
Sepulang sekolah sekitar pukul dua siang, Alea yang sudah lelah segera menuju ke kamarnya. Namun sebelum sampai di kamarnya dia melihat Arya yang diam-diam masuk ke kamar. Alea segera mendekatinya.
"Arya kamu ngapain?" tanya Alea yang kebetulan tadi tidak pulang bersama dengan Arya.
"Kak Alea!" Arya tampak panik saat melihat kakaknya. Tapi Alea lebih panik lagi setelah melihat wajah adiknya itu.
"Arya wajah kamu kenapa?" tanya Alea panik sambil memegang wajah adiknya. Ada beberapa luka lebam di wajah itu.
"Gak apa-apa kok kak,Arya cuma jatuh aja," jawab Arya sambil meringis kesakitan.
"Bohong, ini bukan luka karena jatuh. Kamu berantem ya?" selidik Alea tak percaya dengan ucapan adiknya.
"Nggak kok kak, beneran Arya cuma jatuh!" jawab Arya namun dia tak berani menatap mata kakaknya.Dia hanya menunduk.
"Kakak tahu kamu bohong dek, katakan apa yang terjadi atau kak Alea akan memberitahu kak Arkan sekarang!" ancam Alea.
"Ja-jangan kak, Arya akan mengatakannya tapi kita masuk di kamar saja," ucap Arya,Alea menyetujuinya dan keduanya masuk ke dalam kamar Arya.
"Sekarang coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Alea saat keduanya sudah duduk di pinggir ranjang milik Arya.
Arya akhirnya memberitahu kakaknya tentang apa yang terjadi padanya hari ini. Alea mendengarkan cerita adiknya dengan geram.
"Gak bisa, kakak harus melaporkan anak-anak nakal itu pada wali kelasmu," ucap Alea kesal.
"Kak jangan, nanti gimana kalau mereka nekat memukul Arya lagi," ucap Arya.
"Tapi dek, kalau didiamkan terus menerus mereka bisa ngelunjak lagi," Alea tetap teguh akan melaporkan hal yang terjadi pada adiknya itu.
__ADS_1
Arya hanya bisa diam, dia tak tahu harus bagaimana.
"Oh ya kamu besok harus ikut kakak, oke!" ajak Alea.
"Kemana kak?" tanya Arya penasaran.
"Besok juga tahu, ini kotak obat. Kakak bantu obati lukamu," Alea mulai memberikan salep pada luka di wajah Arya.
Andrew dan Zelia yang kebetulan sudah berada di rumah menguping pembicaraan keduanya di balik pintu kamar putra bungsunya. Meski kedua orang tua itu sedikit terkejut dengan apa yang mereka dengar tapi mereka merasa sangat beruntung.
Beruntungnya adalah ketika mereka memiliki ketiga anak yang saling pengertian terhadap saudaranya.
"Sayang, apa perlu kita langsung beritahu hal ini pada kepala sekolah?" tanya Zelia dengan suara pelan.
"Tidak perlu,biarkan mereka menyelesaikan permasalahan mereka, kalau memang tidak ada titik temu baru kita beraksi!" balas Andrew sambil menyeringai.
Zelia hanya menepuk keningnya mendengar jawaban dari suaminya itu.Lagi-lagi pria yang sudah dua puluh tahun menjadi suaminya itu tak banyak berubah. Masih sama seperti pertama mengenalnya dahulu.
"Kak Alea ini dimana?" tanya Arya bingung.
"Udah diam, kamu bakalan tahu kalau sudah sampai."
Alea fokus mengayuh sepedanya,sambil membonceng Arya. Mereka tidak terlihat seperti anak orang terkaya di kota itu. Lewat kesederhanaan yang diajarkan Zelia dan Andrew. Anak-anak itu tumbuh dewasa dengan kehidupan sederhana.
Sesaat kemudian kedua kaki Alea berhenti mengayuh. Sepeda mereka terhenti di depan sebuah bangunan baru.
"Kak ini?" Arya sudah bisa menebak apa yang tengah ada di pikiran kakaknya. Alea mengangguk mendengar pertanyaan itu dari Arya.
__ADS_1
"Kamu harus jadi lebih hebat dari kakakmu ini,agar tak ada yang berani mengganggumu lagi di luar sana!" ucap Alea bersemangat.
"Tapi kak Arya malu," jawab Arya.
"Hei kenapa malu, banyak anak seusia mu juga berlatih disini," jawab Alea lalu menarik lengan Arya untuk masuk ke dalam bangunan itu.
Arya sedikit ragu namun karena kakaknya memaksa, jadi dia menurut saja.
Ternyata di dalam bangunan itu banyak sekali anak-anak kecil hingga dewasa tengah berlatih. Alea seger menyapa salah satu guru pelatihnya.
"Selamat pagi master Bobi?" sapa Alea,Arya berdiri tak jauh dari kakaknya.
"Selamat pagi,oh Alea akhirnya kamu datang juga," balas pria berbadan tinggi itu dengan seragam latihannya dia terlihat sangat berwibawa.
"Ya master maaf Alea baru muncul sekarang, oh ya perkenalkan ini adalah Arya, adik saya."
Alea memperkenalkan keduanya, Arya menjabat tangan pria yang di panggil master itu.
"Oh ya master,bisakah adik saya menjadi murid di sini juga?" tanya Alea.
"Tentu saja bisa Alea, silahkan bergabung dengan kami," jawab master Bobi.
"Terima kasih master," Alea memberi hormat pada master Bobi dengan isyarat kedua tangannya.
Kemudian keduanya berganti pakaian untuk latihan. Arya yang masih baru harus memulai dari awal agar bisa menyesuaikan dengan rekannya.
Arya mengikuti instruksi dari pelatihnya. Dua jam latihan membuatnya mulai terbiasa dengan gerakan-gerakan awal seni bela diri itu.
__ADS_1
Saat istirahat tiba Arya merasakan seseorang menepuk pundaknya dari belakang.Dia membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa yang melakukan itu.
"Kamu?" Arya terkejut dengan sosok yang berdiri di depannya itu. Sebuah kebetulan atau memang sudah terencana. Arya tak tahu apapun, dia hanya tertegun melihat sosok itu.