
Raffa tak berhenti memikirkan Alea. Sepanjang hari ini dia tak bisa menghubungi gadis itu.
Andai saja pekerjaannya tak menumpuk dia akan segera ke rumah gadis itu.
Sekarang dia tengah sibuk di ruang kerjanya. Raffa tak bisa berkonsentrasi karena memikirkan Alea.Percuma saja dia menatap lembaran pekerjaan itu. Pikirannya tak berada di tempat saat ini.
"Hah kenapa dia hadir terus di pikiranku!" gumam Raffa sambil menatap gawainya.
Dia hendak menghubungi gadis itu, tapi ragu untuk memulai.
"Gimana kalau dia ngira aku khawatir sama dia?alasan apa yang harus ku katakan?" batin Raffa sambil kembali meletakkan gawainya di atas meja.
Meski ragu akhirnya dia juga beranjak dari kursinya dan mengambil kunci mobil pria itu. Dia akan pergi menemui Alea. Entah benar atau salah tindakannya kali ini.
Raffa mengikuti kata hatinya. Dia tak mau jika Alea salah paham dengannya lagi. Tentang sikap Monic padanya kemarin malam.
Di sisi lain, Alea yang baru selesai membersihkan diri sedang berbaring di atas ranjangnya. Dia menatap layar ponselnya. Hanya ada beberapa pesan tak penting yang masuk di ponsel itu.
Tiba-tiba dia teringat oleh Raffa. Teringat pula tentang terakhir dia bertemu dengan pria itu yang membuatnya kesal.
Tiba-tiba sebuah panggilan masuk ke ponsel gadis itu. Tertera nama Monic di layarnya.
"Monic?" tanya Alea heran.
Tak biasanya gadis itu menghubunginya. Alea segera mengangkat panggilan itu.
"Halo," sapanya saat sambungan terhubung.
"Halo Alea, kamu ada waktu sore ini? Ayo kita pergi ke taman hiburan dekat kota?" ajak Monic di seberang panggilan.
__ADS_1
Alea ragu mau mengiyakan atau tidak ajakan Monic. Sebagai teman sekelas dia tak enak untuk menolaknya. Tapi dia tak ingin terlalu dekat dengan gadis milik Raffa itu.
"Alea, kamu masih disitu?" tanya Monic lagi karena tak mendengar suara Alea.
"Eh iya aku masih di sini Monic," jawab Alea.
"Bagaimana? bisa tidak kamu temenin aku. Please cuma kamu yang dekat denganku Alea?" mohon Monic.
"Hah bukankah ada si Raffa?" batin Alea setelah mendengar perkataan Monic.
"Baiklah-baiklah aku akan menemanimu," akhirnya Alea mengiyakan ajakan Monic. Meski enggan dia tak boleh membuat gadis itu tak memiliki teman.
"Benarkah? terima kasih Alea. Nanti aku ke rumahmu ya!" ucap Monic mengakhiri percakapan mereka di telepon.
"Iya," jawab Alea sebelum telepon mereka benar-benar terputus.
Alea hanya bisa menghela napas panjang. Mungkin ini saatnya dia mencari tahu tentang hubungan Monic dan Raffa. Entah alasan apa yang bisa dia berikan kepada dirinya saat ini. Kenapa dia harus mencari tahu hubungan mereka.
Di taman hiburan dua anak manusia tengah asik dengan beberapa permainan di sana. Mereka adalah Mila dan Reihan. Keduanya tampak menikmati kebersamaan itu.
"Hah udah lama banget ya kak kita gak ke sini?" ucap Mila.
"Iya, terakhir pas kamu masih ingusan," jawab Reihan. Mila langsung memukul lengan pria itu.
"Enak aja, siapa yang ingusan. Kakak kali!" sanggah Mila.
"Mana ingat kamu!" jawab Reihan tak mau kalah.
Keduanya asik bercengkrama. Namun keduanya tiba-tiba terhenti saat melihat Alea bersama salah satu teman sekelas kakaknya itu. Reihan belum terlalu mengenalnya.
__ADS_1
"Kak Alea," panggil Mila sambil melambaikan tangannya.
"Mila,kamu di sini juga."
"Iya kak, ini pasti teman sekelas kalian kan?" tanya Mila pada Monic.
"Hai aku Monic, kamu siapanya Reihan?" tanya Monic.
"Hai kak Monic aku adiknya." Mila bergelayut manja di lengan Reihan.
"Ngapain kamu di sini?" tanya Reihan dengan malas pada Alea. Lagi-lagi dia bertemu dengan gadis yang membuatnya kesal itu lagi.
"Emangnya gak boleh main ke sini, lagian tempat ini bukan milik nenek moyangmu kan?" Alea menatap benci pada Reihan.Begitu pula dengan pria itu.Keduanya saling beradu pandang, seolah ada petir diantara keduanya.
"Udah-udah ngapain sih kalian berantem lagi. Mending kita main bareng yuk!" ajak Mila pada kedua orang tersebut.
"Betul, makin banyak orang makin seru deh!" tambah Monic.
"Nggak!" Reihan dan Alea kompak menjawab. Membuat Mila dan Monic terdiam heran sekaligus terkejut.
Akhirnya setelah perdebatan panjang. Alea dan Reihan di tarik paksa oleh Monic dan Mila untuk mengikuti mereka.
Sedangkan di depan rumah Alea. Raffa tengah berdiri menunggu gadis itu pulang. Arkan telah memberitahunya bahwa Alea sedang keluar bersama Monic.
"Kak Raffa masuk aja dulu,nanti juga tuh anak pulang kok!" ajak Arkan pada Raffa.
"Gak apa-apa Ar, kakak nunggu di sini aja. Lagian sambil menikmati angin malam," jawab Raffa. Keduanya tengah duduk di depan rumah.
"Ya udah deh Arkan temenin kakak," jawan Arkan.
__ADS_1
"Makasih ya," Raffa merasa tersentuh ternyata keluarga Andrew Tan menerimanya dengan baik. Terlepas dari perjanjian pernikahan antara dirinya dan Alea. Bagi Raffa mereka adalah keluarga yang sempurna di matanya. Pria itu berharap bisa menjadi bagian dari keluarga Tan suatu hari nanti.