Terpaksa Menikah Muda

Terpaksa Menikah Muda
Season Two : Gaun Itu


__ADS_3

Raffa yang baru saja sampai di depan apartemennya, setelah mengantar Alea pulang ke rumah gadis itu.Dia hendak masuk ke dalam apartemen.


Tak sengaja Monic melihat pria itu. Dia lalu menghampirinya.


"Kak Raffa!" teriak Monic. Raffa lalu menengok ke arah suara yang memanggilnya.


"Monic?" gadis itu sudah berjalan ke tempat Raffa berdiri.


"Baru pulang kak?" tanya Monic ramah.


"Ya tadi kebetulan ada perlu jadi keluar sampai jam segini." Jawab Raffa sekenanya. Dia hendak masuk ke dalam apartemennya namun Monic tiba-tiba menghentikan langkah pria itu.


"Eh kak, apaan ini?" tanya Monic sambil menggapai paper bag yang di bawa oleh Raffa.


"Ini," belum juga Raffa mengatakan apa isi di dalam paper bag itu, Monic sudah merebutnya.


"Ya ampun kak, gaun nya cantik banget," ucap Monic. Raffa hanya bisa menggaruk tengkuknya.


Gadis di depannya ini masih saja tak berubah. Sikapnya masih sama seperti dahulu saat mereka bersama.


"Buat siapa kak?" tanya Monic.


"Itu buat kado sih," jawab Raffa.


"Kado buat aku ya kak,hari ini kan aku ulang tahun," ucap Monic.


Dan serasa dunia bergetar seketika mendengar ucapan Monic. Raffa bahkan tak ingat jika hari ini ulang tahun gadis nakal itu.


Ingin mengatakan bahwa gaun itu bukan untuknya. Raffa takut membuat Monic kecewa karena dia melupakan hari ulang tahun gadis itu.


Tapi jika Raffa memberikan gaun itu, bagaimana tentang kado yang akan dia berikan buat seseorang yang spesial itu.


"Eh gitu ya, kalau kamu mau. Ambil aja gak apa-apa kok," Raffa terpaksa merelakan gaun itu untuk Monic.


"Makasih ya kak," Monic reflek memeluk Raffa. Pria itu merasa risih dan akhirnya melepaskan diri dari Monic.


"Udah malam, aku masuk dulu ya," cepat-cepat Raffa pamit dari hadapan Monic. Sebelum banyak orang yang salah paham pada mereka.


"Iya kak, makasih banget ya. Kapan-kapan Monic bakalan traktir kak Raffa deh."

__ADS_1


Raffa tersenyum menanggapi ocehan gadis yang baginya masih kecil itu. Sebelum akhirnya dia masuk ke dalam apartemennya.


Seminggu kemudian tepat di sebuah acara ulang taun seseorang.


Ulang tahun kedua anak Andrew Tan, Alea dan Arkan di usia mereka yang sudah menginjak ke delapan belas tahun saat ini.


"Sayang udah di undang semua kan teman-teman kalian?" tanya Zelia pada kedua anaknya. Alea dan Arkan saling mengangguk bersamaan.


"Bagus kalau begitu, mama mau lihat persiapannya dulu ya," Zelia pamit untuk melihat seberapa siap pesta itu sebelum di mulai.


Sebenarnya Alea dan Arkan tak mau mengadakan pesta seperti ini. Namun karena keinginan sang mama, mereka terpaksa mengiyakannya.


Satu persatu para tamu undangan tiba dengan gaun dan pakaian pesta masing-masing.


Raffa pun juga datang atas undangan dari Zelia. Di samping pria itu tampak Monic yang berjalan anggun dengan memakai gaun pemberian dari Raffa.


Saat melihat pemandangan itu, Alea yang tadinya tengah bahagia tiba-tiba menjadi murung tanpa sebab.


Raffa dan Monic mendekatinya.


"Selamat ya Alea, Arkan kalian sudah bertambah dewasa," ucap Raffa.


"Kenapa dia ya kak?" tanya Arkan bingung.


"Gak tahu juga sih, emang ada yang salah ya?" Raffa malah balik bertanya, Arkan hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.


"Ya udah biar kakak lihat dulu," ucap Raffa hendak menyusul Alea. Arkan hanya menganggukkan kepalanya. Kini fokus pria itu pada gadis di depannya. Monic juga memperhatikan Arkan, keduanya lalu berkenalan.


Sedangkan Raffa mencari keberadaan Alea. Dan ternyata gadis itu sedang berdiri di taman belakang rumahnya.


Alea yang menyadari kedatangan Raffa segera menghapus bulir air mata di pipinya dengan cepat. Gadis itu entah kenapa bisa menangis begitu saja. Setelah dia mengetahui untuk siapa gaun yang pernah dia pilih bersama Raffa dahulu.


Alea terlalu berfikir berlebihan saat mengira gaun itu akan di berikan padanya. Kado dari Raffa di hari ulang tahunnya ini. Ternyata semuanya salah,Alea hanya terlalu berharap.


"Alea sadar lah ini semua tak benar," batin Alea menyadari kesalahannya.


"Alea," panggil Raffa dari belakang gadis itu. Alea menoleh ke arahnya.


"Kenapa malah ke sini?" tanya Raffa yang tak mendapat respon dari Alea sebelumnya.

__ADS_1


"Gak apa-apa kok kak," jawab Alea.


"Kamu yakin?" tanya Raffa lagi.


"Alea," seseorang memanggilnya sambil mendekat ke tempat Alea dan Raffa berdiri. Dia adalah Monic.


"Monic," Alea menyapanya di tambah senyuman di bibirnya meski harus di paksakan.


"Selamat ulang tahun ya Alea, ini kado untukmu," ucap Monic sambil memberikan sebuah kado pada Alea, gadis itu menerimanya.


"Makasih ya Monic, kamu cantik banget malam ini dengan gaun itu," ucap Alea sambil melirik ke arah Raffa. Pria itu hanya berdiri kaku di tempatnya mendengar ucapan Alea.


"Benarkah? Gaun ini dari kak Raffa loh, dia yang pilih sendiri."


"Oh begitu ya, seleranya bagus juga kok," sindir Alea lagi.


"Ngomong-ngomong kalian ternyata saling kenal ya?" tanya Alea penasaran bagaimana keduanya bisa saling kenal.


"Tentu saja, kita sering bersama saat kami di luar negeri dahulu, iya kan kak Raffa?" jawab Monic.


"I- iya," jawab Raffa ragu.


"Sering bersama?" batin Alea tiba-tiba ngilu.


"Oh ya, kalian lanjutkan saja ngobrolnya, aku mau menyapa tamu yang lain dulu," pamit Alea ingin segera pergi dari keduanya.


Raffa bingung harus bagaimana menjelaskan kepada Alea saat ini. Monic yang menyadari perubahan wajah di antara keduanya. Dia yakin ada sesuatu diantara Raffa dan Alea.


"Kak Raffa, kamu menyukai Alea ya?" tanya Monic langsung. Raffa yang mendengar itu seketika panik.


"A-apa sih kamu sok tahu deh," jawab Raffa sekenanya.


"Monic tahu kak, lagian aku gak mungkin salah ngira. Kita kenal sudah lama loh."


"Apaan sih udah aku mau ke sana dulu," Raffa segera menghindar dari gadis itu.


"Dasar gak mau jujur sama hati sendiri," batin Monic.


Tiba-tiba sebuah rencana muncul di kepala gadis itu.Entah rencana apa itu. Hanya Monic yang tahu.

__ADS_1


__ADS_2