
Zelia dan Arkan kini sedang berada di dalam mobil. Keduanya menuju ke rumah mereka. Di perjalanan Arkan tak berhenti memikirkan sesuatu.
Zelia yang melihat tingkah Arkan hanya tertawa geli. Bagaimana mungkin anak usia empat tahun bisa berfikir seserius itu. Dia menjadi memikirkan Andrew waktu kecil dahulu.
"Pasti sama seperti anaknya saat ini," batin Zelia.
"Arkan," panggil Zelia, Arkan lalu menoleh ke samping.
"Ya ma," jawabnya.
"Lagi mikirin apa sih?" tanya Zelia sambil mencoel pipi Arkan.
"Lagi mikirin anak perempuan tadi ma," jawab Arkan. Zelia mengkerutkan dahinya, baru kali ini putranya tertarik dengan anak perempuan.
"Kenapa dengannya?" Zelia memasang wajah serius.
"Dia memiliki raut wajah yang sama dengan Arkan," dari wajah putranya,Zelia melihat bahwa Arkan meminta pendapat mamanya.
Zelia lalu mengingat lagi wajah anak perempuan yang tadi di toko bunga Alena. Tinggi, warna kulit, warna mata serta usianya yang mungkin sebaya dengan Arkan.
"Iya mama baru sadar dia mirip denganmu nak," jawab Zelia.
"Apa dia Alea ma?"
Zelia tertegun, kenapa dia tadi tak menyadari hal itu, kemiripan mereka hampir delapan puluh persen. Meski rambut gadis itu lebih panjang dan sedikit bergelombang.
Tubuh anak gadis itu sedikit lebih kurus daripada Arkan. Menyadari hal itu Zelia tiba-tiba memutar setir mobilnya, dia berbalik ke arah dimana toko itu berada.
"Mama kok balik lagi?" tanya Arkan.
"Mama mau memastikan kalau anak itu mungkin Alea nak," jawab Zelia.
Arkan hanya diam dan menikmati pemandangan di sepanjang jalan yang mereka lewati.
Tak perlu waktu lama untuk Zelia mencapai toko bunga milik temannya itu. Dia segera turun dari mobil dan berjalan ke toko itu, tak lupa dia menggendong Arkan agar cepat sampai di tempat yang ditujunya.
Alena yang melihat Zelia kembali ke tokonya segera mendekati wanita itu.
"Zelia apa ada yang tertinggal?" tanya Alena.
__ADS_1
"Tidak, tapi dimana anak perempuan tadi?" Zelia mengedarkan pandangannya, tapi tak menemukan Mona.
"Mona maksud kamu?" tanya Alena, Zelia mengangguk mengiyakan.
"Mona sudah pulang bersama papanya, ada apa mencarinya Zelia?" tanya Alena.
Zelia lalu menceritakan perihal anak perempuannya yang telah di culik oleh seseorang sejak tiga tahun yang lalu. Alena yang mendengarkan ikut merasakan kesedihan yang di alami Zelia.
"Aku turut berduka Zelia, apa yang kamu alami pasti sangat membuatmu menderita," ucap Alena sambil memeluk sahabatnya itu.
"Ya aku tak apa-apa Alena, hanya saja aku masih berharap dia kembali dan setelah melihat gadis itu sepertinya dia memiliki kemiripan dengan Arkan."
Alena lalu memperhatikan Arkan dan membandingkan dengan wajah Mona yang setiap hari dia lihat.
"Mona memang mirip dengan Arkan," gumam Alena.
"Kamu tahu dimana rumahnya Alena?" tanya Zelia.
"Aku tahu,aku akan memberitahumu," Alena menulis sebuah alamat di selembar kertas lalu memberikannya kepada Zelia.
"Ini alamatnya, semoga kamu bisa menemukan putrimu," ucap Alena sambil menyerahkan kertas tadi.
"Sama-sama Zelia."
Alena tersenyum mengantar Zelia ke arah pintu keluar toko bunganya. Dia juga berfikir hal aneh tentang karyawannya yang tiba-tiba pamit pulang lebih cepat dari biasanya.
"Apa ada yang di sembunyikan Bram dariku ya? siapa sebenarnya Mona?" tanya Alena pada dirinya sendiri. Jelas itu tak ada jawaban yang akan dia terima.
Zelia bergegas mencari alamat yang di berikan oleh Alena kepadanya. Tak lupa sebelumnya dia memberi kabar kepada Andrew jika menemukan seorang anak yang mirip dengan Arkan.
Andrew yang mendapatkan kabar itu segera menuju ke alamat yang di kirimkan oleh Zelia.
Zelia yang lebih dulu sampai di alamat itu segera mencari sosok Mona, tapi rumah itu sepertinya tak ada yang menghuninya.
Andrew yang telah datang segera mendekati Zelia.
"Bagaimana sayang?" tanya Andrew.
"Ini alamatnya Ndrew, aku udah mengetuk pintu, tapi tak ada yang membukanya."
__ADS_1
Andrew yang melihat seorang ibu tetangga rumah itu pun menanyainya.
"Maaf bu, dimana ya pemilik rumah ini?" tanya Andrew.
"Oh rumah ini baru saja kosong nak, penghuninya baru aja pergi," jawab ibu itu.
"Pergi kemana ya bu?" tanya Zelia.
"Wah kalau itu saya kurang tahu," jawab ibu itu sambil menggelengkan kepalanya.
"Siapa ya nama penghuni rumah ini bu?" tanya Zelia lagi.
"Nama pemilik rumah ini Bram non, apa kalian mengenalnya?"
Zelia dan Andrew terkejut dan saling memandang satu sama lain setelah mendengar nama itu di sebut.
"Bram?" tanya Andrew memastikannya kembali.
"Ya den," jawab ibu itu dengan yakin.
"Terima kasih bu sebelumnya,"Andrew memutuskan untuk segera kembali ke rumah mereka.
"Jadi Bram belum meninggal?" tanya Zelia pada Andrew.
"Aku juga tak tahu apa yang dahulu terjadi sayang, jika yang terbakar itu bukan Bram lalu siapa?"
"Bukan itu masalahnya saat ini Ndrew, jika memang itu Bram, apa benar dia yang menculik Alea?" Zelia memikirkan kemungkinannya.
"Apa benar gadis kecil itu mirip dengan Arkan?" tanya Andrew. Zelia mengangguk.
"Tanya saja pada Arkan?"
"Ya papa dia mirip sekali denganku," Arkan yang sedari tadi hanya mendengarkan akhirnya membuka mulutnya.
"Tapi sekarang kita tak tahu dimana mereka?" Zelia merasa kecewa.
"Tenanglah aku akan menghubungi Flo dan juga Han, biarkan mereka mencari tahu keberadaan keduanya."
Setelah mengatakan hal itu Andrew segera menghubungi Han dan juga Flo. Keduanya di beri tugas untuk mencari keberadaan Han dan juga gadis yang dibernama Mona itu.Zelia sangat berharap jika Mona itu adalah Alea, putri kecilnya.
__ADS_1