
Di hari kelulusan tiba, para pelajar telah siap untuk merayakannya. Termasuk Alea dan teman sekelasnya. Namun ada yang mengganjal di hati Alea saat ini, karena keberadaan Reihan beberapa hari ini tidak dia ketahui.
Alea juga sudah berusaha menghubungi pria itu. Tapi hasilnya nihil. Alea semakin khawatir jika hal buruk terjadi pada Reihan.
Alea hanya bisa memandang teman-temannya yang bersorak gembira karena kelulusan mereka. Berbeda dengan yang Alea kini rasakan. Dimana dia seperti sendiri tanpa sahabatnya.
Hanya Monic yang saat ini mau menghibur Alea.
"Alea ayo kita berfoto bersama teman-teman!" ajak Monic.
"Tapi Monic aku masih menunggu Reihan tiba!" jawab Alea enggan bangun dari duduknya.
"Ayolah, kamu jangan menunggu lagi. Dia tidak akan datang!" ucap Monic.
"Maksud kamu apa?" tanya Alea bingung dengan ucapan Monic yang seolah-olah sedang menutupi sesuatu darinya.
"Kamu tidak tahu?" tanya Monic heran dengan Alea.
"Tahu tentang apa?" tanya balik Alea.
"Hais Alea, Reihan dan adiknya sudah pindah keluar negeri setelah acara pertunangan kamu itu!" jawab Monic.
"Apa? Kamu bercanda kan?" Alea tak percaya dengan apa yang di ucapkan Monic.
"Terserah kalau gak percaya! Kamu cek aja ke rumahnya!"
__ADS_1
Monic meninggalkan Alea dan segera bergabung dengan teman-temannya untuk berfoto bersama.
Sedangkan Alea memutuskan untuk pergi dari ruang kelas itu. Dia ingin ke rumah Reihan. Memastikan apa yang di ucapkan oleh Monic adalah salah.Reihan pasti hanya izin saja untuk tidak masuk kelas beberapa hari ini.
Gadis itu bergegas naik ke dalam taksi yang telah dia pesan sebelumnya. Meminta sang sopir segera menuju ke rumah Reihan.
Tak selang berapa lama dia akhirnya sampai di depan rumah milik sahabatnya itu. Alea segera membayar ongkos taksi. Setelah itu dia bergegas ke depan gerbang rumah Reihan.
Rumah itu tampak sepi tak berpenghuni. Alea berkali-kali memencet bel di pagar itu. Tapi tak ada yang datang untuk membukanya.
Hingga suara teguran seseorang dari belakang membuat Alea terperanjat.
"Cari siapa nak?" tanya ibu-ibu yang membuat Alea terkejut tadi.
"Oh nak Reihan dan Mila ya? Mereka sudah pindah beberapa hari yang lalu non," jawab ibu itu.
"Pindah kemana ya bu, kalau boleh tahu?" tanya Alea.
"Wah kalau kemana nya daya kurang tahu. Cuma pesan aja kalau ada yang mencari nak Reihan, ibu di suruh memberikan ini! Kamu nak Alea kan?" tanya ibu itu lagi.
Alea menganggukkan kepalanya, sedangkan ibu itu menyerahkan sebuah kotak pada Alea. Gadis itu menerima dengan perasaan tak karuan.
"Terima kasih bu," ucap Alea.
"Iya sama-sama, ya udah ibu pamit dulu ya," jawab ibu itu.
__ADS_1
"Iya bu."
Alea memandang kotak berwarna pink itu. Entah apa isinya. Dia mulai membukanya perlahan. Di dalam kotak itu ada sebuah gelang manik berwarna biru muda bercampur warna abu. Dan ada sebuah surat di bawahnya.
Alea mengambil surat itu dan perlahan membukanya. Dia membaca setiap kata dari tulisan tangan Reihan.
*Alea aku minta maaf sebelumnya karena tidak memberitahukan kepergianku padamu. Aku takut di hari bahagia mu kamu malah meneteskan air mata.
Alea aku sudah memutuskan untuk mengejar impianku jauh darimu. Bukan karena aku kalah dari Raffa Alea. Tapi aku hanya ingin melihat kamu bahagia.
Dan kebahagiaan itu tidak bisa kamu dapat dariku. Seandainya aku yang terlebih dulu menemui mu. Mungkin aku bisa memilikimu.
Jika suatu saat kita bertemu kembali. Aku harap kamu tidak marah dan tetap menjadi sahabatku.
Aku, Reihan sungguh mencintaimu. Tapi aku harus merelakan kamu dengan dia.
Semoga kamu bahagia Alea, selamat tinggal. Semoga akan ada hari dimana kita bisa duduk berdua lagi di atas pegunungan itu.
Sahabatmu, Reihan*.
Tak terasa air mata Alea meleleh saat membaca surat dari Reihan. Alea semakin membenci dirinya karena telah melukai sahabat baiknya.
"Dasar Reihan bodoh! Kenapa harus pergi!" teriak Alea kesal.
Dia lalu mengusap air matanya. Dan segera pulang ke rumah. Ingin melepas semua beban kegundahan di hati gadis itu.
__ADS_1