
Setelah rasa kesal yang menghampiri Alea ketika melihat Monic dan Raffa tadi. Alea kini sudah berbaur dengan keluarganya kembali.
Dan tiba waktunya untuk Alea dan Arkan meniup lilin kue ulang tahun mereka di tengah gemerlapnya lampu yang telah di siapkan untuk pesta keduanya.
Para teman dan undangan saling memberi selamat untuk Alea dan Arkan. Banyak doa dan kado untuk keduanya.
Saat acara pemotongan kue. Raffa dan Monic berdiri di dekat Alea. Keduanya antusias mengikuti pesta itu. Berbeda dengan hati Alea yang sesungguhnya. Meski bibirnya tersenyum, namun hatinya tengah menahan kesal jika melihat keduanya.
"Ayo potong kuenya Alea dan Arkan!" pinta pembawa acara di pesta itu.
Alea dan Arkan bersamaan memotong kue mereka masing-masing. Keduanya lalu menaruh potongan kue pertama itu di piring kue.
Keduanya hendak memberikan potongan kue itu untuk seseorang yang spesial untuk keduanya.
Arkan memberikan potongan kue pertamanya untuk Zelia, mamanya. Sedangkan Alea masih bingung memberikan untuk siapa.
Di saat kebingungannya, entah kenapa kakinya berjalan ke arah Andrew dan Raffa yang berdiri bersampingan. Alea menatap keduanya. Dia hendak memberikan kue itu kepada papanya.
Namun hal tak terduga terjadi. Kaki Alea tanpa sadar berdiri di depan Raffa dan menyerahkan potongan kue itu untuknya.
Menyadari kesalahannya, Alea segera berjalan menjauh dari Raffa. Sedangkan untuk Andrew yang telah diabaikan anaknya hanya bisa menggeleng pelan.
Sepertinya saat ini gadis kecilnya sudah mulai beranjak dewasa. Andrew memaklumi itu,dia juga pernah muda dahulu.
Alea sudah berada di posisinya kembali. Semua orang bertepuk tangan untuk keduanya.
Pesta kemudian berlanjut dengan acara makan-makan bersama para tamu dan teman-teman Arkan dan Alea.
Monic mendekati Alea dan memberikan sebuah kado untuk gadis itu.
"Alea, ini dari ku, kamu terima ya," ucapnya sambil menyerahkan sebuah kotak kecil yang di bungkus rapi dari luarnya.
"Makasih ya Monic," terima Alea.
Setelah itu Monic ikut berbaur dengan Arkan dan teman-temannya. Alea memperhatikan gadis itu.
Bagaimana Monic dengan mudah bergaul dengan orang-orang yang baru dia kenal.Alea bahkan iri melihat gadis itu.
Dia merasa sangat sulit untuk bergaul apalagi dengan banyak pria. Sebagai saudara perempuan satu-satunya, Alea terlalu di batasi oleh sang kakak dan adiknya.
__ADS_1
"Dunia gak adil sekali, lihatlah bahkan tak ada pria yang mendekatiku saat ini," gerutu Alea di dalam hatinya.
Bahkan Alea melihat bagaimana akrabnya Monic bercanda dengan Raffa. Keduanya bahkan tertawa bahagia.
Merasa ada yang memperhatikannya, Raffa segera menoleh ke arah Alea. Gadis itu langsung membuang muka, saat tatapan mereka bertemu.
Hingga akhir pesta,Alea masih duduk di kejauhan. Lebih tepatnya dia menikmati pemandangan di langit dari taman belakang rumahnya. Tanpa seorangpun tahu.
Sesekali menghela napas panjang, saat mengingat Raffa dan Monic yang sangat dekat.
"Apa aku sedang cemburu? Tapi kenapa aku harus cemburu?" batin Alea masih sambil menatap bintang di langit.
Raffa yang belum pulang, mencoba mendekati Alea. Duduk di samping gadis itu tanpa Alea sadari.
"Gak mungkin aku cemburu! teriak Alea tanpa sadar bahwa Raffa tengah memperhatikannya.
"Kamu cemburu sama siapa?" tanya Raffa.Membuat gadis itu terkejut.
"Kamu ngapain disini?" tanya Alea tanpa menjawab pertanyaan pria itu.
"Lagi nemenin kamu," jawab Raffa.
"Cemburu sama siapa?" tanyanya lagi.
"Galak amat sih jadi cewek!" Raffa mendekatkan wajahnya pada Alea. Gadis itu memundurkan badannya.
"Ka-kamu mau apa?" tanya Alea.
Raffa masih saja tak menghentikan tingkahnya. Seketika itu Alea memejamkan matanya. Dia tengah berfikir bahwa pria di sampingnya itu hendak menciumnya.
"Ngapain sih tutup mata gitu, lagi ngarepin aku cium kamu ya?" goda Raffa sambil tersenyum geli.
Alea langsung saja membuka matanya. Rasa kesalnya semakin bertambah karena dia sekali lagi mendapatkan keisengan dari Raffa.
"Dasar mesum!" Alea mendorong tubuh Raffa agar menjauh darinya.
"Biarin!" jawab Raffa santai. Dia lalu menunjukkan sesuatu pada Alea.
"Nih buat kamu!" ucap Raffa sambil menyerahkan boneka beruang kecil berwarna cokelat ke Alea.
__ADS_1
Dengan ragu Alea menerimanya.
"Jangan lihat ukurannya,atau harganya. Aku sengaja ngasih ini biar kamu ingat aku. Kalau kamu kangen bisa lihat boneka ini. Maka wajahku akan muncul di sana," ucap Raffa dengan penuh percaya diri.
"Siapa juga yang bakalan kangen kamu!" Alea kesal, namun dalam hati dia merasa senang. Entah kenapa itu bisa dia rasakan kali ini.
Belum sempat Raffa membalas ucapan Alea, Monic tiba-tiba datang mencarinya.
"Kak Raffa ayo pulang!" ajak Monic.
"Eh Alea, maaf ya aku pinjam kak Raffa nya dulu."
Monic lalu menggaet tangan Raffa, menarik pria itu agar segera berdiri.
"Iya gak apa-apa kok!" jawab Alea.
"Kak aku bareng kak Raffa ya, udah malam banget gak berani naik taksi online deh!" pinta Monic.
"Emang kalian tetanggaan ya?" tanya Alea tak tahu.
"Alea kamu belum tahu ya, apartemen kami kan bersebelahan," jawab Monic.
Seketika membuat Alea berpikir macam-macam.
"Oh gitu ya."
"Iya, ya udah yuk kak kita pulang," ajak Monic lagi. Gadis itu bahkan sengaja bermanja di lengan Raffa. Pria itu manjadi tak nyaman dengan tingkah Monic.
"Aku pulang dulu ya," pamit Raffa.
Alea hanya menganggukkan kepalanya sebelum keduanya pergi meninggalkan Alea.
Lagi-lagi Alea meneteskan air mata. Dia segera berlari ke kamarnya.
Dari atas balkon, Arkan memperhatikan adiknya. Dia hanya bisa menghela napas dalam.
"Jatuh cinta memang menyakitkan!" gumam pria itu.
Alea yang kesal segera menutup pintu kamarnya. Ditangannya masih ada boneka beruang dari Raffa.
__ADS_1
Dia menatapnya sekilas, lalu membuang boneka itu ke dalam tong sampah di dekat meja belajarnya.
"Dasar cowok playboy!" ucap Alea kesal. Dia lalu berbaring di atas ranjang. Menangis tanpa tahu sebab pastinya. Hingga dia tertidur karena lelah menangis.