
Liera berjalan dengan langkah lambat,nafasnya beradu naik turun tak beraturan. Dia mulai memelankan langkah kakinya yang sudah tak sanggup lagi berlari.
"Untungnya aku bisa lolos juga," ucap Liera lega. Kini wanita itu sudah berada di pinggir perbatasan antara kota dan pedesaan.
Dia harus secepatnya mencari kendaraan yang bisa membawanya kembali ke kota.
Ide bodoh jika harus terus mengikuti Bram untuk saat ini. Bahkan pria itu tidak berguna untuknya.
Hampir saja dia bertemu Andrew dan para pengawalnya pagi ini, jika saja dia tak segera pergi dari gubuk reot itu untuk menghindari mereka. Mungkin saat ini dia akan kembali masuk ke dalam jeruji besi.
Liera tak memperdulikan Bram untuk saat ini. Dia hanya perlu kembali ke rumahnya dan kembali ke kehidupannya dahulu. Dia hanya perlu berpura-pura tak mengetahui bahwa Bram yang menculik putrinya Andrew. Dengan begitu dia akan bebas dari jerat hukum.
Liera hanya perlu mencari cara lain untuk membalaskan dendamnya pada Andrew dan Zelia.Sekarang wanita itu harus ke kota terlebih dahulu.
Sebuah mobil mewah tengah melewati jalanan yang kini Liera tapaki. Liera berusaha menghentikan mobil itu.
"Tolong berhenti!" teriak Liera sambil membentangkan kedua tangannya. Mobil itu akhirnya berhenti dan kaca pengemudi terbuka.
"Ada apa nona?" tanya seorang pria yang terlihat begitu tampan. Sejenak Liera terpaku memandang wajahnya.
"Nona!" ucap pria itu lagi sambil melambaikan tangannya di depan wajah Liera. Seketika wanita itu tersadar kembali dari lamunannya.
"Tuan tolong beri tumpangan saya sampai ke kota, saya kehilangan uang dan tas saya," jawab Liera memohon.
__ADS_1
"Baiklah, silahkan masuk," jawab pria itu.
"Terima kasih tuan," jawab Liera lalu masuk ke dalam mobil. Di sana hanya ada dirinya dan pria itu.
"Siapa nama tuan?" tanya Liera.
"Panggil saja aku Robi, dan kamu?"
"Saya Liera tuan," jawab Liera.
"Panggil Robi saja,sepertinya kita seumuran." Liera tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Dia saat ini memang terpesona dengan wajah tampan Robi. Meski lebih tampan Andrew, tapi baginya lumayan untuk cuci mata.
"Dimana rumahmu? biarkan ku antar ke sana," tanya Robi.
Liera lalu memberikan alamat rumahnya pada Robi. Di sepanjang perjalanan keduanya saling mengobrol satu sama lain. Robi juga meminta nomor telepon Liera.
Masih di hutan, Bram tak berhenti mencari Mona. Rasa kehilangan kini menyelimuti pria itu. Bagaimanapun hatinya sudah menyayangi Mona seperti anak kandungnya sendiri. Namun kini mereka harus terpisah.
Bram tak tahu harus menyerah atau tetap mencari Mona. Sedangkan dirinya sekarang menjadi incaran keluarga Tan.
Jika harus menyesal dia tak akan pernah menyesali pertemuannya dengan Mona. Dia hanya akan menyesal kenapa dia harus menjadi orang jahat hanya untuk bisa bersama Mona.
__ADS_1
"Maaf Mona, papa tak berguna sama sekali. Dimana kamu sekarang Mona," batin Bram menderita.
Setelah sepanjang hari mencari Mona tak menemukan hasil, Bram memutuskan untuk berkeliling pedesaan dan juga klinik di daerah itu.
Dengan menyamar dia merasa lebih aman. Karena hanya itu yang saat ini bisa menyelamatkannya dari para anak buah Andrew yang masih berkeliaran mencarinya.
Bram memakai kumis dan kacamata untuk menyamarkan wajahnya. Dia juga mencoba bersikap biasa saja agar tak menimbulkan kecurigaan.
Setelah tak menemukan informasi apapun tentang Mona. Malamnya Bram memutuskan kembali ke kota. Dia segera menuju ke rumah Liera.
Dia tahu pasti wanita itu berhasil kabur dari Andrew. Dan kemungkinan besar dia pasti berada di rumahnya.
Di depan jendela kamar Liera kini Bram tengah berdiri. Namun sebelum masuk ke dalam rumah dia sudah mencurigai sesuatu. Kenapa ada mobil mewah yang terparkir di sana. Bram perlahan mendekati jendela kamar Liera.
Siapa sangka dia harus mendengarkan suara-suara desahan wanita itu. Bram mencoba mengintip dari celah-celah tirai yang sedikit terbuka. Kedua matanya membelalak sempurna tak kala melihat kejadian itu.
Liera telah bermadu kasih dengan pria lain di dalam kamar itu. Telapak tangan Bram mengepal sempurna, begitu pula giginya yang menggertak karena menahan marah.
"Dasar wanita jalang, beraninya kamu main di belakangku!" batin Bram.
Malam ini dia tak bisa melakukan apapun, jika dia membuat keonaran pasti banyak warga yang akan datang melihatnya. Bram hanya bisa meninggalkan rumah itu dengan hati yang hancur. Rasa cintanya berubah menjadi kebencian karena dihianati.
"Aku pikir kamu tulus padaku, ternyata hanya aku yang bodoh disini," gumam Bram sambil berjalan menjauh dari rumah Liera. Dia memutuskan untuk menyewa sebuah apartemen untuknya tinggali saat ini.
__ADS_1
Tentu saja dengan identitas dan penampilan lain, bukan sebagai Bram. Jika ketahuan oleh Andrew maka dia tidak akan bisa memberikan pelajaran bagi Liera.