
di belakang motor yang di tumpangi oleh Putra dan juga Sisil melaju dengan kencang, terdapat mobil Leon yang telah mengikuti nya tepat berada di belakang motor milik Putra, Satria yang duduk di belakang memajukan ke kepala nya karena cemas melihat aksi Putra yang mengendarai motor dengan tinggi.
mereka semua fokus menatap lurus ke arah depan, bahkan Cakra saja yang selalu banyak bicara kini mendadak menjadi membisu. ia tak menyangka jika orang seceria Putra ternyata mempunyai masalah yang besar dan selalu berusaha ingin dia tutupin sendiri tanpa orang lain tahu.
sesampai nya di rumah sakit, mereka langsung turun dan mengejar Putra yang masuk terlebih dahulu ke dalam, bahkan Putra saja tidak tahu jika teman-teman nya yang lain mengikuti nya.
saat ia hendak masuk ke dalam ruangan di mana mama nya berada, lelaki itu menoleh ke arah belakang dan melihat jika saat ini teman nya telah berada di belakang nya.
"Kalian semua Ngapain di sini? ". tanya Putra
"ngapain lo bilang? Put, lo itu temen kita semua, jadi nggak usah ngasih pertanyaan yang bodoh deh". Ketus Leon
"Kak jangan ngomong kayak gitu ih gk bagus". ujar Lea kepada Leon
Leon berbicara seperti itu karena ia sangat tahu sekali Jika teman nya itu tidak akan pernah memberitahukan Bagaimana keadaan nya saat ini
Leon terus ingin mengetahui semua kondisi teman-teman dan keluarga nya, namun hanya Putra saja yang selalu tertutup pada diri nya.
Putra menundukkan kepala nya dan langsung berbalik badan untuk masuk ke dalam ruangan itu
Deggghh...
kini jantung nya seakan Berhenti Berdetak saat melihat malaikat kesayangan nya telah terbujur kaku dengan sebuah senyuman yang indah dengan mata yang sudah tertutup rapat.
Lelaki itu tak kuasa menahan rasa sedih yang mendalam, air mata nya mengalir dengan deras, dia langsung berlari untuk menuju jasad Mama nya.
" Ma, Mama.. Putra mohon, bangun Ma.. Mama, Apa Mama nggak denger apa yang Putra ucapin? Putra Kan udah janji akan bahagiain Mama, Tapi kenapa Mama malah pergi duluan Ma? Ma, bangun!!". teriak Putra dengan histeris
__ADS_1
"Ma, Putra sama siapa lagi kalau Mama pergi? apa Mama nggak pernah mikirin itu? apa Mama nggak kasihan sama Putra sekarang? ". ujar Putra yang langsung memeluk tubuh Mama nya
Satria langsung mendekat dan mengusap punggung Putra seolah mentransfer tenaga untuk menguatkan nya
"Put, Tante udah tenang di sana, Jadi lo harus ikhlas ya". ujar satria
" Ma, Putra mohon bangun Ma". isak tangis dari Putra terasa sangat pilu
"Kenapa kalian semua egois? Kenapa nggak ada yang pernah mikirin perasaan Putra? Kenapa kalian milih jalan kalian tanpa mikirin perasaan anak kalian ini hah?". ujar Putra yang masih terus berteriak dengan menguasao air mata nya
"Ma, maafin Putra kalau Putra belum bisa jadi anak yang baik buat Mama, maafin Putra yang belum bisa bahagiain Mama sampai saat ini, untuk terakhir kali nya Mama janji ya sama Putra kalau Mama harus bahagia di tempat baru Mama, Putra sayang sama Mama".
Putra langsung merosot ke bawah memeluk lutut nya dan menangis sejadi-jadi nya yang membuat siapapun yang melihat keadaan nya merasakan sakit yang saat ini ia rasakan.
Lelaki itu kehilangan keceriaan dan senyuman nya dalam sekejap, kini semua kebahagiaan itu di renggut begitu saja.
Leon sendiri ikut memberikan kekuatan untuk Putra, mereka bertiga duduk berdampingan dan tidak ada seorang pun yang akan kuat menyaksikan kesedihan saat ini.
"Cuma Mama yang Gue punya, Cuma Mama tujuan Gue hidup dan sekarang Gue seperti gk punya tujuan apapun lagi". Ujar Putra dengan getir
" Put, Lo punya kita semua di sini, Lo jangan pernah ngerasa sendiri. Lo juga bisa nganggep Mama Gue, Mama Lo juga". Timpakan Satria
Pintu ruangan terbuka, membuat mereka semua menoleh ke arah nya.
mata Putra langsung menatap nyalang seseorang dari balik pintu, Putra bangkit berdiri dengan tangan nya mengepal kuat.
Putra berjalan menuju ke arah seseorang itu dan memukul keras wajah lelaki yang baru saja datang, yang tak lain adalah Papa nya.
__ADS_1
Satria Langsung menarik tubuh Putra untuk menjauh, dan lelaki paruh bayah itu menatap Putra dengan tatapan yang bersalah.
"Maafin Papa Put.. ". Ucap nya
"Untuk Apa Anda datang kemari? oh saya tahu, Apa Anda ingin tertawa di depan jasad Mama bersama dengan gundikmu itu". Teriak Putra
" Asal Anda Tahu, Andalah yang telah merusak kehidupan dan kebahagian kami. Yang seharus nya mati itu Anda bukan Mama saya!!". Teriak Putra Lagi
Lelaki itu sudah di penuhi dengan Emosi saat melihat Sosok Papa nya yang datang saat ini.
"Put, Lo jangan ngomong kayak gitu". Timpal Satria
" Kenapa? Biar semua orang tahu, kalau lelaki ini tidak pantas di hargai, asal kalian tahu selama dua bulan Mama Gue selalu nungguin kabar dari Dia, tapi ternyata dia malah punya anak dengan wanita lain!! Mama Gue kecelakaan dan akhir nya kritis dan di nyatakan Koma karena surat cerai yang di berikan oleh Lelaki sampah ini!! Dan sekarang untuk apa dia datang ke sini hah?? gue gk Terima dia datang ke sini untuk melihat Mama Gue!!!". Teriak Putra menjelaskan
Semua Rasa Amarah, Kecewa, Sakit Hati karena merasa di khianati oleh Sosok Papa yang seharus nya menjadi sosok panutan nya.
Bahkan semua harta telah di rampas oleh Lelaki paruh baya itu, Putra dan Mama nya selama ini hanya menumpang hidup dan tinggal bersama dengan nenek nya, Ibu dari sang Mama.
Satria melepaskan tangan nya dari Putra, karena selama ini tidak ada yang tahu keadaan lelaki itu yang sangat menyakitkan.
Putra sendiri ingin memukul wajah itu lagi, namun di tahan saat tangan nya sudah berada tepat di depan nya, Leon langsung menarik tangan Papa Putra untuk keluar dari ruangan itu.
Di Luar Leon langsung melepaskan genggaman tangan nya dari Papa Putra dan menatap tajam ke arah nya.
"Om, aku gk tahu alasan kenapa Om bisa ngelakuin hal setega itu. Tapi Leon mohon dengan berat hati, Om jangan dulu mengganggu Putra sampai dia benar benar bisa menerima keadaan dan kenyataan yang ada, Jadi Leon mohon Om sekarang pergi".
" Om akan pergi nak Leon, tapi Om mohon kamu harus terus jagain Putra ya, dan kasih surat ini saat Putra merasa lebih baik, kalau begitu Om pamit, Terimakasih ya Nak Leon".
__ADS_1
Lelaki paruh baya itu langsung pergi seraya mengusap kasar air mata yang sudah jatuh membasahi pipi nya.