Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Raffa Kembali


__ADS_3

Jam di lengan Alea sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Itu artinya dia sudah keluar bersama Rei sekitar dua jam. Alea mulai gelisah jika saja kakaknya tahu bahwa dia tidak berada di kamarnya.Pasti pria itu akan mengomelinya habis-habisan.


"Rei gimana nih aku naiknya?" tanya Alea saat dia berada di bawah jendela kamarnya.


"Tinggal panjat aja!" jawab Rei tenang.


"Panjat kepalamu itu, ini tinggi tahu mana bisa aku naik pakai kain ini?" ucap Alea kesal mendengar jawaban temannya itu.


"Ya udah sini aku bantuin!" Rei menarik kain yang menggelantung dari jendela kamar Alea.


"Pegang ini!" pinta Rei sambil mengerahkan kainnya pada Alea.


Alea mulai memegang kain itu kuat, lalu Rei membantunya mendorong tubuh gadis itu agar perlahan bisa naik.


"Duh Alea kamu makan apa sih berat banget!" gerutu Rei.


"Hei kamu bilang aku berat,kamu aja yang lemah!" Alea tidak terima mendapat ejekan itu. Padahal akhir-akhir ini Rei lah yang sering mentraktirnya banyak makanan. Membuat berat badan gadis itu naik beberapa kilo.


"Udah diem cepetan naik. Berat nih!" ucap Rei yang membantu Alea naik. Dengan mendorong paha gadis itu. Tapi usaha keduanya tak membuahkan hasil yang berarti. Alea masih saja di tempat sebelumnya. Tak naik sedikitpun.


Keduanya menarik nafas karena kelelahan.


"Gimana nih gak bisa manjat tahu! Cari tangga deh Rei!" ucap Alea pasrah.


Plok.


Plok.


Plok.


Suara tepuk tangan mendekat ke arah keduanya. Alea dan Rei segera menoleh ke sumber suara itu.


Dan keduanya bagaikan maling yang sedang ketahuan memanjat tembok.


Arkan dengan wajah merah padamnya sudah siap menghukum keduanya.


"Bagus ya Alea, udah di kurung masih bisa senang-senang di luar sana?" ucap Arkan dengan nada sinis.


"Kak Arkan aku cuma keluar cari angin kok!" ucap Alea mengelak.


"Cari angin harus ya sama pria ini!" tunjuk Arkan pada Rei.


"Arkan sudah lah, tolong lupain masa lalu. Lagian kita sudah dewasa Arkan!" ucap Rei akhirnya sudah tak dapat menahan diri untuk meluruskan kesalahan di masa lalu.


"Melupakan? Apa kamu bisa? Semua ini karena kamu Rei!" tuduh Arkan langsung menunjuk Reihan.

__ADS_1


"Aku tahu itu, tapi tolong terima permintaan maaf dariku," ucap Rei tulus.


"Kamu gak pantas mendapatkan maaf itu, Alea cepat masuk ke rumah!" bentak Arkan. Alea hanya bisa menuruti perintah kakaknya.


"Rei kamu hati-hati pulangnya!" ucap Alea saat melewati tubuh pria itu.


"Siap bos!" Rei masih saja bisa bercanda meski saat ini suasananya sangat tak bersahabat.


"Kamu jangan pernah ganggu Alea lagi! Dia sudah punya tunangan! Sebaiknya kamu pergi dari sini!" ucap Arkan, tapi dia belum tahu masalah antara Alea dengan Raffa. Rei pun tak ingin memberitahu Arkan tentang masalah itu. Takutnya Alea akan sedih lagi karena mengingat Raffa.


"Baiklah aku akan pergi, tapi tidak akan menjauh dari Alea."


Rei pergi setelah mengatakan hal itu. Arkan hanya bisa mendesah kesal karena sikap Rei yang masih bertahan mendekati adiknya.


Tapi di dalam ingatan Arkan masih ada kisah mereka dahulu.Tentang indahnya persahabatan diantara ketiganya.


"Vinda maafkan aku tak bisa menjaga persahabatan kita seperti dahulu lagi!" batin Arkan mengingat sahabatnya yang terlebih dahulu pergi.


Setelah memastikan Rei pergi, Arkan segera masuk ke dalam rumah. Dia mencari Alea langsung ke kamarnya.


"Alea buka pintunya!" teriak Arkan.


"Nggak mau! kakak pasti mau marahin Alea lagi kan! Sana tidur aja!" ucap Alea malas membukakan pintu kamarnya.


Arkan berbalik ke arah belakangnya. Dia melihat Raffa berdiri tak jauh darinya.


"Sejak kapan kamu di sini kak Raffa?" tanya Arkan yang tidak menyadarinya.


"Maaf Arkan kalau aku tidak sopan tiba-tiba masuk karena pintu rumah mu terbuka begitu saja."


"Bukan itu masalahnya, tapi bukannya kamu di Inggris?" tanya Arkan.


"Ya tapi aku ada hal yang ingin di bicarakan dengan Alea saat ini!" jawab Raffa.


Alea yang berada di depan pintu kamarnya memegang jantung gadis itu. Detak nya saat ini tak beraturan.


"Alea aku mohon keluarlah!" ucap Raffa. Arkan yang tak tahu menahu ada masalah apa antara keduanya hanya bisa menjadi penonton sementara.


Alea perlahan membuka pintu kamarnya. Dia memutuskan untuk menghadapi pria itu, bukan hanya bersembunyi saja.


"Alea," panggil Raffa, dia hendak melangkah maju untuk memeluk gadis itu. Tapi sebelum itu terjadi Alea sudah memberi isyarat dengan tangannya agar dia mengurungkan niat untuk memeluknya.


"Jika ingin membicarakan sesuatu langsung saja!" ucap Alea dingin. Arkan menyadari ada masalah pada keduanya. Dia memutuskan untuk pergi agar keduanya bisa memiliki waktu berdua.


Setelah Arkan pergi,Raffa segera berlutut pada gadis itu.

__ADS_1


"Alea aku minta maaf, semuanya salah paham," ucapnya. Alea merasa tak enak membuat Raffa harus berlutut di depannya.


"Bangunlah aku tidak mau kamu berlutut seperti itu!" ucap Alea.


"Sebelum kamu memberi kesempatan aku untuk menjelaskan aku akan tetap seperti ini!" ucap Raffa teguh.


"Kalau begitu kamu di situ saja sampai besok pagi, aku akan masuk ke kamar dan tidur!"


Raffa akhirnya berdiri untuk menuruti kemauan Alea.


"Alea, Sanny hanya menjebak ku malam itu. Semuanya sudah aku bongkar kebusukannya!" jelas Raffa.


"Apa buktinya?" tanya Alea.


Raffa lalu menunjukkan video yang sama dengan yang di perlihatkan pada Sanny.


"Lihatlah," Raffa memberikan ponselnya pada Alea. Gadis itu memperhatikan dengan teliti.


"Jadi kamu gak pernah ngapa-ngapain sama dia?" tanya Alea ragu.


"Aku berani bersumpah Alea, aku tidak pernah melakukan hal itu pada Sanny."


"Tapi kenapa waktu itu kamu menciumnya?" tanya Alea.


"Itu karena dia yang memaksaku Alea. Dia menarik tengkukku!" jelas Raffa.


"Dan kamu mau menurutinya! Raffa aku lelah sebaiknya kamu pulang saja!" ucap Alea merasa bingung harus bersikap bagaimana pada pria di depannya itu.


"Tapi Alea aku-" belum juga Raffa selesai menjelaskan. Alea sudah menutup pintu kamarnya. Raffa terpaksa harus pergi terlebih dahulu.


Mungkin Alea masih belum bisa memikirkan semuanya.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Arkan pada Raffa saat pria itu sudah di dekat pintu keluar rumah.


"Bukan hal besar, hanya sedikit kesalahpahaman. Oh ya tolong jaga dia dulu, aku akan kembali ke apartemen," pinta Raffa.


"Baiklah," jawab Arkan.


Raffa lalu pamit untuk segera ke apartemennya. Sedangkan Alea tengah memperhatikan Raffa yang sudah keluar rumah,dari balik tirai jendela kamar gadis itu dia bisa melihat punggung Raffa mulai menjauh.


"Aku tidak tahu Raffa harus mempercayaimu lagi atau tidak."


Gumam Alea, di pikiran gadis itu tengah begitu banyak masalah.


Di tambah lagi kembalinya Raffa ke sini. Alea seharusnya senang, tapi entah kenapa ada perasaaan takut pada dirinya. Perasaan akan terjadi sesuatu setelah hari ini.

__ADS_1


__ADS_2