
Usai menjenguk salah satu teman sekelasnya, kini Alea sedang duduk di koridor rumah sakit untuk menunggu kakaknya menjemput.
Salah satu teman pria sekelas Alea mendekati gadis itu. Pria yang sudah menaruh hati sejak pertama mereka bertemu, namun tak ada kesempatan untuk mendekati Alea karena kakak gadis itu terlalu protektif terhadap adiknya.
"Hai Alea, nunggu jemputan ya?" tanya Reza pada Alea. Pria itu bernama Reza Mahardika. Salah satu anak konglomerat di kota itu, tapi dia tak menunjukkan bahwa kekayaan keluarganya sebagai sesuatu yang harus di pamerkan. Reza terbilang pria tampan yang bisa dengan mudah mendapatkan perempuan. Tapi dia tak melakukan hal-hal seperti itu. Dari kecil dia di didik dengan sangat baik. Tak boleh menyombongkan diri dan juga pamer tentang apa yang dia punya.
"Eh Reza, iya nih nunggu kak Arkan jemput," jawab Alea.
Sebenarnya dalam hati Alea juga mengagumi kepribadian Reza yang menurutnya sangat baik. Tapi Alea tak pernah berani untuk terlalu dekat dengan pria.
"Boleh aku temenin duduk di sini sampai kak Arkan menjemputmu?" tanya Reza hati-hati.
"Boleh, duduk aja," jawab Alea sambil menepuk kursi kosong di sebelah kursinya. Mereka saling menghadap ke depan, ada rasa canggung yang tercipta diantara keduanya.
Namun berkat Reza yang mudah bergaul, pria itu mampu mencairkan suasana dengan cepat. Dia mampu mengajak Alea bercerita tentang hal-hal kecil yang bisa membuat keduanya tertawa bersama.
Tak jauh dari mereka, Arkan yang baru sampai bersender di mobilnya. Dengan kedua lengannya di lipat di depan dada. Pria itu menatap ke arah Alea dan Reza yang terlihat sedang bersenda gurau.
Reza yang menyadari kedatangan Arkan sedikit merasa khawatir. Pasalnya tatapan mata pria itu begitu menusuk ditujukan ke arahnya.
"Alea, itu kayaknya kak Arkan udah sampai deh," ucap Reza memberitahu ke Alea. Alea segera menatap ke arah kakaknya berada.
"Kak Arkan!" panggil Alea sambil melambaikan tangan. Saat ini Arkan parkir sekitar beberapa meter dari keduanya.
Arkan yang merasa di panggil oleh adiknya segera melangkah mendekati Alea.
"Ayo pulang!" ajak Arkan dengan nada ketusnya sambil menarik lengan adiknya setelah sampai di depan mereka.
__ADS_1
"Eh tunggu kak, ini masih ada temen Alea,pamitan dulu deh" ucap Alea.
"Gak apa-apa kok Alea, kamu pulang dulu aja sama kakakmu," ucap Reza tak enak hati melihat raut wajah tak bersahabat dari Arkan.
"Tuh udah denger kan, ayo pulang sekarang," ucap Arkan sambil menarik Alea lagi, mau tak mau gadis itu menuruti kakaknya.
Tapi Alea merasa tak enak hati pada Reza yang bahkan tak di beri kesempatan oleh Arkan untuk sekedar menyapanya saja.
Reza hanya membalas tatapan Alea dengan senyuman sambil mengucapkan sesuatu pelan dengan gerakan bibirnya. Alea mencoba menerka apa yang di ucapkan oleh Reza.
"Sam-pai ke-te-mu be-so-k," itulah kata yang bisa Alea tangkap. Alea membalas dengan senyuman pula.
Tak pernah dia memiliki teman laki-laki selama ini. Itu karena dua saudaranya selalu menghalangi Alea untuk bergaul dengan para pria. Entah apa alasan mereka.
Dengan sedikit kasar Arkan mendorong Alea ke dalam mobil. Alea hanya bisa merungut kesal.
"Apaan sih, kak Arkan selalu gitu deh kalau Alea deket sama cowok. Kenapa sih kak?" tanya Alea.
Arkan yang fokus mengendarai mobil tak langsung menjawab pertanyaan adiknya.
"Kak!" bentak Alea kesal, merasa tak diacuhkan.
"Apa sih dek?" tanya Arkan balik seolah-olah tak mendengar pertanyaan adiknya.
"Kak Arkan kenapa sih ngelarang Alea buat dekat sama cowok?" tanya Alea lagi.
"Kakak gak mau kamu salah pergaulan aja," jawab Arkan singkat, membuat Alea tak puas dengan jawaban itu.
__ADS_1
"Gak adil,kalau masalah itu, Alea bisa jaga diri kak," Alea tak mau mengalah.
"Udah dek nurut aja kenapa?"
"Kak Arkan egois, masak sih kakak sama Arya aja boleh deket sama cewek di luar sana, kenapa Alea gak boleh!" Alea hampir kehilangan kendali untuk tidak marah pada kakaknya. Selama ini dia merasa tak adil atas perlakuan kedua saudaranya itu padanya.
Arkan mulai geram mendengar adiknya membentak dia.
"Kakak bilang gak boleh ya gak boleh!" ucap Arkan dengan nada tinggi, membuat Alea seketika mengeluarkan air mata.
Sebenarnya keduanya sering bertengkar, tapi Alea selalu tak bisa jika kakaknya itu membentaknya.
Arkan yang sadar membuat Alea menangis sedikit menyesal, tanpa dia sadari.Ternyata mobil mereka sudah sampai di depan rumah.
"Kakak jahat!" ucap Alea sambil keluar dari mobil, dia berlari ke dalam rumah. Arkan juga keluar dari mobil itu. Namun sebelum sampai di pintu, Arya berdiri di sana dengan wajah gembiranya.
"Kak Alea, kak Arkan coba lihat siapa yang ada di dalam rumah?" ucap Arya sambil berjalan mendekati Alea dan Arkan.
"Kak Alea kenapa nangis?" Arya baru menyadari bahwa kakak perempuannya itu tengah mengusap air mata. Itu tandanya dia sedang menangis.
"Kamu juga!" ucap Alea sambil menatap kesal ke adiknya. Dan segera masuk ke dalam rumah.
Arya hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal mendapat sentilan dari kakaknya itu.
"Lah salah apa sih Arya?" gumamnya heran, dia lalu menoleh ke arah Arkan yang menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Arya semakin bingung dengan tingkah keduanya.
"Aneh banget sih kalian!" ucap Arya sambil mengikuti Arkan dan Alea masuk ke dalam rumah.
__ADS_1