Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Sulit Mengucapkan


__ADS_3

Di tempat lain, berbeda dengan yang di alami Andrew dan Zelia,seorang pria yang masih saja menjomblo meski banyak wanita mendekatinya tengah gelisah sambil menatap benda pipih di tangannya.


Defin mondar-mandir di dalam kamar apartemennya sedari tadi,dia memandang handphonenya yang tak ada notifikasi apapun dari seseorang yang dari tadi dia hubungi.


Adel, wanita yang entah sejak kapan mengganggu pikiran pria itu, wajahnya yang cantik berkeliaran di dalam kepalanya.


"Uh aku ini kenapa sih?" ucap Defin kesal sambil melemparkan tubuhnya ke atas ranjang.


"Sejak kapan Defin bisa segalau ini, tenang Defin tenang, dia hanya sahabat kecilmu, tidak lebih, kamu harus ingat tujuanmu di sini itu untuk meraih kesuksesan," ucap Defin pada dirinya sendiri.


Tiba-tiba suara handphonenya berbunyi,dia melihat siapa yang meneleponnya.


Tampak di layar handphone itu nama Adel tertera, seketika Defin berloncat-loncat kegirangan di atas ranjangnya, dia tak menyadari melakukan hal itu.


Hingga akhirnya dia menerima panggilan telepon itu.


"Iya Del kenapa?" ucapannya terkesan cuek pada Adel, tapi itu hanyalah aktingnya saja, dia ingin sekali menanyakan banyak hal pada wanita itu.


"Hei harusnya aku yang bilang seperti itu!" suara Adel dari seberang terdengar kesal karena Defin berbelit-belit, bukankah pria itu yang terlebih dahulu menghubunginya, kenapa malah seolah-olah Adel yang butuh dirinya.


"Hehehe, tentang itu apa kamu ada waktu aku ingin bertemu?" tanya Defin hati-hati, entah kenapa dia seolah takut Adel tak bisa menemuinya.


"Tentu saja, kirim saja alamatnya dimana aku akan datang menemuimu," balas Adel lalu menutup teleponnya.


"Haiz kebiasaan deh main tutup telepon aja sebelum aku selesai ngomongnya," gumam Defin kesal lalu dia mengirim alamat yang akan menjadi tempat mereka bertemu.

__ADS_1


Setelah itu Defin bersiap untuk menemui Adel, dan segera melaju ke tempat yang telah dia siapkan.


Defin sampai di tempat itu terlebih dahulu,malam ini langit tampak begitu cerah dengan bintang dan bulan menghiasinya.


Defin duduk bersandar di sebuah kursi yang telah di siapkan oleh pelayan restoran itu, Defin memilih meja privat dengan tamu hanya dirinya sendiri, dia juga memilih outdoor agar bisa menikmati keindahan malam itu.


Entah ini di sebut dinner atau kencan, yang jelas Defin sangat senang malam ini.


"Def?" panggil Adel dari belakang pria itu, Defin menolah melihat siapa yang memanggilnya, meski dia tahu pemilik suara itu pastilah Adel.


"Adel,"Defin tersenyum dan segera menarik salah satu kursi di depannya untuk Adel, wanita itu lalu duduk di kursi tersebut.


"Def lo gak lagi sakit kan?" tanya Adel heran dengan tingkah Defin malam ini.


"Hah sakit? aku sehat kok," balas Defin.


"Eh iya kah? aku hanya sedang senang saja," ucap Defin.


"Senang, tunggu jangan-jangan kamu senang karena sudah menemukan gadis di sini ya? tanya Adel menyelidik.


"Ya begitulah," ucap Defin sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Seriusan?" tanya Adel antusias.


Tapi entah mengapa untuk Defin melihat betapa Adel antusias seperti itu membuatnya kecewa, jadi Adel mungkin berharap Defin bersama gadis lainnya.

__ADS_1


"Begitulah," ucap Defin.


"Siapa gadis itu Def?" tanya Adel.


"Itu?" Defin ragu-ragu ingin mengatakannya.


"Ahh pasti dia spesial banget ya, sampai kamu tak mau memberitahukannya padaku, baiklah aku akan menunggu kamu bercerita jika siap,ngomong-ngomong kenapa pesanan kita belum datang ya?" tanya Adel yang menyadari bahwa pesanan yang sebelumnya mereka pesan belum juga sampai.


"Eh iya, bentar Del aku tanyain dulu," ucap Defin lalu memanggil pelayan restoran itu.


Defin tak bisa mengungkapkan apa yang sedang dia rasakan saat ini, entah ini benar atau tidak tapi pria itu merasa bahwa sesuatu tengah hinggap di hatinya.


Malam itu hanya ada canda tawa keduanya seperti hari-hari biasanya ketika mereka bersama dahulu.


Hingga malam mulai larut Defin mengantarkan Adel ke apartemen milik wanita itu.


"Kamu yakin gak ngajak aku masuk ke dalam?" tanya Defin menggoda Adel.


"Hiss apaan sih gak boleh, ini udah malam, lain kali aja main sininya," Adel melarang Defin untuk masuk ke dalam apartemennya.


Mereka kini hanya berbicara di luar pintu apartemen milik Adel.


"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu," pamit Defin.


"Hati-hati Def," ucap Adel yang mendapat senyuman dari Defin.

__ADS_1


Pria itu akhirnya kembali ke apartemennya dengan perasaan yang masih terbebani, seolah ada hal yang belum semua dia ucapakan pada Adel.


__ADS_2