Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Sebuah Syarat


__ADS_3

Hingga malam tiba, Andrew bersama anak dan istrinya baru sampai di rumah Andrew yang berada di Inggris. Zelia segera menidurkan Arkan di kamarnya.


Setelah itu dia juga segera beristirahat karena besok mereka akan mencari Alea secepatnya.


Pagi harinya Andrew bersama Han tengah membicarakan rencana mereka. Beberapa saat kemudian Defin tiba di sana. Dia hanya sendiri tanpa Adel karena wanita itu memilih beristirahat saja di rumah.


Kondisinya tak memungkinkan untuk membantu Defin dan Andrew.


"Andrew, aku sudah mendapatkan informasi tentang siapa keluarga itu. Mereka adalah Wina dan Ardan, serta anak laki-laki mereka bernama Raffa. Wina dan Ardan adalah warga negara kita tapi mereka bekerja di sini."


Penjelasan Defin sangat membantu Andrew.


"Lalu dimana alamat tempat tinggal mereka saat ini?" tanya Andrew.


Zelia yang menggandeng Arkan berjalan ke arah mereka untuk bergabung.


"Zelia, kita sudah menemukan mereka," ucap Defin.


"Benarkah?" Zelia sangat antusias.


Defin mengangguk lalu mengeluarkan sebuah catatan kecil dari sakunya.


"Lihat ini adalah alamat yang di berikan oleh pihak rumah sakit padaku, aku belum sempat memeriksanya, tapi tak ada salahnya kita ke sana sekarang."


"Baiklah, sebaiknya kita bergerak cepat agar mereka tak pergi lagi!" Andrew tak mau seperti dahulu, dia harus bertemu dengan keluarga itu dan memastikan anak gadis yang bersama mereka adalah Alea.


Mereka segera berangkat ke alamat yang telah mereka ketahui.


Hari semakin siang, jalanan juga mulai ramai. Andrew dan rombongannya segera tiba di tempat tujuan mereka.


Hanya beberapa jam dari rumah mereka perjalanan di lalui. Kini Andrew dan semuanya sudah berdiri di depan rumah sederhana. Rumah yang di tempati oleh Ardan bersama keluarganya.


Zelia mulai mengetuk pintu, detak jantungnya tak beraturan saat tangan mulusnya menyentuh pintu itu.


Zelia tak sabar untuk bertemu dengan Alea, putrinya yang telah lama hilang.


Suara langkah kaki terdengar mendekat ke arah pintu. Beberapa saat kemudian suara khas pintu terdengar dan mulai terbuka perlahan.


Tampak seorang wanita keibuan yang cantik muncul dari balik pintu. Senyumnya merekah menyambut mereka.

__ADS_1


"Kalian siapa ya? Mau mencari siapa?" tanyanya lembut.


"Saya Andrew, dan ini istri saya. Bisa kah kami berbicara di dalam, ada hal penting yang ingin kami sampaikan?" ucap Andrew.


"Baiklah, silahkan masuk!" ajak Wina pada para tamunya, sebenarnya dia heran kenapa begitu banyak pengawal yang mereka bawa. Meski begitu para pengawal itu hanya menunggu di luar rumahnya.


Zelia, Andrew dan Arkan yang berada di gendongan Han ikut Wina masuk ke dalam rumah itu.


Langkah mereka terhenti tak kala di ruang tamu tampak gadis kecil yang mereka rindukan.


Zelia bahkan tak mampu membendung lagi air matanya. Dia berlari menghampiri Mona dan memeluknya. Wina dan Ardan yang berada di ruang itu tak mengerti apa yang terjadi.


"Alea," panggil Zelia memeluk Mona,bahkan Zelia menciumi kedua pipi gadis itu.


Rasa sesak di dada Zelia perlahan mulai terurai saat melihat Mona.


"Kalian siapa ya?" tanya Ardan yang dari tadi masih terdiam.


Andrew lalu memperkenalkan diri dan juga menjelaskan semua yang terjadi pada Alea, yang sekarang bersama Ardan itu adalah putri mereka yang terpisah.


Ardan dan Wina memperhatikan Mona dan Arkan dengan teliti. Sangat terlihat sekali bahwa keduanya memiliki paras yang sama. Hanya perbedaan di rambut mereka saja.


Penjelasan Ardan sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh Bram dahulu. Andrew mengerti tentang hal itu. Mungkin keduanya merasa takut karena tak sengaja terlibat dalam masalah Mona.


"Tidak masalah tuan Ardan, saya sebagai papanya Alea sangat berterima kasih karena kalian telah merawatnya dengan baik, kami sangat kehilangan beberapa tahun ini."


Dari balik pintu kamar Raffa mendengarkan semua pembicaraan orang tuanya dengan para tamu itu. Raffa merasa takut jika harus kehilangan Mona. Adik perempuannya itu, meski mereka tak terhubung dengan darah yang sama namun Raffa sudah sangat menyayanginya.


Wina dan Ardan tak sengaja melihat perubahan wajah putranya yang bersembunyi di balik pintu. Mereka tahu pasti berat bagi Raffa menerima ini.


Wina lalu mendekati Raffa dan mencoba menenangkan putranya. Keduanya lalu bergabung di ruang tamu.


Raffa berlari ke arah Mona dan memeluknya erat dari belakang. Sikap itu membuat Andrew dan Zelia bertanya-tanya.


"Maaf tuan mungkin putra saya sedikit tidak rela jika harus berpisah dengan Mona, tapi saya akan membujuknya," ucap Wina. Andrew dan Zelia mengangguk setuju.


"Aku gak mau pisah sama Mona, pa, ma!" ucap Raffa sambil memeluk erat Mona.


"Raffa kamu gak boleh gini, papa tahu kamu sudah sayang sama Mona, tapi lihatlah om dan tante ini. Mereka sudah empat tahun kehilangan Mona, apa Raffa tega membiarkan Mona tak bertemu keluarganya lagi?" tanya Ardan pada anaknya.

__ADS_1


"Tapi pa Mona adik Raffa," suara Raffa mulai bergetar, dia tak bisa menahan lagi tangisnya.


Arkan yang masih berada di gendongan Han meminta untuk di turunkan, dia lalu berjalan ke arah Raffa.Lalu membisikkan sesuatu ke telinga anak itu.


"Benarkah?" tanya Raffa pada Arkan.


"Benar, bagaimana kamu mau?" tanya Arkan.


"Baiklah, aku mau tapi kamu harus menjaganya ya!" raut wajah Raffa yang tadinya sedih berubah menjadi gembira. Para orang dewasa menjadi heran dengan apa yang di bicarakan oleh kedua anak itu.


"Tentu saja," jawab Arkan yakin. Entah ide apa yang di ucapkan anak itu, hingga bisa merubah Raffa secepat itu.


"Baiklah kalau kalian mau membawa Mona tidak masalah, tapi-" ucapan Raffa sengaja diputus oleh anak itu.


"Tapi apa?" tanya Andrew.


"Tapi Mona harus menjadi istriku kalau sudah dewasa nanti!" ucap Raffa lantang dengan kedua tangannya di lipat di depan dadanya.


Semua yang berada di sana ternganga tak percaya. Hanya Raffa dan Arkan yang tertawa puas. Bahkan Wina hampir saja pingsan mendengar ucapan putranya.


Bagaimana anak sekecil itu bisa membicarakan pernikahan sejak usianya masih dini. Ardan juga tak kalah terkejutnya. Dia berusaha menopang istrinya.


Sedangkan Zelia dan Andrew hanya tertawa kecil mendengar itu, mereka terkejut tapi mengerti apa yang di mau oleh Raffa.


Andrew lalu mendekat ke arah Raffa dan memegang kedua pundak anak itu.


"Kamu mau menjadi menantuku?" tanyanya.


Raffa mengangguk, dia sangat menyayangi Mona jadi dia mau bersama gadis itu selamanya.


"Boleh, tapi om mau kamu menjadi pintar dan sukses lalu Raffa bisa menemui Alea? bagaimana?" Andrew mengarahkan jari kelingkingnya ke arah Raffa.


Raffa lalu meraihnya dan tersenyum.


"Om gak akan menyesal menerimaku menjadi menantumu!" ucap Raffa seperti orang dewasa saja.


"Baiklah om mau buktinya, ok?" keduanya saling memeluk.


Wina yang setengah sadar hanya bisa menahan malu atas permintaan putranya itu. Alea seperti menjadi barang taruhan saja. Namun gadis itu hanya tersenyum tak terlalu mengerti dengan kesepakatan yang di lakukan oleh papa dan Raffa itu.

__ADS_1


__ADS_2