Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Es Mencairlah


__ADS_3

Tepat malam ini hujan lebat turun membasahi bumi. Malam yang semakin gelap di tambah petir yang sesekali menghiasi langit mendung malam itu terasa begitu menakutkan.


Zelia yang tengah memandang langit dari balik jendela kamarnya entah mengapa ingin sekali memandang gerbang dari tadi.


"Apa aku sedang mengharapkan dia ke sini menjemputku?" batin Zelia beradu.


"Bangunlah Zelia dia tak akan kesini!" pikiran Zelia yang lain menentang pertanyaan sebelumnya.


Di saat memikirkan hal itu mata Zelia menangkap sebuah mobil datang di depan gerbang rumah orang tuanya itu.


Andrew keluar dari dalam mobil dengan sebuah payung di tangan kirinya.


Wajahnya yang sedikit diterpa angin masih terlihat tampan, sejenak Zelia mengagumi ketampanan suaminya.


Hingga dia tersadar dia sedang marah pada suaminya itu.


Kedua mata Andrew tak sengaja bersitatap dengan mata Zelia. Namun hanya sejenak karena Zelia segera memalingkan wajah dan menutup tirai jendelanya.


Suara bel rumah berbunyi, Zelia tahu itu pasti Andrew. Namun dia masih tak ingin beranjak dari kamarnya.


Tepat di saat bel berbunyi, kedua orang tua Zelia tengah berada di ruang tamu. Dengan segera sang mommy membuka pintunya.


"Andrew?" panggil wanita itu sedikit terkejut dengan penampilan Andrew yang sedikit kacau. Mungkin karena memikirkan Zelia pria itu menjadi seperti itu.


"Mama, Zelia ada di sini kan?" tanya Andrew memastikannya kembali. Meski sebenarnya dia sudah melihat Zelia tadi.


"Ya dia di sini, ayo masuk dulu," ajak mama mertuanya.


Andrew mengangguk dan segera masuk ke dalam rumah, namun saat di ruang tamu dia mendapat tatapan tajam dari papa mertuanya.


"Papa," panggil Andrew.


"Duduklah!" perintah papa mertua Andrew yang bersikap dingin. Andrew perlahan menelan ludahnya. Dia merasakan aura tak menyenangkan dari kedua mertuanya.


Andrew akhirnya duduk di salah satu sofa keluarga itu. Tepat di depannya kedua mertuanya seperti hendak menghakiminya.


"Seperti suasana di pengadilan saja," batin Andrew sambil membenarkan kancing atas kemejanya yang sedikit mencekik lehernya.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ndrew sampai Zelia pergi ke sini sendirian?" tanya sang papa mertua.


Andrew sekali lagi menelan salivanya dengan susah payah.


"Tidak ada hal yang buruk kok pa, Andrew kemarin sangat sibuk jadi tak sempat mengantar Zelia," jawab Andrew.


Sang mommy sebelumnya pamit ke kamar Zelia untuk memanggilnya. Namun tak segera kembali. Andrew hanya bisa menunggu dalam kecemasan.

__ADS_1


Dady menatap dengan tajam ke arah Andrew, mengerti bahwa Andrew tak mau mengatakan yang sebenarnya tentang rumah tangganya.


Sebagai laki-laki memang pantang untuk menyebarkan aib rumah tangganya sendiri. Dan dady mengerti hal itu. Mungkin Andrew ingin menyelesaikan masalah mereka sendiri.


"Baiklah, ku rasa Zelia tak mau turun, pergilah ke kamar kalian," perintah dady.


"Makasih pa," Andrew segera beranjak dan berjalan ke arah kamar Zelia.


Sesampainya di depan kamarnya, sayup-sayup terdengar suara mommy yang tengah menasehati Zelia agar memberi kesempatan untuk Andrew sekali lagi.


Segera Andrew mengetuk pintu setelah sang mama mertua selesai bicara.


"Andrew," panggil mommy saat membuka pintu kamar itu.


"Ma boleh Andrew bicara dengan Zelia?" tanya Andrew.


"Iya, masuklah, kamu harus bisa menjaga emosimu ya," pinta mommy sambil menepuk pundak Andrew.


Pria itu mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar. Sedangkan mommy keluar dari kamar untuk memberikan waktu kepada keduanya.


"Zelia," panggil Andrew saat melihat istrinya itu sedang memandang ke arah luar jendela.


Zelia tak merespon apapun, meski sebenarnya dia tahu bahwa Andrew telah datang menemuinya.


Andrew menghela napas dalam. Tak mudah ternyata meluluhkan hati perempuan yang sedang tersakiti. Itulah pikiran Andrew saat menghadapi situasi saat ini.


Zelia masih diam, tapi dia mendengarkan ucapan Andrew.


Perlahan Andrew mendekati istrinya, dan perlahan pula dia memeluk tubuh Zelia dari belakang.


Zelia tak melawannya, tapi juga tak menyambutnya.


"Aku tak pernah menduakanmu Zelia, percayalah padaku."


"Jangan membual Ndrew, jika bukan mendua kenapa dia bisa hamil anakmu," ucapan pedas akhirnya keluar dari bibir Zelia.


"Itu bukan anakku Zelia, anakku hanya ada di dalam perutmu ini," ucap Andrew sambil mengelus perut Zelia.


Setetes air mata mengenai tangan Andrew, itu adalah milik Zelia.


Andrew lalu menghadapkan tubuh Zelia ke arahnya. Mendongakkan wajah wanita itu, lalu kedua ujung ibu jarinya menyapu air mata di pipi Zelia.


"Jangan menangis lagi," pinta Andrew.


"Aku kesini ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap Andrew setelah melihat Zelia kembali tenang.

__ADS_1


"Apa itu? jika hanya hal tidak penting sebaiknya kamu pergi saja!" ucap Zelia masih dingin.


Andrew mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Lalu dia menyerahkannya kepada Zelia.


"Apa ini?" tanya Zelia.


"Buka saja."


Zelia lalu meraih laptopnya dan memasukkan disk yang di berikan oleh Andrew. Hanya ada satu file di sana.


Zelia segera mengkliknya. Dan sebuah video rekaman Cctv segera terputar.


"Itu adalah rekaman saat aku di Singapura. Lihat dengan teliti. Liera sengaja ingin menjebakku dengan memberikan obat tidur ke dalam makanan itu," jelas Andrew kepada Zelia.


Zelia memperhatikan dengan seksama apa yang terekam di video itu.


Jelas sekali Liera memanfaatkan Andrew yang mulai terpengaruh obat tidur dengan membawa pria itu ke kamarnya. Sayangnya di dalam kamar tidak mungkin ada Cctv.


"Apa kamu yakin kamu tak melakukan apapun di dalam kamar itu?" selidik Zelia curiga.


"Aku berani bersumpah Zelia, aku benar-benar tertidur pulas malam itu karena obat tidur."


Andrew tampak pasrah dengan apa yang akan di ucapkan lagi Zelia. Jika wanita itu taj mempercayainya lagi. Entah bagaimana kedepannya bagi keluarga kecilnya.


Beberapa menit kemudian Zelia tersenyum. Lalu memeluk tubuh Andrew.


"Aku percaya padamu, maaf telah menuduhmu yang bukan-bukan."


Andrew tertegun sekaligus bahagia. Akhirnya es yang ada dalam diri Zelia mulai mencair. Dan berubah menjadi hangat kembali.


"Makasih sayang," Andrew membalas pelukan istrinya. Keduanya saling menguatkan saat ini.


"Tunggu!" ucap Zelia sambil mendongakkan wajahnya menatap Andrew.


"Ya kenapa sayang?" tanya Andrew.


"Kalau itu bukan anakmu, lalu anak siapa?" tanya Zelia penasaran.


Andrew hanya mengendikkan bahunya tak mau tahu hal itu.


"Tapi masalah ini belum selesai Ndrew, kita harus membongkar kedok Liera," usul Zelia.


"Tentu saja sayang, aku sudah meminta seseorang untuk mengikuti wanita itu. Serta mencari tahu siapa saya pria yang berhubungan dengannya akhir-akhir ini."


Zelia mengangguk dengan apa yang dijelaskan oleh suaminya. Satu masalah sudah teratasi. Tinggal sisa-sisa masalah yang harus mereka bersihkan secepatnya.

__ADS_1


Malam ini keduanya larut dalam melepas kerinduan selama ini. Andrew bahkan tak melepaskan pelukannya pada tubuh Zelia saat keduanya tidur.


__ADS_2