Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
di sekolah


__ADS_3

Kini di sekolah Lea sedang berjalan menuju kelas nya, tak sengaja ia melihat Mutia sedang menelpon seseorang, namun entah kenapa tatapan dari Mutia terus menatap ke arah nya dengan tatapan yang mengerikan.


senyuman yang di tunjukkan oleh Mutia membuat Lea bergidik ngeri dan langsung mengalihkan pandangan nya seraya berjalan menuju ke arah kelas nya.


semenjak kejadian kemarin, Lea menjadi lebih waspada, hingga ia tanpa sadar hampir menabrak tembok karena berjalan dengan menunduk.


namun kening nya di tahan oleh tangan seseorang, sehingga membuat Lea tersentak kaget seraya menatap ke arah depan.


"hati-hati lo kalau jalan pakai mata". Ketus Mutia


wanita itu pun langsung meninggalkan Lea dan masuk terlebih dahulu ke dalam kelas, namun Lea langsung mengejar Mutia dan tak sengaja menabrak nya, hingga sebuah foto yang berada di tangan Mutia terjatuh begitu saja.


Lea langsung mengambil benda itu dan melihat foto tersebut dengan cermat, ia memperhatikan foto itu seraya mengernyitkan dahi nya.


Mutia langsung merebut foto itu dari tangan Lea dengan kasar.


"itu yang lelaki itu kakak lo?". tanya Lea yang penasaran


Mutia sendiri tidak menjawab pertanyaan dari Lea, wanita itu malah mengacuhkan nya dan berjalan untuk duduk di kursi nya


sedangkan Lea langsung mendekati Mutia kembali dan menyusul nya berjalan ke arah tempat duduk Mutia


"Urusan Gue, apa urusan Lo! ". jawab Mutia


"berarti Lo punya saudara kandung ya?". tanya Lea dengan penasaran


"apaan sih lo! urusan nya sama lo itu apa hah? dia itu cuma temen gue, tapi sampai sekarang gue enggak tahu dia ada di mana, puas lo??!!". Ketus Mutia


"tapi kenapa Lo selalu bawa foto itu ke mana-mana? gue juga sering ngelihat lo natap foto itu dengan intens". ucap Lea


Mutia pun menghembuskan nafas nya dengan kasar saat Lea menurut nya terlalu kepo tentang hidup nya.


"Gue nggak suka ya kehidupan gue di usik, apapun yang gue lakuin nggak ada hubungan nya sama lo kan?? jadi gue minta mending Lo diem aja deh dan menjauh dari hidup gue, dari pada gue bisa aja hancurin hidup lo". Ketus Mutia serta mengancam kepada Lea


"iya gue tahu itu memang bukan urusan gue, tapi kan gue kepo aja sih". Sahut Lea


Mutia tidak menjawab ucapan dari Lea, ia hanya menatap lurus ke arah depan dan tiba-tiba Sisil datang dan memperlihatkan sebuah kertas kepada Lea yakni sebuah brosur untuk masuk ke salah satu universitas yang terkenal di luar negeri.

__ADS_1


Lea membulatkan mata nya dan menatap ke arah sisil dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Lo mau sekolah di sana?". Tanya Lea


"Bukan kemauan Gue, tapi ini papa gue yang mau. gue di paksa nilai gue harus sempurna tanpa cacat secuilpun supaya gue bisa lolos masuk ke universitas itu, Lo tau Le? Gue itu tertekan banget". ujar Sisil dengan getir


"Kenapa mereka selalu memaksakan kehendak diri sendiri tanpa ngeliat Gue nyaman atau enggak, Gue di tuntut harus sempurna, gue harus hidup seperti apa yang mereka inginkan, bukan nya setiap anak berhak untuk menentukan kehidupan mereka sendiri, seperti hidup gue ini di kendalikan kayak robot".


Lea pun menghela nafas nya dengan panjang dan menatap ke arah Sisil dengan tatapan yang dalam.


"gue akan selalu ada buat Lo, dan Gue pasti dukung apapun yang lo lakuin, walaupun gue enggak tahu harus ngelakuin apa, tapi gue yakin, Lo pasti bisa melewati semua nya". Ujar Lea dengan tegas


"Hemm jadi hubungan lo sama kak Devan gimana?". Tanya Lea mengalihkan pembicaraan sebelum nya


"baik kok, dia semakin baik sama gue, bahkan dia sudah bertemu sama papa dan mama gue juga". jawab Sisil


"Widihh Trus kenapa Lo diam-diam aja hah? hal bahagia kayak gini Lo enggak mau bagi-bagi sama gue". protes Lea


" ya gue mau cerita ke Lo, tapi dua hari ini kak Devan itu kayak menghilang gitu aja sih, masa tadi pas ketemu di parkiran, dia malah cuekin gue. kesel sih, tapi ya mau gimana lagi, maka nya gue bingung". Sahut Sisil


"mending Lo temuin Kak Devan langsung aja"? usul Lea


"oke good luck ya sis". Ucap Lea menepuk bahu Sisil dan langsung menatap lurus ke arah depan


pelajaran hari ini telah berlangsung, Lea dan Sisil beserta siswa yang lain telah fokus menatap ke arah depan.


Bel istirahat telah berbunyi, Lea dan sisil langsung menuju ke kelas dua belas tempat kelas Leon dan Devan.


sebenar nya Lea ingin menemani Sisil untuk bertemu dengan Devan, namun dia memanfaatkan nya juga untuk bertemu dengan suami nya itu.


entah kenapa hari ini dia sangat rindu dengan Leon.


namun langkah nya terhenti, saat mendengar putra dan Mutia sedang terlihat bertengkar. Sisil dan Lea melihat jika Putra begitu emosi, sedangkan Mutia terlihat begitu dingin dan acuh.


"tunggu, mereka berdua ngapain sih?". ujar Lea saat melihat ke arah putra dan juga Mutia


" Ambil sana!! Lo yang udah buang bola itu sampai jauh ke sana". Teriak Putra dengan kesal

__ADS_1


"Ngapain sih Lo ngurusin mereka berdua, yaudahlah Kak Devan lebih penting dari pada ngurusin cecunguk dua itu". Sahut Sisil


Lea dan Sisil langsung melangkahkan kaki nya masuk ke dalam kelas dua belas itu, dan tak melihat Devan berada di sana. namun di sana terdapat Leon yang sedang fokus mengerjakan tugas nya.


"mungkin kak Devan lagi di lapangan basket kali, atau dia lagi di kantin. Lo susul aja deh kesana". Ucap Lea


"Jangan bilang Lo mau nganterin gue di sini, karena Lo mau nge bucin sama Laki Lo hah?". Tanya Sisil dengan curiga


Lea Langsung tersenyum dengan lebar saat mendengarkan ucapan dari Sisil itu, ia melepaskan tangan Sisil yang menggandeng nya.


"semoga Lo ketemu sama kak Devan ya, Semangat". Ucap Lea


Lea pun langsung berjalan dan duduk di sebelah Leon, dan membuat lelaki itu membulatkan mata nya seraya tersenyum manis ke arah istri nya itu.


Leon langsung memeluk Lea, namun Lea langsung mendorong nya dengan kesal.


" Duhh kamu ini apa-apaan sih mas, nanti ada yang lihat". ketus Lea


"kelas ini kosong sayang jadi tenang aja". Sahut Leon santai


"kamu lihat noh". Ucap Lea menunjuk ke arah Satria yang sedang tertidur di pojok belakang


" dia kan lagi tidur, dia juga udah tahu kali tentang hubungan kita. dia itu enggak bakalan bangun meskipun ada gempa sekaligus". jawab Leon


"kamu lagi ngerjain apa sih? ". Tanya Lea


"oh ini mas lagi fokus ngerjain pekerjaan ini nih, karena nanti setelah ini mas mau pergi, jadi kamu nanti aku antar ke rumah mama aja ya biar ada yang jaga kamu". Jelas Leon


"emang nya mas mau ke mana nanti?". Tanya Lea penasaran


"mas jelasin nanti ya, udah yuk kita keluar aja". ujar leon menggenggam tangan Lea dan langsung menuju ke luar kelas


terlihat Sisil dan Devan sedang duduk berdua yang tak jauh dari mereka, membuat Lea tersenyum dengan lebar.


"Ternyata usaha Sisil lancar juga ya".


"kenapa sayang? ". Tanya Leon yang tidak terlalu mendengar suara lea

__ADS_1


" enggak kok, ayo kita ke sana". ucap Lea yang langsung menarik tangan Leon berjalan ke arah lapangan basket


__ADS_2