
Dari sudut luar sebuah ruangan tampak seorang wanita tengah sibuk memandang punggung seorang pria yang berada tak jauh darinya.
Pria yang beberapa bulan ini mengalihkan sebagian perhatiannya, pria yang diam-diam menyusup di relung hatinya.
"Ah bagaimana mungkin aku jatuh cinta padanya, sedangkan dia sudah memiliki wanita cantik di sampingnya," batin wanita itu yang menganggap dirinya mulai gila.
Ya dia beranggapan bahwa dirinya gila karena cinta yang salah pada dirinya, atau ini hanya rasa kagum yang berlebihan yang tak pernah dia hilangkan dari pikiran sehingga merambat ke hatinya.
Pria yang menjadi perhatiannya kini berjalan ke arahnya, sambil membawa sebuah berkas.
"Liera tolong perbaiki ini ya, ada sedikit kesalahan, satu jam lagi bawa ke ruangan saya!" perintah pria itu.
"Ba-baik pak," jawab Liera gugup, dia baru sadar dari lamunannya, untungnya dia bisa kembali menguasai suasana dirinya.
Pria itu berjalan kembali ke arah ruang khusus CEO, tapi sebelum langkahnya menjauh dari Liera, dia kembali menghadap ke arah wanita itu.
"Oh ya, tolong atur ulang jadwal untuk besok, sepertinya saya harus ke Singapura besok selama dua hari," pintanya, Liera mengangguk paham.
"Baik pak."
Pria itu pergi dari hadapan Liera yang tak berhenti menatap punggung sempurna pria yang dia kagumi selama ini. Pikirannya dipenuhi dengan wajah tampan bosnya.
"Liera,Liera!" teriak seorang wanita di samping nya, menyadarkan kembali dia dari lamunan tentang khayalan tingkat tinggi barusan.
"Eh iya,Zie ada apa?" tanyanya.
"Jangan ngelamun aja,cepet kerjain,kurang dari satu jam kamu harus membawanya ke ruang CEO," Zie mencoba mengingatkan Liera tentang pekerjaannya.
"Hah iya aku sampai lupa, makasih ya Zi."
Zie hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya itu, sudah beberapa bulan dia sedikit aneh, apalagi akhir-akhir ini dia sering melamun di perusahaan. Dan Zie tahu apa alasannya.
Satu jam kemudian Liera sudah menyelesaikan pekerjaannya dan segera membawa berkas itu ke ruang CEO.
Setelah mengetuk pintu dia masuk ke dalam, tampak pria di depannya ini tengah sibuk berkutat dengan laptopnya.
Wajahnya yang serius saat bekerja menambah ketampanan dari pria itu, tiba-tiba saja jantung Liera tak beraturan.
"Tenanglah, tenang hei kamu jantungku, jangan biarkan pak Andrew mendengarnya," batin Liera.
__ADS_1
Dia gugup sekaligus terpesona dengan sosok di depannya itu.
"Bagaimana Liera, sudah selesai berkas tadi?" tanya Andrew yang masih tak beralih dari laptopnya.
"Iya pak sudah, ini berkasnya," jawab Liera sambil menyerahkan berkas yang dia bawa.
"Baik terima kasih,taruh saja di meja" balas Andrew tanpa melihat ke arah Liera, dia sedang sibuk memeriksa pekerjaannya.
"Saya permisi pak," pamit Liera, namun belum juga kakinya sampai di ujung pintu Liera di panggil oleh Andrew.
"Tunggu Liera," panggilnya.
"Ya pak apa ada yang salah?" tanya Liera sedikit takut.
"Tidak ada, sudah benar, tapi besok bersiaplah kita akan ke Singapura," ucap Andrew yang seketika membuat jantung Liera semakin tak terkendali.
"Ke Singapura pak? sa- saya?" tanya Liera gugup sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Iya kamu, kamu kan sekertaris saya dan juga asisten saya, nanti kamu yang urus semua berkas untuk perkerjaan di sana."
Liera sadar siapa dirinya, dia pikir Andrew mengajaknya berlibur, ternyata ini tentang pekerjaannya di Singapura.
Di luar pintu Liera merasa bisa bernafas lega, senyuman terukir di bibirnya mengingat apa yang barusan di dengarnya.
Dia akan pergi ke luar negeri berdua dengan pria idaman, hatinya kini berbunga-bunga.
Malam harinya Andrew yang sudah berada di rumah sedang bersantai di atas ranjang bersama Zelia.
"Sayang," panggil Andrew.
"Ya kenapa sayang?" balas Zelia, keduanya kini saling menatap dengan tubuh berbaring di ranjang, saling berhadapan.
"Besok aku harus ke Singapura pagi-pagi untuk urusan pekerjaan, kamu gak apa-apa kan di rumah?" tanya Andrew.
"Berapa hari?" wajah Zelia tampak tak menyukai itu.
"Hanya dua hari sayang," ucap Andrew sambil mengelus pipi istrinya.
"Apa aku tak boleh ikut?" tanya Zelia dengan penuh harap.
__ADS_1
"Sayang ini kan hanya pekerjaan, bukan liburan, kasihan debay di sini," Andrew mengelus perut Zelia.
Zelia hanya menghela napas panjang, benar yang di ucapkan Andrew, demi sang anak yang masih di dalam perutnya. Dia harus berhati-hati, apa lagi untuk perjalanan yang jauh sangat beresiko pada janinnya.
"Baiklah, tapi jangan pernah macam-macam di sana," ancam Zelia, tampak sekali wanita itu khawatir dengan suaminya.
"Siap bos, aku tidak akan macam-macam," jawab Andrew sambil duduk dan bersikap tegap dengan tangan kanan hormat ke Zelia.
Wanita itu hanya tertawa kecil melihat tingkah suaminya.
Tapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya saat ini. Entah itu apa Zelia tak mengetahui penyebabnya.
Dalam waktu bersamaan di sebuah restoran, Liera sedang bersama dengan sahabatnya Zie. Menikmati makan malam mereka.
"Liera aku senang kamu bisa senyum-senyum kayak gini, tandanya kamu bahagia, tapi aku takut kamu akan terjerumus dalam kesalahan Li," Zie tengah menasihati Liera.
Zie tahu bahwa sahabatnya itu menyukai Andrew, tapi itu adalah sebuah kesalahan bagi Liera.
Andrew sudah memiliki istri, dan semua orang tahu itu.
"Zie sekali ini lah biarkan aku bahagia, aku tahu dia sudah menjadi suami orang tapi aku tak apa-apa jika menjadi yang kedua."
Zie hanya menggeleng kan kepalanya mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Kau gila Liera, ini salah, sebaiknya kamu berhenti berharap!" Zie enggan berdebat lagi dengan sahabatnya, dia memilih meninggalkan Liera begitu saja dan membayar makanan mereka.
"Hei kenapa kamu pergi Zie!" teriak Liera, namun Zie tak peduli.
Zie merasa bersalah telah membawa Liera masuk ke dalam perusahaan keluarga Tan. Hingga membuat wanita itu berada di posisi sebagai asisten CEO dan juga menyukainya.
"Ah dasar Liera gila, semoga saja dia bisa segera sadar," batin Zie saat keluar dari restoran tersebut.
Liera yang masih tertinggal segera menyusul Zie keluar, namun tak mendapati wanita itu.
"Huh bilang saja kamu itu iri Zie, gak bisa dekat dengan bos," gumam Liera.
Wanita itu entah dari mana bisa mempunyai keberanian menyukai bosnya sendiri, itu karena suatu hari dia pernah bertemu dengan Andrew tanpa sengaja dan dari awal itulah dia bisa menyukai pria itu.
Rasa suka yang salah membuatnya tak memperdulikan ucapan sahabatnya sendiri.
__ADS_1