
Sepulang sekolah, Alea dengan langkah mengendap-ngendap menyusuri lorong-lorong di rumahnya. Berharap tak seorangpun dapat melihatnya kali ini.
Gadis itu berencana untuk pergi bersama Afo kembali. Setelah pria itu mengirimkannya pesan singkat berisi ajakan bermain di festival lampu malam ini.
Untungnya kedua saudara gadis itu masih mengikuti les dan belum pulang. Hanya tinggal Raffa di rumah. Yang kemungkinan pria itu sedang tidur karena lelah mengantarnya tadi.
Dengan mudah Alea bisa keluar dari rumahnya. Di depan rumahnya sudah ada Afo yang menunggunya dia atas motor.
"Udah siap?" tanya pria itu.
"Udah ayo!" ajak Alea bersemangat.
Afo mengangguk dan Alea segera naik ke atas motor itu. Tanpa Alea tahu sebenarnya Raffa tidak tidur. Dia memperhatikan tingkah gadis itu dari kejauhan.
"Dasar kucing kecil yang nakal!" gumam Raffa sambil membuang botol minumannya begitu saja.
Dia segera mengikuti kemana perginya Alea dan Afo, dia tak boleh kehilangan jejak gadis itu.
Mereka sampai di tempat acara festival itu berlangsung. Suasana yang meriah tampak di depan mereka. Lampu warna-warni yang menghiasi tempat itu membuat suasana semakin indah.
Alea begitu menikmati malam itu. Perlahan Afo menggandeng tangan gadis itu. Alea pun tak menolaknya. Mereka menyusuri setiap tempat yang ada dan membeli beberapa makanan ringan yang di jual di sana.Raffa tak berhenti mengikuti keduanya dari belakang.
Setelah lelah berkeliling Afo mengajak Alea duduk di sebuah tempat tak jauh dari tempat festival lampu itu diadakan. Keduanya duduk di atas bangku panjang. Tempat mereka sekarang berada seperti di atas bukit kecil dengan pemandangan kota yang penuh dengan lampu. Serta langit yang di penuhi oleh bintang-bintang.
Demi bisa mengikuti keduanya Raffa rela bersembunyi di antara semak-semak di belakang mereka. Sambil mengamati gerak-gerik keduanya. Raffa mulai merasa kesal saat Afo tak berhenti menggoda Alea. Parahnya Alea terlihat begitu bahagia di dekat pria itu.
"Apa mereka benar-benar pacaran?" gumam Raffa bertanya pada dirinya sendiri.
Afo tak berhenti mengagumi kecantikan Alea, meskipun gadis itu tak terlalu memperhatikan penampilannya. Namun Afo masih bisa melihat bahwa gadis itu sebenarnya cantik luar biasa.
"Alea," panggil Afo.
"Ya,kenapa Fo?" ucap Alea.
"Aku suka sama kamu," ucap Afo membuat Alea sedikit terkejut, baru kali ini dia mendengar seseorang menembaknya secara langsung seperti ini.
"Kamu lagi bercanda ya Fo?" tanya Alea.
__ADS_1
"Tidak Alea, aku serius. Aku suka sama kamu."
"Kamu mau nggak jadi pacar aku?" tanya Afo lagi.
Alea masih diam, dia tak tahu harus mengatakan apa pada pria di depannya itu. Menerima atau tidak pernyataan cinta pria itu.
"Alea," Afo memegang kedua pipi Alea.
"Aku tahu kamu juga suka kan sama aku, tapi karena kakakmu kamu takut ketahuan olehnya? Aku gak masalah kalau kita diam-diam pacarannya," Afo menyelami kedua mata Alea. Mencari jawaban yang sesuai dengan apa yang dia inginkan dari gadis itu. Tapi Alea masih terdiam. Tak tahu apa yang akan dia katakan kali ini.
Perlahan Afo mendekatkan wajahnya pada wajah Alea. Pria itu hendak mencium bibir Alea.
Raffa yang melihat adegan itu dari tadi mulai geram. Dia segera mendekat ke tempat keduanya.
Bug
Satu pukulan mengenai wajah Afo,sebelum pria itu mencium Alea, terlebih dulu Raffa menarik kerah bajunya dan memukul Afo.
"Afo!" teriak Alea.
Bug
"Berhenti Raffa! Kamu apa-apaan sih?" teriak Alea.
Raffa menghentikan pukulannya saat melihat Afo sudah meringis kesakitan.
"Jangan dekati dia lagi! Atau aku bisa lebih banyak memukulmu!" ancam Raffa pada Afo.Raffa lalu menarik lengan Alea.
"Ayo pulang!" ajaknya.
"Lepas! kamu ngapain sih kayak gini!"Alea hendak membantu Afo namun dirinya di paksa oleh Raffa untuk mengikutinya. Hingga pergelangan tangan gadis itu memerah.
"Lepas!" Alea akhirnya bisa melepaskan dirinya saat mereka sudah jauh dari Afo.
"Kamu kenapa sih ikut campur urusan pribadiku?" tanya Alea marah.
"Orang tuamu memintaku menjaga kamu Alea, terus apa yang kamu lakuin di luar sana. Pergi diam-diam dari rumah dan bertemu cowok itu. Bahkan kamu hendak di cium olehnya seperti itu, dan kamu diam aja!" ucap Raffa marah. Entah kenapa dia bisa ikut marah jika melihat Alea hendak di cium oleh pria itu.
__ADS_1
"Apa urusannya denganmu! Kita mau ciuman atau nggak bukan urusanmu, jadi mulai sekarang jangan ikut campur lagi!" teriak Alea.
Tanpa menjawab apapun Raffa menarik tengkuk Alea dan mencium bibir gadis itu. Alea yang tak siap dengan perlakuan Raffa hanya bisa mendelikkan matanya.
Ciuman itu berlangsung beberapa detik saja. Tapi membuat Alea hanya bisa mematung tak tahu apa yang barusan terjadi.
Ciuman pertamanya diambil oleh pria yang tak dia sukai itu.Bahkan secara paksa.
"Itu yang kamu mau kan?" tanya Raffa.
Alea lalu menampar pipi pria itu.
"Dasar brengsek!" Alea lalu berlari menjauhi Raffa yang masih terdiam di tempat setelah mendapatkan tamparan keras dari Alea.
"Heh!" Raffa tersenyum tipis lalu mengejar Alea.
Setelah melewati perdebatan sengit dan panjang. Akhirnya Alea mau pulang dengan Raffa meskipun dengan terpaksa.
Setelah di dalam kamar gadis itu berbaring di ranjangnya. Bayangan wajah Raffa yang menciumnya terngiang di kepala gadis itu. Bahkan rasa bibir manis Raffa masih terasa di bibirnya.
"Dasar cowok brengsek!" ucap Alea sambil memukul bantalnya. Dia menenggelamkan wajahnya di bantal itu.
Sedangkan Raffa juga berada di kamarnya. Dia juga mengingat tentang ciuman yang dia lakukan tadi. Entah kenapa dia bisa melakukan hal sebodoh itu.
Tapi sudut bibirnya perlahan terangkat membentuk seulas senyuman. Ada sedikit rasa bahagia di balik kejadian tadi. Entahlah Raffa tak tahu mengapa. Meski dia memaksa mencium bibir Alea, tapi Raffa menikmatinya.
"Hah aku ini kenapa?" gumam Raffa menyadari ada yang salah pada dirinya saat ini. Setelah itu dia mencoba memejamkan matanya. Namun bayangan wajah Alea masih saja memenuhi pikiran pria itu.
Hingga malam itu Raffa dan Alea sama-sama tak bisa tidur. Hingga larut malam Alea memutuskan untuk mengambil air minum di dapur. Saat baru keluar dari kamar. Raffa juga keluar kamar. Keduanya saling menatap sejenak hingga Alea membuang muka. Tak mau melihat Raffa lagi.
"Tunggu!" langkah Alea terhenti saat lengannya di pegang oleh Raffa. Gadis itu lalu menepiskannya.
"Ada apa?" tanya Alea dingin.
"Soal yang tadi, itu hanya kecelakaan. Lupakan saja!" ucap Raffa.
"Aku juga tak peduli, apa lagi untuk mengingatnya!" jawab Alea dingin. Dia lalu pergi meninggalkan Raffa.
__ADS_1
"Heh dasar keras kepala!" gumam Raffa.