
Beberapa menit sebelum Andrew dan Liera makan malam. Secara diam-diam Liera yang pamit ke toilet membayar seorang pelayan restoran untuk mencampur makanan Andrew dengan obat tidur.
Itu yang membuat pria itu sekarang tak sadarkan diri.
Liera yang sudah merencanakan hal itu sebelumnya mulai melancarkan aksinya.
Perlahan dia membuka semua baju Andrew, begitu pula dengan bajunya sendiri.
Liera gila, ya wanita itu memang gila. Dia memilih melakukan hal hina itu demi bisa bersama dengan pria impiannya.
Saat bersamaan Zelia yang tengah dilanda kekhawatiran mulai melakukan panggilan video ke suaminya.
Satu panggilan di terima, namun bukan lah Andrew yang berada di dalam layar handphonenya.
Melainkan seorang perempuan yang tak Zelia kenal. Seketika jantung Zelia tak bisa berdetak beraturan.
Hatinya tersayat tak kala sang wanita itu memperlihatkan Andrew yang tengah separuh telanjang tidur di samping wanita itu.
Wanita itu bahkan juga hanya menutupi tubuhnya dengan selimut, tampak keduanya begitu kelelahan.
Zelia menangis, tak tahu apa yang di lihatnya. Hatinya seketika perih, dia lalu mematikan teleponnya karena tak sanggup lagi melihat hal itu.
"Kenapa seperti ini, dia bilang dia kerja di sana, tapi kenapa dia bisa melakukan hal itu?" ucap Zelia penuh dengan kekecewaan.
__ADS_1
Sedangkan Liera tersenyum bahagia melihat bagaimana Zelia yang menangis di layar handphone milik Andrew tadi.
"Ini baru permulaan," batin Liera.
Keesokan harinya Andrew yang sadar dari tidurnya merasakan kepalanya begitu pusing.
Liera yang berada di sampingnya tiba-tiba menangis sambil menekuk kedua lututnya.
"Liera apa yang terjadi?" tanya Andrew tak tahu apa yang terjadi.
Sedetik kemudian dia melihat tubuhnya yang telanjang, juga dengan Liera.
"Apa yang aku lakukan? ini tidak mungkin terjadi kan?" batin Andrew tak percaya.
"Hiks hiks hiks, bapak telah merenggut kesucian saya, sa- saya harus bagaimana pak?" tangis Liera pecah.
Ini diluar keinginannya, Andrew tak tahu apa yang semalam terjadi. Seingatnya dia merasa pusing setelah makan malam di restoran.
"Bagaimana bapak bisa berkata seperti itu, setelah menikmati saya semalam. Saya sudah menahan bapak tapi bapak memaksa saya," Liera masih tersedu memohon belas kasihan Andrew.
Jelas semua itu hanyalah akting bagi Liera, agar Andrew mempercayainya.
"Maaf aku tak bisa memikirkan hal ini, aku harus membersihkan diri," Andrew pergi ke toilet dan merenungkan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Dia tak mengingat apapun semalam.
"Apa yang harus aku lakukan? Zelia aku tak bermaksud menghianatimu!" gumam Andrew.
Liera tersenyum senang di atas ranjang, rencana pertamanya sudah berhasil. Tinggal rencana berikutnya yang harus dia lakukan nantinya.
Setelah selesai mandi Andrew memeriksa panggilan video di handphonenya.
Satu panggilan masuk dari Zelia tadi malam. Tepat saat Andrew tak sadarkan diri.
Andrew mencoba menelepon kembali Zelia, namun nomor Zelia sedang tak aktif.
"Sial apa Zelia tahu semalam aku seperti ini?" gumam Andrew.
Melihat Andrew yang khawatir,Liera mendekatinya.
"Maaf aku tidak tahu dia wanita yang penting untukmu," ucapnya.
"Kamu bicara apa dengan dia?" tanya Andrew dengan wajah dinginnya.
"Aku hanya menunjukkan kamu sedang tidur saja, hanya itu," ucap Liera, tapi Andrew tak semudah itu percaya.
"Heh kamu sengaja menjebakku kan? Kamu butuh berapa? Satu milyar sudah cukup? atau masih kurang?" tanya Andrew sambil menahan emosinya karena tak bisa menghubungi Zelia.
__ADS_1
"A-aku tak mau uangmu, kenapa aku yang menjadi korban kamu perlakukan aku seperti ini," Liera kembali meneteskan air mata.
Andrew tak bisa mengatakan apapun lagi, dia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi semalam.Dia hanya bisa merutukki kebodohannya bisa melakukan hal seperti itu.