Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Malam Pertama Abian, dan Alina


__ADS_3

"Kenapa mobilnya berhenti?"tanya Alina saat mobil yang dia tumpangi bersama Abian tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan.


"Sial!"umpat Abian seraya tangan memukul setir mobilnya.


"Kenapa?"lagi-lagi Alina bertanya.


"Bensinnya abis."jelas Abian yang terlihat kesal.


"Apa? terus gimana dong ini kita sepertinya di jalanan yang sepi deh."ungkap Alina dengan mata menatap ke arah luar dari balik kaca mobil sang suami.


Terlihat kiri, dan kanan jalanan banyak di tumbuhi pohon yang lumayan cukup besar, dan rindang yang membuat keadaan malam itu begitu mencekam bagi Alina apalagi di tambah dengan hujan yang turun begitu deras.


"Ayo kita turun!"ajak Abian.


"A-apa turun? tapi!"lirih Alina yang sepertinya enggan untuk turun dari mobil.


"Kita harus turun untuk mencari bantuan, sebelum mereka kesini menemukan kita."tutur Abian yang membuat Alina terlihat sedang berpikir.


"Ayo cepat! sebelum mereka datang."ajak Abian yang membuat Alina mau tidak mau harus mengikuti ajakan sang suami.


Abian turun dari mobil yang di susul oleh Alina yang ikut turun juga.


Abian, dan Alina mulai berjalan menyusuri jalanan yang sepi itu sambil hujan-hujanan.


Tak lama kemudian mobil sport warna hitam yang sedari tadi mengikuti mobil Abian terlihat berhenti di belakang mobil Abian.


"Ayo turun periksa mobil itu!"pinta salah satu pria dari ke empat pria yang berada di dalam mobil sport hitam itu.


"Baik."jawab pria yang berkumis tebal sambil turun dari mobil, dan mulai berjalan sambil hujan-hujanan untuk memeriksa mobil Ferrari mewah yang berada di depan itu.


Si pria berkumis itu mengintip dari kaca mobil Abian, detik kemudian dia manyun sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Mobilnya kosong bos."tutur si pria yang berkumis tebal itu saat sudah kembali dari memeriksa mobil Abian.


"Sial! pasti mereka sudah kabur."decak bos dari ke tiga preman itu.

__ADS_1


"Ya sudah ayo naik! kita coba cari mereka pasti mereka belum jauh dari sini."ajak bos preman itu yang di jawab anggukan oleh si preman berkumis itu sambil naik kembali ke dalam mobil.


"Ini kita mau pergi kemana lagi?"tanya Alina yang sudah berjalan cukup jauh menyusuri jalanan sepi, dan penuh dengan pohon-pohon yang cukup besar itu, ya mungkin bisa di bilang seperti hutan.


"Kita jalan aja terus, sampai kita menemukan sebuah rumah untuk kita mintai bantuan ok."jawab Abian seraya tangan menggenggam erat tangan Alina.


Alina hanya bisa mengangguk dengan tubuh yang sudah terlihat menggigil karena kehujanan.


"Aku sudah tidak kuat lagi."lirih Alina yang sudah benar-benar sangat kedinginan.


"Kamu yang sabar ya, kita pasti akan mendapatkan bantuan."imbuh Abian yang mulai terlihat panik dengan keadaan istrinya saat ini.


Apalagi bukan cuma Alina, tapi dirinya pun merasakan hal yang sama seperti yang Alina rasakan yaitu kedinginan.


Terlihat dari kejauhan ada sebuah rumah di depan sana yang membuat Alina, dan Abian terlihat senang. "Itu ada sebuah rumah di sana kita bisa kesana untuk meminta bantuan, atau setidaknya kita bisa ikut berteduh disana."ucap Abian yang di jawab anggukan oleh Alina.


Abian, dan Alina berjalan menuju rumah itu untuk meminta bantuan, atau untuk sekedar ikut berteduh dari derasnya air hujan yang sudah mengguyur tubuh mereka hingga basah kuyup seperti saat ini.


Kini Abian, dan Alina sudah berada di depan rumah itu. "Permisi,!"teriak Abian seraya tangan mengetuk pintu rumah itu.


Namun setelah beberapa kali Abian mencoba memanggil-manggil, dan mengetuk pintu rumah itu, masih saja tidak ada sahutan dari dalam rumah itu.


Abian mencoba melangkahkan kakinya perlahan untuk masuk ke dalam rumah itu.


Terlihat rumah itu kosong."Sepertinya rumah ini sudah tidak di huni lagi oleh pemiliknya."ucap Abian seraya matanya menyisir setiap sudut rumah itu.


"Berhubung rumahnya kosong, kita bisa berteduh disini sampai besok pagi."sambung Abian seraya menoleh ke belakang ke arah Alina.


Alina tidak menjawab, karena saat ini Alina sedang mencoba menahan rasa dingin yang terus menggerogoti tubuhnya.


Alina benar-benar sangat kedinginan bahkan bibir Alina pun sudah terlihat membiru.


"Alina!"ucap Abian seraya tangan langsung menyangga tubuh Alina yang hendak jatuh ke atas lantai.


"Al bangun Al!"lirih Abian dengan tangan menepuk-nepuk lembut pipi sang istri.

__ADS_1


Namun tidak ada reaksi apapun dari Alina yang membuat Abian semakin panik di buatnya.


Abian mulai mengangkat tubuh Alina untuk dia baringkan di sebuah kursi yang berada di dalam rumah itu.


"Al, bangun Al,!"kembali Abian mencoba membuat Alina sadar dengan menggosok-gosok tangan dan kaki Alina dengan tangannya.


Namun Alina masih saja tidak mau bangun.


Melihat kondisi Alina sekarang, Abian merasa bersalah karena sudah menyeret Alina ke dalam masalahnya.


Abian terus menggosok tangan, dan kaki Alina supaya ada sedikit kehangatan untuk Alina.


"Dingin!"lirih Alina dengan tubuhnya yang terlihat menggigil.


Abian benar-benar kebingungan harus berbuat apa, sedangkan dia tahu jalan satu-satunya untuk menolong hidup Alina saat ini adalah melepaskan semua baju basah yang menempel di tubuh istrinya saat ini dan memberinya kehangatan.


Karena jika di biarkan Alina terus memakai bajunya yang basah, itu justru malah bisa membuat Alina mati kedinginan.


"Al maafin aku, aku harus melakukan ini."ucap Abian sebelum melakukan pertolongan itu pada Alina.


Abian mulai mencoba membuka kancing baju Alina. "Jangan!"lirih Alina dengan tangan memegang tangan Abian untuk tidak melakukan hal itu.


"Tapi Al, kamu bisa mati kalau baju kamu nggak di lepas."tutur Abian menjelaskan niatnya itu.


Alina tidak menjawab dia memejamkan matanya sambil menahan rasa dingin yang sungguh tidak bisa dia tahan lagi.


Akhirnya Abian melanjutkan niatnya untuk menolong Alina.


Satu persatu kancing baju Alina, Abian lepaskan hingga kini semua baju yang menempel di tubuh Alina sudah tidak tersisa lagi.


Selain menolong Alina dari rasa kedinginan, Abian juga memberikan Alina sebuah kehangatan dengan menghangatkan tubuh istrinya itu.


Ya Abian, dan Alina melakukan hubungan suami istri pertama mereka malam itu.


Malam dimana masih di penuhi dengan kilat, dan derasnya air hujan yang terus mengguyur rumah itu.

__ADS_1


Rumah dimana menjadi saksi cinta antara Alina, dan Abian di satukan tanpa jarak di antara mereka berdua.


Kini Abian, dan Alina sudah menjadi satu sudah tidak ada lagi jarak di antara mereka berdua selain persatuan yang begitu indah.


__ADS_2