
Para siswi yang berada di sekitar Alea tengah berbisik-bisik. Tatapan mata mereka tak lepas dari sosok pria yang baru saja mengantar Alea. Siapa lagi kalau bukan Raffa. Mungkin pesona pria itu begitu kuat sampai para gadis di sekolah itu tak berhenti menerka-nerka siapa pria yang bersama Alea. Apakah itu adalah pacar gadis itu atau hanya saudara.
Alea mendengar semua pertanyaan yang di ucapkan para gadis itu yang secara sembunyi-sembunyi. Tapi bagi Alea itu bukanlah menjadi urusannya. Dia cukup merasa kesusahan dengan pesona kedua saudaranya. Dan dia tak mau lagi menambah beban akan kehadiran Raffa.
Alea berjalan menyusuri lorong sekolahnya untuk menuju ke kelas. Di belakangnya Afo mengikuti langkah gadis itu.
"Alea,"panggil Afo. Alea segera berbalik menghadap pria itu.
"Afo? baru berangkat juga?" tanya Alea. Pria itu mensejajarkan langkahnya di samping Alea.
"Iya tadi agak macet jalanannya, oh ya siapa tadi yang antar kamu?" tanya Afo penasaran.
"Oh dia itu kakak sepupuku," jawab Alea asal. Dia bahkan tak tahu asal-usul Raffa. Tapi demi hubungannya dengan Afo bisa lebih dekat, Alea harus mengatakan seperti itu saja.
"Ternyata kakakmu, aku kira dia pacarmu," ucap Afo lega.
"Nggak kok." Keduanya lalu masuk ke dalam kelas bersama. Dan pelajaran sekolahpun di mulai beberapa menit setelah keduanya masuk kelas.
Di jam makan siang, Afo menghampiri Alea yang duduk di kursinya.
"Alea," panggil Afo. Pria itu duduk di kursi yang berada di depan Alea.
"Ya Fo ada apa?" tanya Alea.
"Em kamu ntar malem ada acara nggak?" tanya Afo sedikit berharap.
"Gak ada, emang kenapa Fo?" tanya Alea lagi masih dengan sikap tenangnya.
"Syukur deh kalau gak ada, kamu mau gak nonton di bioskop sama aku, ada film bagus malam ini," ajak Afo.
Alea hanya termenung mendengarkan ajakan Afo. Dia sedang berfikir bahwa pria di depannya ini mungkin tengah mendekatinya.
"Gimana kalau kakak marah lagi?" batin Alea.
"Gak bisa ya?" Afo merasa kecewa karena tak ada respon dari Alea.
"Eh bisa kok, jam berapa?" tanya Alea.
"Beneran?"
"Iya, bisa."
__ADS_1
"Nanti malam aku jemput ya?" ucap Afo.
"Baiklah," Alea tersenyum ke arah pria itu. Dia tak peduli lagi dengan kemarahan kakaknya nanti. Alea juga ingin merasakan kencan di luar sana seperti teman-teman seusianya.
Malam pun tiba, Alea tengah bersiap hendak pergi dari rumah. Setelah memberi kabar pada Afo untuk menunggunya di simpang jalan sebelum rumahnya.
Alea tak mau sampai Afo bertemu dengan kakaknya. Dan sang kakak akan melarang mereka pergi.
Alea berjalan mengendap-ngendap sambil sesekali melirik ke segala arah untuk mencari sang kakak.
"Sepertinya aman," gumam Alea karena tak melihat kakaknya.
Alea dengan cepat berjalan ke arah pintu keluar tanpa hambatan.
"Yes bisa juga keluar!" ucap Alea pelan.
"Mau kemana?" tanya Raffa yang kebetulan melihat Alea. Gadis itu terkejut setengah mati karena dia tak menyadari kehadiran Raffa.
"Kemana aja bukan urusan kamu!" ucap Alea cuek. Dia segera pergi meninggalkan Raffa.
Pria itu hanya berdecak kesal karena merasa diabaikan.
"Mau kemana sih tuh cewek,gelagatnya aneh banget?" gumam Raffa penasaran.
Sedangkan gadis itu sudah di persimpangan jalan rumahnya. Di sana Afo telah menunggunya dengan motor sport kesayangan pria itu.
"Afo,"panggil Alea dari belakang pria itu. Afo menoleh ke arahnya dan membalas dengan senyuman. Sejenak Alea terpana akan manisnya senyum milik Afo. Membawanya melayang dalam bayangan indah bersamanya. Ini kah yang dinamakan oleh cinta? Tapi bukankah itu terlalu cepat baginya?
Alea tak perduli beberapa pertanyaan di benaknya itu. Yang dia tahu malam ini mereka akan kencan bersama. Itu sudah cukup membuatnya senang.
"Alea udah siap?" tanya Afo. Alea mengangguk setelah kesadarannya kembali.
"Ayo naik," ajak Afo yang sudah siap di atas motornya. Sambil tangan kiri pria itu memberikan helm untuk Alea.
Gadis itu menerimanya dan segera memakai. Lalu naik ke atas motor.Mereka melaju membelah keriuhan malam itu. Keduanya saling bercengkrama dengan batin mereka sendiri.
Dari belakang Raffa mengikuti keduanya. Entah apa yang membuatnya harus mengikuti Alea. Seharusnya dia tak melakukan itu karena dia tak ada hak untuk membatasi kebebasan pribadi gadis itu.
Mereka memang mempunyai ikatan perjodohan, tapi itu hanya saat mereka masih kecil. Sedangkan sekarang keduanya sudah dewasa. Alea bahkan tak sedikitpun ada perasaan padanya. Raffa juga merasa Alea dan dirinya seperti kucing dan tikus yang saling bermusuhan jika bersama.
"Ngapain sih aku ngikutin tuh cewek bawel?" batin Raffa. Meski begitu tubuhnya secara tak langsung menolak pemikiran itu. Dia tetap saja mengikuti keduanya yang sudah di depan bioskop.
__ADS_1
Raffa juga membeli tiket seperti keduanya. Alea dan Afo duduk di depan Raffa. Keduanya tampak saling bercanda gurau sebelum film di putar. Raffa memperhatikan keduanya dengan serius.
"Duh kayak gini banget sih selera cewek ini? Gak bisa apa bagusan dikit?" batin Raffa memperhatikan Afo. Sadar ada yang memperhatikan Afo segera menoleh kebelakang. Raffa yang sadar Afo menoleh segera menutup wajahnya dengan topi yang telah dia pakai.
"Kenapa Fo?" tanya Alea yang melihat Afo mencari sesuatu di belakang mereka. Alea juga ikut mencari.
"Nggak kok Alea, aku cuma merasa ada yang memperhatikanku saja. Mungkin cuma perasaan aja deh," jawab Afo.
"Oh, eh itu udah di mulai."
"Iya ayo fokus nonton aja," Afo memilih mengabaikan Raffa. Sedangkan pria itu akhirnya merasa lega karena Afo dan Alea tak mengenalinya.
Dari belakang Raffa melihat Afo yang hendak memegang tangan Alea. Tapi gerakannya seperti ragu-ragu. Entah kenapa ada sesuatu yang menggetarkan hati Raffa saat melihat hal itu. Apa lagi saat Alea tak menolak tangannya di pegang oleh Afo.
"Apa mereka benar-benar pacaran?Tapi Arkan bilang Alea tak punya pacar!" batin Raffa kesal.
Tapi sayangnya Raffa tak bisa terang-terangan mencegah keduanya. Hingga film itu berakhir di putar, keduanya pergi meninggalkan bioskop.Raffa masih saja mengikuti keduanya.
Hingga malam pun mulai larut tepat pukul sepuluh malam Afo mengantar Alea ke depan rumah mereka.
Sedangkan Raffa sudah terlebih dahulu sampai di rumah. Pria itu memperhatikan Alea dan Afo dari balik jendela kamarnya yang berada di lantai dua.
Di depan pintu rumah, Arkan telah menunggu sang adik. Dengan kedua tangan di lipat di depan dada, sedangkan tubuhnya bersandar di pintu.
"Dari mana baru pulang?" tanya Arkan dingin.
Alea yang tahu bahwa kakaknya sudah siap untuk memarahinya tak memperdulikan pria itu. Dia berjalan melewati Arkan begitu saja.
"Alea! Kakak sedang bicara sama kamu!" teriak Arkan. Dia merasa bertanggung jawab dengan adik-adiknya saat kedua orang tua mereka pergi keluar negeri beberapa hari ini.
Alea menghentikan langkahnya dan menatap kesal ke arah Arkan.
"Kenapa sih kak? Alea pergi sama temen sekelas. Gak boleh juga?" tanya Alea kesal.
"Kamu itu cewek dek, pergi sama cowok gak di kenal itu sampai malam gini. Gimana kalau dia ngapa-ngapain kamu?" tanya Arkan.
"Cukup kak, kamu gak perlu ngurusin aku kayak gini. Capek tahu diperlakukan gini terus. Apa-apa gak boleh!" Alea tak lagi bisa menahan marahnya.Dia segera berlari ke atas menuju kamarnya.
"Dek!" teriak Arkan, tak urung dia membiarkan adiknya pergi juga.
"Kakak peduli dek sama kamu, kakak gak mau kamu salah bergaul," batin Arkan.
__ADS_1
Sebelum sampai di kamarnya Alea tak sengaja bertemu dengan Raffa yang mendengar semua pertengkaran dua saudara itu. Raffa menatap wajah Alea yang sudah basah oleh air mata.
Sejenak Alea juga menatapnya, tapi bukan tatapan ramah melainkan tatapan kebencian. Alea berlalu pergi tanpa mengatakan apapun.