
Arya duduk di sebuah bangku tak jauh dari kakaknya berlatih. Remaja itu mulai kelelahan akibat latihan yang baru pertama dia lakukan.
"Nih buat kamu!" ucap seorang gadis dari samping Arya sambil menyerahkan sebotol air mineral untuk remaja itu.
"Makasih ya," jawab Arya sambil menerima botol dari gadis itu.
"Iya sama-sama, oh ya sejak kapan kamu ikut latihan di sini?" tanya Mila.
Gadis itu adalah Mila, remaja yang menolongnya saat dia di keroyok kemarin.
Dengan malu-malu Arya menceritakan bahwa dirinya di paksa oleh sang kakak untuk ikut pelatihan bela diri ini.
"Memang, pria harus kuat untuk melindungi diri dan orang tersayangnya. Kamu harus giat berlatih. Oke?" ucap Mila memberi semangat pada Arya.
"Ya, tentu saja," Arya tersenyum melihat bagaimana gadis di sampingnya itu memperlakukannya. Gadis itu berbeda dari kebanyakan gadis yang menyukai Arya ,yang kebanyakan hanya dari segi fisik saja.
Sedangkan Mila, dia tak sedikitpun mencoba mencari perhatian darinya. Sungguh gadis yang berbeda.
Ketika keduanya asik berbincang,Alea memperhatikan mereka. Gadis itu penasaran siapa yang tengah bersama adiknya.
Usai latihan, Alea mendekati Arya yang sudah selesai berganti pakaian.
"Ehem siapa yang sedang bersamamu tadi dek?" tanya Alea sambil menggoda adiknya.
"Kak Alea, dia teman satu sekolahku," jawab Arya.
"Masak sih? tapi kak Alea mencium aroma-aroma gimana gitu? Seperti ada rasa-rasa gitu," goda Alea pada Arya.
"Apaan sih kak!" Arya segera meninggalkan kakaknya, semakin menanggapi kakak perempuannya itu semakin sulit menghentikan rasa ingin tahunya.
__ADS_1
"Eh tunggu dek, kok main tinggal sih!" Alea segera menyahut tasnya dan mengejar Arya.
Saat sampai dia merangkul adiknya itu, kini tinggi mereka hampir sejajar. Padahal baru beberapa bulan yang lalu tinggi Arya hanya sebahu Alea. Sekarang mereka hampir sama tingginya.
Saat keluar dari bangunan itu, Alea tak sengaja menabrak seseorang. Karena dia terlalu asik bercanda dengan adiknya.
"Ah maaf,aku gak sengaja!" ucap Alea sambil menangkupkan kedua tangannya. Memohon maaf.
"Bisa gak sih kalau jalan pakai tuh mata buat ngeliat ke depan jangan ke samping mulu!" ucap pria yang tak sengaja Alea tabrak tadi.
Saat keduanya saling bertatapan. Alea langsung enggan untuk meminta maaf kembali.
"Kamu!" teriak keduanya.
"Dasar cewek gak ada sopan santunnya, main tabrak aja!" celetuk pria yang tak lain adalah Reihan.
"Emang gitu kan?" ucap Reihan lagi. Alea sudah melayangkan tangannya, namun Arya segera mencegah gadis itu.
"Udah kak,udah jangan berantem deh!" ucap Arya sambil menarik tangan Alea.
"Lepas dek, kakak pengen banget memukul wajah pria ini biar hancur sekalian!" ucap Alea marah.
"Sini kalau berani,kamu yang salah kok malah nyolot sih!" Reihan juga tak mau kalah.Dia semakin memperkeruh suasana.
Hingga suara seorang gadis membuat ketiganya menoleh ke arah gadis itu.
"Kak Reihan!" panggilnya dengan penuh semangat,sambil mendekati ketiganya. Alea,Arya dan Reihan menoleh ke arahnya.
"Eh Arya?" sapa gadis itu.
__ADS_1
"Mila, kamu kenal sama kakak ini?" tanya Arya.
"Ini kakak aku, kalau ini kakak perempuanmu ya?" tanya Mila.
"Iya ini perkenalkan kak Alea, oya kak ini Mila teman sekolahku," Arya mengenalkan keduanya.
"Oh ya ini kakakku Reihan," Mila bergantian memperkenalkan kakaknya.
"Udah dek gak usah kenal-kenalan. Cepetan pulang. Ntar makin kusut kakak kalau ketemu cewek galak kayak dia!" Reihan sengaja menitik beratkan kata dia pada Alea. Bahkan wajah pria itu tak sedikitpun berpaling dari Alea saat mengatakannya.
"Kamu!" Alea masih geram.
Tapi Reihan sudah menarik lengan adiknya untuk segera pergi ke mobil mereka.
"Arya, kak Alea, maafin kakakku ya, dia emang kayak gini!" teriak Mila dari kejauhan.
Arya hanya tersenyum canggung,sedangkan Alea melengos tak memperdulikannya.
"Kak Reihan jangan gitu dong sama kak Alea," ucap Mila.
"Emang tuh cewek ngeselin parah kok dek!" jawab Reihan.
"Hati-hati kak, awalnya kesal jadi benci terus akhirnya bucin loh!" ucap Mila menasehati kakaknya.
"Najis!" respon Reihan acuh tak acuh.
Mila hanya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari kakak satu-satunya itu. Mila tahu bahwa sang kakak sulit membuka hatinya untuk gadis di luar sana. Mila tahu apa alasannya dia seperti itu.
Tapi Mila selalu berharap kakaknya tak lagi menutup hati untuk gadis lagi. Agar dia tak lagi kesepian dan selalu teringat tentang masa lalunya.
__ADS_1