
"Hemm.. Ibu yakin, kita akan menyusul Lea ke sana? kita ke tempat Lea itu jauh Bu, Apa Ibu yakin Bisa?". tanya Pak Heru merasa ragu dan cemas akan kesehatan istri nya itu
Bu Wati sendiri menganggukan kepala nya dengan mantap seraya memandang ke arah suami nya dengan tatapan yakin
"selagi Ibu sudah baikan dan sudah lumayan sehat, ibu yakin ibu bisa Pak, Takut nya nanti kalau Ibu meninggal, Lea akan terus bersedih karena nggak bisa lihat ibu untuk yang terakhir kali nya Pak". lirih Bu Wati dengan sendu
"Ibu nggak boleh bicara seperti itu, Ibu pasti akan sembuh, karena bapak akan melakukan segala cara agar ibu bisa segera sembuh dan keluarga kita bisa kembali seperti sedia kala". Sahut Pak Heru menyemangati istri nya itu
"Pak, kalaupun Tuhan memanggil Ibu lebih cepat, Ibu bisa pergi dengan tenang, karena kini Lea sudah bersama dengan orang yang tepat, Dia nggak akan terlalu sedih kalau Ibu nanti semisalkan pergi. Bapak juga harus janji untuk menjalankan hidup seperti biasa nya dan aibu Mohon, Bapak jangan bersedih karena kehilangan ibu ya". Ujar bu Wati
"udah ya Bu, jangan bicara kayak gitu lagi, besok pagi kita pergi nyusulin Lea ya oke, ya sudah sekarang ibu harus istirahat ya". ujar Pak Heru tersenyum dengan Getir
Bu Wati menganggukan kepala nya, kini ia menatap langit-langit ruangan nya, saat ini ia sedang berada di sebuah rumah sakit, akan tetapi sang dokter sudah memperbolehkan nya untuk pulang, karena keadaan nya sudah lebih membaik.
Pak Heru keluar dari ruangan itu dan mengusap air mata nya yang menetes begitu saja, kini ia duduk di sebuah kursi tunggu, dengan Tatapan yang kosong, dada nya terasa sesak saat mendengarkan perkataan istri nya tadi.
ia sudah menuruti keinginan Bu Wati untuk mempercepat Perjodohan itu agar membuat Lea terbiasa melanjutkan hidup tanpa oran tua nya.
Apa Iya? Setelah dia melepaskan putri nya, Kini dia harus merelakan istri nya dan juga kehidupan nya.
seketika dunia nya ingin runtuh, dia masih ingin berharap yang terbaik untuk keluarga nya, untuk kehidupan yang lebih baik.
"Ya Tuhan, jika memang Engkau akan mengambil istriku terlebih dahulu, maka aku mohon.. Ambillah aku juga". lirih Pak Heru dengan sebuah isakan tangis
meskipun lelaki paruh baya itu merupakan seorang kepala keluarga yang terlihat kuat dan tegas, namun ada Sisi kelembutan di hati nya, apalagi saat mendengar omongan dari istri nya tadi.
__ADS_1
terlihat ada seorang remaja yang melihat Pak Heru yang sedang menangis, remaja itu langsung menghampiri nya dan duduk di samping lelaki paruh baya itu, sehingga membuat Pak Heru langsung mengusap air mata nya dengan cepat dan melirik ke arah anak muda yang usia nya tak jauh berbeda seperti putri nya.
"pak, nggak apa-apa nangis aja, keluarkan semua sesak yang ada di hati bapak, di sini aku cuma mau nemenin Bapak aja boleh kan?".
Pak Heru mengangguk kan kepala nya, sebagai jawaban atas pertanyaan Remaja itu
"nama kamu siapa Nak? ". tanya Pak Heru
"Nama saya putra Pak, Mama ku juga sedang di rawat di sini, keluarga Bapak siapa yang sedang sakit? ". tanya Putra
" Istri bapak Nak, ia sudah di vonis oleh dokter hidup nya tidak akan lama lagi". jelas Pak Heru kembali berlinang dengan air mata yang membasahi pipi nya yang sudah nampak keriput
"bapak yang kuat ya, Bapak yang sabar, Kita sebagai manusia hanya bisa berdoa, semoga ada sebuah keajaiban untuk istri bapak, karena sejati nya rejeki, jodoh dan maut seseorang hanya Tuhan yang tahu". ujar Putra dengan bijak seraya mengusap lembut punggung lelaki paruh baya itu
"memang, Mama kamu sakit apa nak?". Tanya Pak heru
" maaf kalau boleh tahu, anak bapak mana? ". tanya Putra lagi
" Oh, anak Bapak sudah menikah Nak, dan usia nya seperti nya sama dengan kamu". jelas Pak Heru
{Apa? sudah menikah, dan umur nya sama seperti Gue? Ckckck jangan jangan karena pergaulan bebas dan akhir nya hamidun, kasihan sekali bapak ini} ucap putra dalam hati nya
" bapak yang kuat ya, saya hanya bisa ikut bantu doa saja, semoga istri bapak cepat sembuh". Ucap Putra tersenyum
"terima kasih ya Nak Putra ,Bapak do'akan juga Semoga Mama kamu juga cepat sadar ya, kamu pasti anak yang kuat dan baik, Kamu juga jangan lupa terus berdoa ya". ujar Pak Heru mengusap air mata nya
__ADS_1
" Hemm.. Bapak sudah makan belum? Kebetulan saya mau keluar untuk cari makan, apa bapak mau ikut saya keluar? ". Ucap Putra menawarkan.
" Tidak Nak, Bapak juga mau jaga istri bapak di sini saja". ujar Pak Heru menggelengkan kepala nya
"ya udah kalau gitu saya pamit dulu ya Pak". ujar Putra dengan tersenyum manis
Putra langsung meninggalkan Pak Heru dan melangkahkan kaki nya menuju untuk keluar, Ia juga mengusap kasar air mata nya yang menetes begitu saja saat ini.
Putra sendiri benci terlihat lemah oleh siapapun, ia menghela nafas nya dengan panjang untuk menetralkan perasaan nya.
Putra berjalan menuju ke arah parkiran untuk mengambil motor nya, pikiran nya masih terbayang kepada lelaki paruh baya yang dia temui tadi.
"andai saja Papa sesayang itu sama Mama, mungkin semua ini nggak akan terjadi seperti ini". Gumam Putra dengan sendu
Lelaki itu menyalakan motor nya untuk keluar dari parkiran Rumah Sakit, bahkan rumah sakit ini sangat jauh dari rumah nya, Tapi dia harus bolak balik ke tempat itu selama dua hari sekali
saat ia mengundurkan motor nya perlahan ke belakang, tiba tiba ada seseorang yang menghalangi nya, membuat Putra menoleh dan membuka kaca helm nya.
"eh si Bapak, Iya kenapa Pak?". Tanya Putra
" Nak putra, ini bapak mau titip roti ya boleh? ini uang nya". Ujar Pak Heru memberikan uang kepada Putra dengan tersenyum
" Iya Pak, nanti Putra belikan, tunggu ya Pak". Ujar Putra yang langsung tertawa dan mengembalikan uang tersebut
"Tapi uang ini enggak usah Pak". ujar Putra
__ADS_1
" Loh kenapa Nak? bapak kan nitip sama kamu, jadi ini uang nya".
"Gk usah Pak, ya sudah Putra pamit pergi dulu ya Pak". Ujar Putra yang langsung menyalakan mesin motor nya lalu melajukan motor itu hingga meninggalkan parkiran rumah sakit