
Pagi ini di rumah Robi beberapa polisi datang untuk menangkapnya. Semua bukti dan saksi telah di selidiki oleh para polisi terkait dugaan pembunuhan berencana pada pengusaha terkenal Afzriel Tan.
Setelah mengetuk pintu dan Robi yang kebetulan membukanya. Pria itu terkejut melihat beberapa polisi di depan pintunya.
"Angkat tangan! Kami dari pihak kepolisian mendapat laporan bahwa anda terlibat dalam pembunuhan Afzriel Tan, sekarang ikut kami ke kantor polisi!" ucap salah satu polisi di sana. Robi ingin mengelak tapi dia saat ini sudah terkepung.
Mau tidak mau dia harus menyerah dan membiarkan kedua tangannya di borgol oleh para polisi itu.
Andrew dan Han segera ke berada kantor polisi. Setelah keduanya mendapat kabar baik bahwa otak dari rencana pembunuhan Afzriel Tan telah di temukan. Yang tak lain adalah Robi Alexandra.
Pihak kepolisian akhirnya menyergap Robi di kediamannya, serta masih mencari Liera sebagai pihak yang ikut terlibat dalam kasus tersebut.
Pihak polisi juga telah menemukan satu rencana lagi dari Robi, yaitu ingin menjelekkan nama Andrew lewat foto-foto yang di simpan pria itu. Foto-foto syur Andrew dengan Liera waktu itu.
Andrew yang geram meminta pihak kepolisian untuk segera membakar foto-foto itu dan tak mempermasalahkan kasus itu.
__ADS_1
Andrew hanya meminta pihak kepolisian untuk mengurus masalah kematian kakeknya. Dan itu telah di setujui oleh mereka.
Kini Andrew tengah berada di depan sel jeruji besi dimana Robi berada. Pria itu duduk bersandar pada tembok di dalam jeruji besi. Robi sadar Andrew tengah mengunjunginya, namun bukan hal yang menyenangkan baginya jika harus melihat musuh tersenyum karena kekalahannya.
"Entah apa yang terjadi di masa lalu tentang dua keluarga ini, tapi kamu telah mengambil orang yang paling aku sayangi. Dan ini lah yang pantas kamu dapatkan Robi." Ucap Andrew pada pria di balik jeruji itu.
"Kamu boleh senang sekarang Ndrew, tapi itu tak akan lama, setelah aku keluar dari sini. Semuanya akan berubah!" ancam Robi sambil memandang benci pada Andrew.
"Aku harap kamu bisa sadar atas kesalahan yang kamu perbuat saat mendekam disini!" ucap Andrew lalu berbalik meninggalkan Robi.
Tapi sepertinya dia harus menahan semua itu. Setelah penangkapan dirinya, perlahan perusahaan yang dia jaga selama ini mulai mengalami kebangkrutan.
Robi bahkan tak bisa menyewa pengacara untuk membebaskannya kali ini.
"Sial, aku tak akan membiarkanmu hidup tenang Ndrew!" gumam Robi. Dendamnya semakin membara dalam hati pria itu.
__ADS_1
Sedangkan untuk Liera dia masih menjadi buronan polisi sampai saat ini. Karena keberadaan wanita itu masih belum di temukan. Andrew meminta para polisi untuk segera menangkapnya. Dan juga meminta para pengawal pribadi Andrew untuk menjaga keluarganya.
Karena Andrew tahu bahwa Liera adalah wanita yang kejam dan melakukan apapun untuk bisa membalas dendam pada keluarganya.
Setelah menjenguk Robi, Andrew kembali ke rumahnya. Zelia yang sudah selesai menyiapkan makan siang mereka menghampiri Andrew.
"Ndrew, udah pulang, kebetulan kita akan makan siang, ayo!" ajak Zelia. Andrew tersenyum dan mengikuti istrinya ke meja makan. Di sana sudah ada Alea dan Arkan duduk di kursi masing-masing. Andrew ikut duduk di samping istrinya. Suasana makan siang yang lama tak Andrew rasakan karena kesibukan pria itu.
"Alea, Arkan kalian makan yang banyak ya, biar cepat besar!" ucap Zelia.
"Iya ma, Alea dan kak Arkan pasti akan cepat besar biar bisa jaga mama dan papa," ucap Alea dengan wajah polosnya. Zelia tersentuh dengan ucapan putrinya.
"Iya Alea sayang, makan dulu ya!" Zelia mengambilkan lauk untuk anak-anaknya dan juga suaminya. Keempatnya makan dalam suasana kekeluargaan yang hangat.
Terlepas dari semua masalah yang terjadi, Andrew dan Zelia merasa bersyukur karena mereka masih bisa bersama saat ini. Keduanya berjanji untuk saling menjaga keutuhan keluarga demi anak-anak mereka.
__ADS_1