Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Honeymoon


__ADS_3

Pagi-pagi sekali terlihat Abian, dan Alina tampak sedang berpamitan kepada Lisa, dan juga Seno.


Hari ini mereka akan pergi ke Amerika untuk bulan madu seperti yang di inginkan oleh Seno, dan juga Lisa.


Setelah berpamitan Abian, dan juga Alina bergegas menaiki sebuah mobil Lamborghini milik Seno, sudah lengkap dengan sopirnya yang duduk di depan kemudi untuk mengantar mereka berdua ke bandara.


Kini mobil Lamborghini yang Abian, dan Alina tumpangi telah tiba di tempat yang mereka tuju.


Sampai akhirnya kini mereka berdua sudah berada di dalam pesawat yang sudah siap untuk lepas landas.


Terlihat Alina membuang nafas berkali-kali, itu membuktikan jika saat ini Alina begitu gelisah, dan panik. Bagaimana tidak, karena ini adalah kali pertamanya Alina menaiki sebuah pesawat yang membuatnya terlihat begitu ketakutan.


Saat pesawat sudah siap untuk lepas landas, Alina memejamkan matanya dalam yang membuat Abian langsung menyentuh tangan Alina yang sedikit bergetar.


Seketika Alina membuka matanya, dan menatap wajah sang suami yang kini menatapnya.


"Tidak apa-apa, semua pasti akan baik-baik saja."ucap Abian sambil tersenyum. Abian sepertinya tahu jika istrinya sedang ketakutan saat ini.


Kata-kata Abian mampu membuat Alina sedikit merasa lebih tenang.


Alina hanya membalas dengan sebuah senyuman di bibir tipisnya.


Selama perjalanan terlihat Alina tertidur, yang membuat Abian mengarahkan kepala Alina ke pundaknya supaya Alina bisa tidur dengan nyaman.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Alina mulai menggeliat, detik kemudian matanya mulai mengerjap hingga mata itu terbuka dengan sempurna.


Menatap ke sekeliling yang membuat Alina begitu terkejut karena sekarang dia sudah berada di sebuah kamar yang begitu besar, dan juga mewah.


Alina bangun, dan mulai menyisir setiap sudut kamar itu. "Kamu sudah bangun."ucap Abian yang kini berjalan ke arah Alina.


"Apa kita sudah sampai?"tanya Alina yang terlihat masih kebingungan, karena terakhir kali yang Alina ingat adalah saat dia sedang menaiki pesawat, tapi kenapa sekarang tiba-tiba saja dia sudah berada di dalam sebuah kamar.


"Iya kita sudah sampai, kamu tidur nyenyak sekali sampai tidak ingat aku bawa kesini."tutur Abian yang kini mulai duduk di tepi ranjang di samping Alina.


Abian membopong tubuh Alina keluar dari pesawat, sampai naik taksi pun Abian masih setia menggendong tubuh Alina sampai mereka tiba di Elyton hotel yang berada di Amerika.


"Benarkah?"tanya Alina yang begitu malu, bisa-bisanya dia tidur sampai sekebo itu sampai-sampai tidak ingat apa-apa.

__ADS_1


Abian hanya mengangguk. "Sebaiknya kamu mandi, supaya kita bisa keluar untuk makan siang."ucap Abian yang di jawab anggukan oleh Alina.


Alina beranjak dari tempat tidur, dan mulai berjalan menuju kamar mandi.


Setelah Alina siap mereka pergi menuju resort untuk mengisi perut mereka yang sudah terasa lapar.


Alina makan dengan begitu lahap, yang membuat Abian tersenyum melihatnya.


Kini mereka telah selesai menyantap makan siang mereka. "Mau jalan-jalan?"tanya Abian.


Alina mengangguk antusias sambil tersenyum.


Kini Abian, dan Alina pergi jalan-jalan ke sebuah pantai.


Alina begitu terpukau dengan pesona pantai beserta arsitektur kota Amerika yang kaya itu.


Alina mulai berlari kecil, dan mulai memainkan kakinya ke air pantai yang berwarna hijau toska itu.


Sesekali Alina juga memainkan air itu dengan tangannya, yang membuat Abian tersenyum melihat tingkah laku Alina yang terlihat bahagia.


Setelah di rasa puas berjalan-jalan, akhirnya Alina, dan Abian kembali ke hotel karena hari sudah semakin sore.


Alina menatap wajah sang suami seakan dia menanyakan mau di bawa kemana sebenarnya dirinya.


Abian hanya menganggukan kepalanya, sebagai jawaban dari tatapan istrinya itu.


Tanpa ragu lagi akhirnya Alina ikut bersama kedua pelayan wanita itu.


Alina telah siap dengan sebuah gaun warna hitam, dengan rambut panjang lurusnya yang terurai membuat Alina semakin terlihat cantik.


Alina keluar dari sebuah kamar, detik kemudian mata Abian langsung menatap Alina dari ujung kaki hingga ujung kepala.


Abian di buat terpesona dengan penampilan Alina malam ini.


Tak jarang mata Abian di buat tidak berkedip saat melihat Alina.


"Apa ada yang aneh?"tanya Alina karena mendapati suaminya yang terus memandanginya. Sekaligus pertanyaan Alina menyadarkan Abian.


"Oh, tidak! Bisa kita pergi sekarang?"tanya Abian gelagapan.

__ADS_1


"Kita mau pergi kemana?"tanya Alina yang penasaran sedari tadi.


"ikut saja, nanti juga kamu akan tahu."jawab Abian seraya tangannya dia posisikan supaya bisa Alina gandeng.


Abian membawa Alina ke sebuah meja makan yang sudah di penuhi dengan makanan yang begitu menggugah selera.


Tidak hanya itu, di sekeliling mereka juga banyak di penuhi dengan bunga, dan juga lilin-lilin yang menghiasi tempat itu, sehingga membuat tempat itu semakin indah, dan terlihat romantis.


"Ayo duduk!"pinta Abian pada Alina yang masih saja terlihat berdiri.


"Oh, iya,!"jawab Alina sambil tersenyum, detik kemudian Alina mulai menduduki sebuah kursi yang sudah di siapkan untuknya.


Mereka menikmati makan malam mereka dengan suasana yang benar-benar romantis.


"Oh iya aku punya sesuatu untuk kamu."ucap Abian seraya berdiri, dan mulai berjalan ke belakang Alina yang kini tengah duduk.


Abian memakaikan sebuah kalung ke leher Alina.


Tangan Alina langsung menyentuh kalung itu.


Kalung itu berinisial huruf A dengan simbol hati di tengah, dan di akhiri dengan huruf A lagi, yang berarti Alina love Abian.


"Simpan, dan jaga kalung itu baik-baik, karena kalung itu di desain khusus, jadi hanya ada satu kalung yang seperti itu di dunia ini."tutur Abian yang kini kembali duduk di kursinya.


Alina hanya mengangguk sambil tersenyum. Malam ini Alina begitu bahagia karena dia bisa merasakan cinta dari suaminya itu.


Mereka menikmati makan malam mereka dengan hati yang sama-sama merasakan kebahagiaan.


Setelah makan malam selesai, kini mereka berdua mulai kembali ke kamar hotel karena malam sudah semakin larut.


Terlihat Alina duduk di tepi ranjang, sedangkan Abian kini sedang berada di dalam kamar mandi.


Terlihat Alina membuang nafas berkali-kali, dengan mata yang sesekali menatap pintu kamar mandi yang tertutup di hadapannya saat ini.


Sampai akhirnya Abian pun keluar dari kamar mandi, yang membuat Alina semakin deg-degan di buatnya.


Abian mulai berjalan, dan mulai duduk di tepi ranjang di samping istrinya itu.


Meskipun ini bukan malam pertama mereka, tapi malam ini mereka ingin melakukanya dengan cara yang sama-sama sadar, dan ingin menjadikan malam ini sebagai malam yang tidak akan pernah bisa mereka lupakan dalam hidup mereka.

__ADS_1


__ADS_2