
Alea membanting tas sekolahnya di atas sofa ruang tamu. Dia lalu menghempaskan tubuhnya di sana. Arkan mengamati adiknya yang tak berhenti menekuk wajahnya sepanjang perjalanan pulang tadi, hingga kini mereka sudah berada di rumah.
"Kenapa sih dek kok cemberut terus dari tadi?" tanya Arkan sambil duduk di samping gadis itu.
"Lagi sebel sama orang!" jawab Alea ketus.
"Idih siapa sih orangnya?" tanya Arkan.
"Tuh si jelek Raffa," jawab Alea sambil mendekap bantal sofa di pangkuannya.
"Emang buat salah apa sih dek dia ke kamu?" tanya Arkan mencoba menjadi pelabuhan curhat adik perempuannya.
"Cowok apaan tuh di peluk-peluk sama cewek lain kok mau aja. Gak ada jaim-jaimnya! Tuh cewek juga kegatelan, masak main peluk-peluk aja sama cowok!" celoteh Alea. Arkan segera tahu maksud dari Alea. Dia tersenyum melihat bagaimana wajah kesal Alea saat ini.
"Ada bau-bau cemburu nih kayaknya," ledek Arkan.
"Siapa?" tanya Alea sambil memicingkan matanya ke arah Arkan.
"Siapa lagi kalau bukan kamu dek!" ucap Arkan sambil memencet hidung Alea. Membuat gadis itu sedikit kesakitan.
"Siapa juga yang cemburu! Aku gak suka sama dia ngapain cemburu!" sanggah Alea.
"Lah yang tanya kamu suka atau nggak siapa dek? Kok udah klarifikasi gini atau jangan-jangan sebaliknya ya?" selidik Arkan.
"Nggak! Kak Arkan jangan asal bicara ya!" Alea semakin cemberut mendengar ucapan Arkan.
"Tuh kan beneran,pipi kamu aja udah kayak kepiting tuh!" ledek Arkan.
"Sialan!" Alea melempar bantal di pangkuannya tepat mengenai wajah Arkan lalu berlari pergi meninggalkan pria itu.
"Dasar adik laknat!" teriak Arkan,Alea malah menjulurkan lidahnya untuk mengejek kakaknya.
"Sini-sini kejar Alea kak!" ledeknya sambil berlari ke kamarnya. Arkan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alea.
"Dasar cewek kalau jatuh cinta aja gak mau mengakuinya! Tapi galau kalau lihat cowok yang di sukai sama yang lain," batin Arkan. Dia menyadari kalau saudara kembarnya itu tak lagi kecil. Alea sudah tumbuh besar bersama dirinya. Dan gadis itu akhirnya merasakan jatuh cinta juga.
__ADS_1
Arkan tak akan lagi membatasi gadis itu dalam mengenal pria. Tapi Arkan akan selalu mengawasi adiknya agar tak salah langkah dalam pergaulan.
Di saat mengingat bahwa Alea sudah dewasa, Arkan juga teringat dirinya sendiri. Dia belum juga menemukan seorang gadis yang membuat jantungnya berdetak tak beraturan itu.
"Sudahlah lebih baik memikirkan pendidikan terlebih dahulu daripada memikirkan hal yang tidak-tidak seperti ini," batin Arkan. Dia lalu berjalan ke kamarnya.
Keesokan harinya masih seperti biasa, Alea dan Arkan serta Arya bersiap ke sekolah. Tapi hal aneh terlihat pada Arya. Alea dan Arkan menyadari hal itu saat mereka di dalam mobil.
"Arya kamu tumben diam sekali?" tanya Alea memulai pembicaraan mereka.
Mereka tengah diantar ke sekolah oleh sopir keluarga.
"Gak apa-apa kok kak, lagi pengen diam aja," jawab Arya tanpa candaan seperti biasanya. Arkan dan Alea saling memandang. Mencoba mencari tahu pertanyaan di pikiran keduanya. Ada apa dengan adik mereka yang tak seperti biasanya ceria.
Arya terlebih dahulu turun dari mobil karena sekolahnya yang paling dekat. Saat akan turun, Arya tampak tersenyum ke arah Alea dan Arkan.
"Arya duluan kak!" pamitnya, Alea dan Arkan menganggukkan kepalanya.
"Hati-hati dek,belajar yang bener!" pesan Arkan.
Arya hanya tersenyum membalasnya. Hingga akhirnya kedua kakaknya telah pergi. Arya melangkah berat ke arah kelasnya. Dia tiba lebih pagi dari biasanya. Suasana sekolah pun masih sepi.
Arya berbalik badan menghadap pria itu. Wajahnya mulai mengangkat untuk sejajar dengannya.
"Mana yang ku minta!" tagih pria itu.
"Maaf aku gak berani minta ortuku!" ucap Arya pelan.
"Apa! Kamu itu cuma menang muka aja, nyali ciut sekali!" ejeknya.
"Hahaha benar, dia memang pengecut bisanya sembunyi di ketiak kakaknya!" ejek pria yang lain.
Mendengar hal itu Arya mengepalkan kedua telapak tangannya. Dia mulai geram.
"Cukup! Kalian jangan menghinaku lagi!" teriak Arya lantang, tapi tubuhnya sedikit bergetar karena takut. Dia tahu siapa pria-pria yang tengah menagih uang itu padanya.Mereka adalah para preman sekolah di sana.
__ADS_1
Sebenarnya Arya tak pernah terlibat dengan mereka. Hingga suatu hari dia tak sengaja menabrak salah satu dari mereka saat berjalan. Sejak saat itu mereka sering mengganggu Arya. Meminta uang jajan milik pria itu, hingga akhirnya kini mereka meminta lebih dari itu. Dan Arya tak mau menurutinya lagi.
"Wah-wah-wah ada yang mulai berani melawan ya!" ucap ketua geng itu.
"Teman-teman beri pelajaran kepadanya!" ucapnya lagi memberi perintah pada yang lainnya.
Para anak buahnya mulai melangkah maju dan memukul wajah dan juga tubuh Arya.
Arya yang tak memiliki kemampuan bela diri tak bisa menangkisnya. Tiga lawan satu membuatnya tak berdaya.
Di sela-sela pengeroyokan itu, seorang gadis melihat mereka. Dia merasa kasihan melihat Arya di aniaya dan seketika itu dia menolongnya.
"Hei hentikan!" teriaknya sambil mencoba melerai mereka dengan keahliannya dalam bela diri. Dia menangkis pukulan dan tendangan mereka pada Arya.
"Heh ada pahlawan ternyata yang menyelamatkannya!" ucap ketua geng yang tak lain bernama Roy itu,sedangkan anak buahnya bernama Alex dan Zid.
"Apa salah dia? Kalian beraninya keroyokan kayak gini!" teriak gadis itu dengan berani.
Untung saja seorang guru melihat ke arah mereka. Ketiga pengganggu itu akhirnya pergi dan membiarkan Arya dan gadis itu kali ini.
"Awas kamu!" ucap Roy sambil melangkah pergi di ikuti Alex dan Ziddi belakangnya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya gadis itu pada Arya sambil membantunya berdiri.
"Gak apa-apa kok, makasih ya udah bantuin. Tapi lain kali jangan bantu lagi. Kamu bisa terluka!" ucap Arya khawatir.
Gadis itu malah tersenyum mendengar ucapan Arya.Dia lalu memapah Arya dan membawa tas ransel pria itu.
"Udah jangan banyak bicara dulu,ayo ku antar ke UKS."
Gadis itu mengantar Arya ke UKS, di sana dia membantu Arya mengobati lukanya.
"Makasih ya,siapa namamu?"tanya Arya.
"Panggil saja aku, Mila!" jawabnya.
__ADS_1
"Salam kenal Mila,aku Arya!" keduanya saling berkenalan dan berjabat tangan. Saling tersenyum menatap wajah masing-masing.
Setelah selesai mengobati lukanya. Keduanya harus kembali ke kelas karena sebentar lagi akan di mulai pelajarnanya.