram sambil memegang tangan Liera. Namun wanita itu menepisnya dengan cepat.
Liera takut jika ada pihak dari keluarga Andrew mengetahui hal ini.
"Aku gak peduli dengan alasanmu,aku mau kamu pergi, jangan ganggu aku lagi,apalagi sampai menganggu pernikahanku besok!" Liera hendak meninggalkan pria itu namun Bram langsung memeluknya dari belakang.
Membuat Liera mengerahkan semua tenaga untuk melepaskan diri,namun tak mampu melawan kengkangan tubuh Bram.
"Liera aku mohon, demi anak kita ini kamu harus membatalkan pernikahanmu itu," pinta Bram.
Liera semakin kesal. Dia lalu menginjak kaki Bram dengan sepatunya. Pria itu kesakitan dan melepas tubuh Liera.
Bram hanya bisa pasrah saat Liera sekali lagi meninggalkannya. Wanita itu mengancam akan menggugurkan anak mereka jika Bram tak menuruti kemauan Liera.
Di tengah kebingungan dan frustasinya, Bram berjalan tak tentu arah di sepanjang jalan perumahan Liera.
Tiba-tiba seseorang menutup mulutnya dari belakang dengan sapu tangan dan sesaat kemudian perlahan pandangannya menjadi gelap.
Di sebuah tempat yang entah dimana, Bram mulai membuka matanya. Sayup-sayup terdengar langkah kaki seseorang. Namun saat Bram mencoba bergerak tubuhnya tak bisa sama sekali.
__ADS_1
Kedua tangannya di ikat di samping kanan dan kiri, sedangkan kedua kakinya di jadikan satu dan juga diikat.
Mulutnya disumpal dengan sebuah kain yang entah milik siapa. Bram meronta ingin melepaskan diri. Namun langkah kaki itu semakin mendekat ke arahnya.
"Aku dimana? Siapa yang melakukan ini?" batin Bram ketakutan.
"Halo Bram," sapa pria itu.
Bram mulai meneliti setiap inchi wajah pria yang sekarang tengah mendongakkan wajah miliknya dengan kedua tangan pria itu.
"Kamu?" Bram tahu siapa dia.
"Ya ini aku Andrew, pria yang di minta pacarmu menikahinya."
Andrew memberi jeda sebentar kalimatnya.
"Padahal aku tahu di dalam perutnya itu bukanlah benihku, itu adalah benihmu bukan?" tatapan mata Andrew begitu tajam dan dingin.
Bram menelan salivanya dengan susah payah. Pria di hadapannya ini bukanlah orang yang bisa di singgung. Itu sangat terlihat dari aura yang dipancarkan olehnya.
"Kalau kamu tahu kenapa tidak membatalkan pernikahannya?" tanya Bram.
__ADS_1
Andrew tak menjawab dan hanya tersenyum kecil, tapi senyuman itu begitu memiliki makna yang rumit. Bram merasa hidupnya kini dalam genggaman Andrew.