
Seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun tengah berdiri di depan pintu ruang operasi sebuah rumah sakit. Dia menatap nanar pintu itu.Berharap anak gadis yang masuk tadi bisa selamat saat keluar nanti.
Dia adalah Reihan. Dari ujung koridor tampak seorang berusia sama dengannya berlari menghampiri Reihan. Tepat ketika remaja itu di depannya. Dia harus mendapat satu pukulan di rahangnya.
Reihan tahu dia pantas mendapatkan hal itu. Dialah penyebab gadis yang saat ini sedang kritis dan berada di ruangan dengan penuh peralatan medis itu menderita.
"Apa yang kamu lakukan hah! Kamu janji akan menjaganya tapi apa nyatanya!" teriak Arkan. Ya remaja itu adalah Arkan.
"Aku minta maaf,aku gak nyangka semuanya bakal seperti ini!" ucap Reihan memohon ampun.
"Harusnya aku tak mempercayakan dia padamu, aku pikir dia akan bahagia dan aman saat bersamamu. Ternyata semuanya salah!" Arkan semakin geram. Dia tak bisa mengendalikan lagi amarahnya.
Reihan teringat kembali dengan senyuman gadis itu.Gadis pertama yang membuatnya jatuh cinta. Dengan keceriaan gadis itu dia bisa merasakan kenyamanan saat bersamanya. Livinda Arsinta gadis manis satu kelas dengan Reihan dan Arkan.
Gadis periang yang menjaga persahabatannya dengan Arkan. Bahkan dia harus meminta izin saat dia menyukai Reihan. Meski dengan berat Arkan mengizinkannya, tapi Arkan selalu mendukungnya.
Namun kini semua seolah terenggut begitu saja. Saat satu jam yang lalu Reihan membawanya berkendara. Dengan usianya yang masih belia, remaja itu nekat membawa motor sendiri dan membonceng Vinda.
Tapi semuanya berubah, saat motor yang di kendarai Reihan telah di serempet seseorang dengan mobil dan orang itu Rei mengenalnya. Tapi Rei tak bisa berbuat apapun.
Vinda jatuh terlebih dahulu dan mengalami pendarahan hebat di kepalanya. Sedangkan Reihan hanya mengalami luka-luka di tubuhnya.
Rei tahu bagaimana pun Arkan pasti sangat marah dengan hal ini. Vinda adalah teman masa kecilnya. Mereka sering menghabiskan waktu bersama.Tapi kini gadis itu tengah berjuang untuk nyawanya.
__ADS_1
Keduanya kini tengah menunggu di depan ruang itu. Arkan tak berhenti berjalan ke sana kemari. Dia sudah memberi tahu kedua orang tua Vinda.
"Arkan, bagaimana keadaan Vinda?" tanya ibu Vinda yang baru datang dengan langkahnya yang tergesa-gesa. Di samping wanita itu ada suaminya yang juga sangat khawatir dengan putri mereka.
"Om tante, Vinda masih di tangani dokter!" jawab Arkan.
Sang ayah melirik ke arah Reihan, dia lalu mendekati remaja itu.
"Ini semua pasti gara-gara kamu kan? Saya sudah bilang jangan dekati Vinda! Tapi kamu masih saja mendekatinya!" ucap ayah Vinda mengintimidasi kesalahan Reihan.
"Maaf om saya tidak berniat membuat Vinda celaka," jawab Reihan takut.
"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk dengannya, kami akan menuntut mu!" ucap ayah Vinda lagi.
Pintu ruang operasi terbuka,seorang dokter keluar dari sana. Dia segera menyampaikan sesuatu kepada keluarga Vinda.
"Dokter bagaimana keadaan anak saya?" tanya ibu dari gadis itu.
"Maaf nyonya,anak anda sudah meninggal. Dia terlalu banyak kehilangan darah! Kami sudah berusaha sebaik mungkin," jawab dokter itu serasa bagikan petir bagi mereka yang mendengarnya.
Reihan langsung terduduk lemas di lantai. Dia seperti kehilangan separuh nyawanya. Begitu pula dengan yang lain. Mereka menangis tak percaya bahwa Vinda telah pergi. Pergi untuk selamanya.
Pok!
__ADS_1
Sebuah tepukan menyadarkan Reihan tentang masa itu yang telah berlalu.Tiga tahun sudah kejadian itu telah mengubah hidup dan pribadinya.
Reihan yang dulu penurut menjadi tak terkendali seperti sekarang. Dia merasa bersalah dengan keluarga Vinda.
Dan salah satu alasan persahabatannya hancur itu juga karena kesalahannya. Arkan membencinya karena dia telah membuat sahabatnya pergi untuk selamanya.
Tapi Reihan juga terluka, dia lebih sakit dari siapapun.Di saat dia baru merasakan jatuh cinta seketika itu juga Tuhan telah mengambil dia untuk selamanya.
"Mikirin dia lagi?" tanya Mila seolah tahu apa yang sedang ada di pikiran kakaknya.
"Ya,kakak masih merasa bersalah, kalau saja kakak gak ajak dia.Pasti dia masih hidup sampai sekarang, dan kejadian itu tak akan terjadi," sesal Reihan.
"Kak jangan nyalahin diri sendiri terus.Semua sudah takdirnya kak Vinda. Kak Reihan gak boleh terus menerus terbebani!" Mila tak kuat jika melihat kakaknya terus terpuruk.Meski sudah berlalu selama tiga tahun. Tapi sang kakak tak pernah berhenti memikirkan kejadian itu.
Mila merasa kasihan dengan kakaknya. Tapi memang tak mudah untuk melupakan seseorang yang telah berada di hatinya.
"Ya kakak akan mencoba nya Mila," jawaban yang selalu Mila dengar setelah kakaknya selesai melamun. Tapi tak pernah terwujud sampai sekarang.
"Mila akan membantumu kak, pasti kakak bisa bangkit dari ini semua."
Mila telah berjanji dalam hati untuk membantu kakaknya.Besok adalah waktu yang tepat untuk memulai. Karena dia mendapat informasi ternyata kakaknya Alea tahu tentang kejadian itu.
Mila akan meminta kak Alea untuk memperkenalkan dirinya pada kakaknya. Semoga saja semua berjalan dengan baik.
__ADS_1