Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Titik Temu


__ADS_3

Andrew dan Zelia serta Arkan tengah sarapan di meja makan. Ketiganya menikmati makanan mereka. Sesekali Zelia menatap ke arah suaminya. Entah mengapa Andrew terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Sayang," panggil Zelia saat ketiganya selesai sarapan.


"Ya kenapa sayang?" tanya Andrew.


"Sepertinya ada masalah yang sedang mengganjal di pikiranmu?" tanya Zelia.


"Ya tapi bukan masalah besar. Hanya masalah pekerjaan saja."


"Jangan terlalu lelah deh, aku gak mau kamu jatuh sakit."


"Makasih sayang udah perhatian gini, oh ya udah siang aku berangkat kerja dulu ya," pamit Andrew. Zelia mengangguk lalu mencium punggung tangan suaminya. Arkan juga begitu. Sedangkan Andrew tak lupa memberi kecupan di pipi keduanya.


Sebenarnya bukan masalah pekerjaan yang sedang Andrew pikirkan, namun tentang Bram yang kemungkinan terlibat dalam penculikan Alea. Andrew tak ingin memberitahukan masalah itu terlebih dahulu pada istrinya.


Karena Andrew tak ingin Zelia banyak pikiran, meski Zelia tampak kuat. Andrew tahu sebenarnya dia adalah wanita yang sangat lemah jika berurusan dengan putri kecil mereka.


Sebelum semuanya jelas, Andrew tetap akan menyembunyikan masalah itu.


Saat sampai di kantor, Han yang sudah tiba terlebih dahulu segera menghampiri Andrew. Dia ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting kepada bosnya itu.


" Selamat pagi tuan," sapa Han.


"Pagi juga Han, bagaimana perkembangannya?"


"Tuan, saya mendapat kabar bahwa nona Liera dan Bram kembali ke kota," ucap Han.


"Bagaimana dengan Alea, apa benar mereka membawa anak gadis yang mirip dengan Arkan?" tanya Andrew penasaran.


"Keduanya pergi ke kota secara terpisah dan tak ada anak gadis di samping mereka tuan," jawab Han.


"Usahakan tangkap Bram terlebih dahulu, aku yakin dia pasti pelakunya!" perintah Andrew.


"Baik tuan."


Han segera bertindak, dia menghubungi para anak buahnya untuk segera menyergap Bram.

__ADS_1


Bram yang saat ini tengah beristirahat di apartemennya tak merasakan keanehan apapun, karena sebenarnya dia tengah di awasi oleh anak buah Han.


Bel apartemennya berbunyi, Bram segera beranjak dari ranjangnya ketika mendengarnya. Saat di buka pintunya, Bram di buat terkejut karena sebuah pistol di tujukan tepat ke arah kepalanya.


"Menyerahlah!" teriak seseorang dari mereka.


Bram tak bisa berkutik, dia hanya bisa mengangkat kedua tangannya. Jika dia melawan dia akan mati di tempat saat ini.


Lebih baik mengikuti kemauan mereka terlebih dahulu, jika ada kesempatan dia akan meloloskan diri.


"Cepat jalan!" teriak seseorang yang membawa pistol, sebelum meminta Bram untuk jalan keluar apartemennya. Kedua tangan pria itu terlebih dahulu di ikat ke belakang.


Dia lalu di bawa ke sebuah rumah kosong milik keluarga Tan. Bram tahu siapa dalang dari semua ini. Tapi dia tak memiliki kekuatan apapun jika melawannya.


Bram di ikat pada sebuah kursi, kedua kaki dan tangannya juga begitu. Suara langkah kaki mendekat ke arahnya. Sosok pria muncul di depan Bram dengan sikap dinginnya.


"Aku tahu kamu masih hidup Bram," dari suaranya Bram tahu itu adalah Andrew.


Bram tersenyum tipis, dari tatapan kedua matanya terlihat jelas kebencian Bram pada Andrew.


"Ya, aku tak akan membuang waktu lagi. Katakan dimana putriku!" Andrew mulai mengintimidasinya. Bram tak menunjukkan sedikitpun rasa takut.


"Aku tak tahu apa yang kamu bicarakan," jawab Bram santai.


Andrew tak puas dengan jawaban pria di depannya itu.


"Aku tanya sekali lagi. Dimana putriku yang kamu ambil?" kali ini Andrew lebih tegas dari sebelumnya.


Bram tak menjawab, dia hanya diam saja sambil memikirkan sesuatu.


"Jawab!" teriak Andrew sambil melempar pisau ke arah Bram. Untungnya bukan kepala Bram yang kena. Tapi tembok samping yang sejajar dengan telinganya.


"Kamu sudah membunuh anakku, bukankah itu pantas kamu dapatkan saat ini. Kehilangan salah satu anakmu sama sepertiku." Ucapan Bram bagaikan sambaran petir bagi Andrew.


Andrew mendekati pria itu dan memukul rahangnya. Satu kali mengenainya, Bram hanya meringis kesakitan. Dua kali mengenainya, Bram sampai terjatuh bersama kursi yang didudukinya.


Andrew lepas kendali. Dia benar-benar marah jika memang Bram telah menculik anaknya. Maka dia harus melampiaskan kemarahannya pada pria itu.

__ADS_1


"Dimana dia sekarang?" tanya Andrew lagi.


Namun raut wajah Bram yang semula tak takut sama sekali dengan Andrew, kini berubah menjadi murung.


"Aku kehilangan dia, saat dia di hutan."


Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Bram. Andrew sekali lagi memukul pria itu.


"Apa yang terjadi hah!"


"Tenanglah aku akan menceritakan semuanya." Bram mencoba menenangkan Andrew.


"Katakan, jika sampai kamu membohongiku, pisau itu aku pastikan mengenai kepalamu!" ucap Andrew mulai sedikit tenang kembali.


"Awalnya aku memang marah denganmu dan juga istrimu. Karena kalian telah membuat anakku tak sempat hadir di dunia ini. Aku marah dan mengambil putrimu. Awalnya aku ingin membunuhnya, tapi entah mengapa aku tak bisa. Aku malah merawatnya seperti anakku sendiri. Dari situ aku mulai merasakan kasih sayangku untuknya. Tapi saat kami bersembunyi, entah kenapa Liera membawanya ke hutan hari itu. Dan aku kehilangan jejaknya di sana."


Andrew tak tahu lagi harus bagaimana, dia ingin sekali membunuh pria di hadapannya itu. Tapi dia masih punya hati nurani dan tak bisa melakukan hal itu.


"Aku tahu aku salah, jika kamu ingin membunuhku. Silahkan kamu lakukan sekarang Ndrew."


Bram pasrah jika itu pilihan yang baik. Dia menyesal telah membuat Mona berada dalam bahaya saat bersamanya. Bram yang berfikir Liera akan berubah, ternyata wanita itu masih sama jahatnya.


Andrew tak merespon apapun, dia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Dan lagi dia memukul Bram sampai babak belur. Beberapa luka lebam sukses memenuhi wajahnya.


"Terlalu mudah bagimu jika aku bunuh sekarang,kamu harus merasakan bagaimana sebuah siksaan untuk melewati hari-harimu!" setelah mengucapkan hal itu, Andrew yang sudah di luar kendali meninggalkan Bram.


Jika di teruskan mungkin Abnrew akan menjadi seorang pembunuh. Dia tak ingin Zelia menangis karena memikirkannya. Yang terpenting saat ini dia harus mencari keberadaan putrinya di hutan.


Andrew segera memberitahu Han untuk menyisir hutan yang telah di sebutkan oleh Bram sebelumnya.


Apapun akan Andrew lakukan untuk menemukan putrinya. Sudah hampir mendekati titik temu. Namun kenyataannya Andrew kehilangan jejaknya lagi.


"Alea sayang, dimana pun kamu papa harap kamu baik-baik saja. Papa akan selalu mencarimu sampai kapanpun itu." batin Andrew.


Dia lalu memutuskan pulang terlebih dahulu malam ini untuk memberitahu istrinya. Zelia perlu tahu apa yang terjadi agar dia tak marah di kemudian hari padanya.


Penantian wanita itu tak pernah berujung. Dia selalu berharap bahwa Alea akan segera di temukan dan berkumpul dengan keluarga kecil itu lagi.

__ADS_1


__ADS_2