
Gadis kecil usia satu tahun itu sesekali merengek dalan gendongan seorang pria dewasa, seharusnya ini sudah waktunya dia tidur malam. Tapi karena dia lapar dan haus akhirnya dia menangis tak mau berhenti.
Sosok pria yang menggendongnya sedikit kewalahan karena dia sama sekali tak punya pengalaman mengurus bayi.
"Uh kenapa gak mau diam sih!" Pria itu mulai geram.
"Mam mam, pa pa mam mam," bayi itu mengocehkan sesuatu.
"Kamu lapar?" tanya pria itu mencoba menebak apa yang di rasakan oleh bayi dalam gendongannya, jelas saja bayi itu belum bisa menjawab pertanyaan pria di depannya.
"Ah baiklah aku akan memberimu bubur ini,"pria itu mengeluarkan bubur nasi tim ke piring, dia membelinya sebelum sampai rumah tadi.
Dengan gerakan kaku, dia menyuapi gadis kecil itu. Gadis itu melahap setiap suap yang masuk ke dalam mulutnya dengan cepat.
Dia benar-benar kelaparan saat ini. Si pria itu menikmati melakukan suapan itu. Baginya begitu menggemaskan bayi di depannya ini.
"Haiz kenapa aku malah luluh dan merawatnya,seharusnya aku membunuhmu!" ucap pria itu teringat kembali tujuan awalnya.
__ADS_1
Seolah mengerti apa yang diucapkan pria di depannya, gadis kecil itu mulai merengek kembali.
"Hei hei jangan menangis lagi!" pria itu bingung ketika mendengar tangisan gadis kecil.
"Baiklah-baiklah aku tidak akan melakukan itu," ucap pria itu sambil tersenyum. Gadis kecil itu perlahan menghentikan tangisnya.
Dia mulai mengoceh kembali, tak terlihat dia takut dengan pria yang saat ini tengah menggendongnya itu.
Begitu pula dengan pria itu, dia menikmati setiap tingkah dari gadis kecil yang baru beberapa jam bersamanya. Gadis yang seharusnya menjadi kebahagiaan dari kedua orang tuanya, tapi kini menjadi sebab kesedihan bagi mereka.
"Maaf gadis kecil, aku terpaksa memisahkanmu dengan kedua orang tuamu. Demi kesalahan mereka, kamu harus menanggungnya," batin pria itu sedikit merasa bersalah.
"Seharusnya putriku seusiamu, karena kedua orang tuamu, aku harus kehilangan dia."
Bram menatap gadis kecil dalam pangkuannya yang tertidur pulas. Setelah kenyang gadis itu akhirnya terlelap.
Pria itu adalah Bram, dan gadis kecil itu adalah Alea. Ya Bram sengaja menculik Alea untuk membalas dendam atas kehilangan putrinya.
__ADS_1
Saat ini memang dia tak bisa membunuh Alea, tapi dia akan membesarkannya dan perlahan menyiksa batin kedua orang tuanya. Termasuk menghancurkan masa depan putri mereka.
Di sisi lain Zelia tak berhenti menangis mengingat Alea yang entah dimana sekarang. Andrew dan pengawal serta pihak kepolisian belum bisa menemukan keberadaan penculik dan Alea saat ini.
Zelia bahkan tak mau menyentuh makanannya sama sekali. Andrew menatap ke arah istrinya dengan rasa iba. Sebagai ibu dia pasti sangat kehilangan anaknya, rasa takut pasti menyelimuti hati Zelia.
Andrew pun sama, tak ada seorang ayah yang menginginkan anaknya diculik seperti ini.
"Alea kamu dimana nak?" gumam Zelia di tengah isak tangisnya. Di samping Zelia ada Arkan yang tak berhenti menangis dari tadi.
Karena terlalu sibuk memikirkan Alea, Zelia bahkan tak memperhatikan Arkan. Andrew lalu mendekati Zelia dan menggendong Arkan.
"Zelia aku tahu bagaimana perasaanmu saat ini, Alea adalah putri kita. Tapi saat ini Arkan juga membutuhkanmu. Aku berjanji akan mencari Alea sampai dia ditemukan. Seberapa lama pun itu, aku akan melakukannya," ucap Andrew.
Sejenak Zelia berhenti menangis saat mendengar ucapan Andrew, dia menatap ke arah Arkan yang masih gelisah dalam gendongan Andrew. Zelia lalu menggendongnya. Arkan baru mau tenang saat berada dalam gendongan Zelia.
"Maafin mama sayang,mama tidak sengaja mengabaikanmu, mama hanya takut kehilangan adikmu."
__ADS_1
Seolah mengerti ucapan Zelia, Arkan memeluk tubuh wanita itu. Zelia menerimanya dengan kasih sayang. Dia juga harus memperhatikan Arkan. Apapun yang terjadi mereka harus bisa menemukan Alea.