
Zelia kini tengah berada di sebuah toko bahan-bahan kue. Dia bersama Arkan di sampingnya. Anak laki-laki itu biasanya tak tertarik mengikuti mamanya untuk berbelanja.
Tapi entah mengapa hari ini dia sangat ingin mengikuti mamanya. Di saat keduanya selesai berbelanja. Arkan tertarik dengan sebuah toko bunga. Zelia yang sibuk menata belanjaannya ke dalam mobil tak memperhatikan Arkan.
Anak itu berlari ke arah toko bunga yang tak jauh dari mobil mereka. Arkan perlahan masuk ke dalam toko bunga itu. Lalu seorang wanita mendekati Arkan.
"Ya ampun anak siapa ini? Tampan sekali?" ucap wanita itu sambil mencubit pipinya. Suara wanita itu juga membuat beberapa pelanggan di sana menatap ke arah Arkan, membuat anak laki-laki itu menjadi pusat perhatian.
"Tante jangan mencubit pipiku," ucap Arkan membuat wanita itu terkekeh geli.
"Maaf-maaf, eh kamu bersama siapa? Dimana orang tuamu?" tanya wanita itu sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling di toko itu.
Arkan hanya terdiam tak menjawabnya, membuat wanita itu semakin khawatir.
"Hei anak baik coba jawab tante? Dimana orang tuamu?" tanyanya lagi.
"Tante mamaku ada di luar, jangan khawatir."
Arkan tersenyum ke arah wanita itu, senyuman yang manis untuk siapa saja yang melihatnya.
Arkan lalu berjalan ke arah seorang anak yang menarik perhatiannya. Anak perempuan yang sedang merapikan beberapa bunga yang ada di toko itu.Anak perempuan itu memperhatikan Arkan.
"Kamu siapa?" tanya anak perempuan yang ternyata adalah Mona.
"Hem aku tak tertarik berkenalan denganmu!" ucap Arkan dingin. Entah apa yang sedang dipikirkan anak itu, dia yang tadinya tertarik dengan Mona malah sekarang bersikap dingin padanya.Sifat itu jelas diturunkan oleh papanya.
Di luar toko Zelia berjalan ke sana kemari, dia panik karena Arkan tak berada di dekatnya.
Mata wanita itu menyapu ke segala arah mencari putranya.
"Arkan!" panggil Zelia beberapa kali.
__ADS_1
"Maaf pak apa anda melihat anak laki-laki usia sekitar empat tahunan," tanya Zelia pada salah satu satpam di sebuah toko tak jauh dari mobilnya.
"Bagaimana ciri-cirinya nyonya?" tanya satpam itu.
"Dia seperti ini," Zelia menunjukkan foto Arkan pada satpam itu.
"Oh anak ini tadi kayaknya masuk ke toko bunga di sana," jawab satpam itu kembali sambil menunjuk ke arah toko bunga tak jauh dari mereka.
"Baiklah terima kasih pak sebelumnya," ucap Zelia lalu pamit untuk pergi ke toko bunga.
"Sama-sama."
Langkahnya tergesa, dia sangat khawatir akan kehilangan lagi anaknya. Rasa trauma membuat wanita itu bertingkah lebih protektif pada Arkan.
Saat masuk ke dalam toko bunga itu, Zelia langsung mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"Ada yang bisa di bantu nona?" tanya seorang wanita pada Zelia, tapi setelah memperhatikan wajah Zelia, wanita itu langsung terkejut.
"Zelia?" tanyanya.
"Kamu, Alena?" Zelia mencoba menebaknya.
"Iya ini aku Alena teman sekolah dasarmu dahulu, ya ampun kamu makin cantik aja Zelia."
"Kamu juga Alena, gak nyangka bisa ketemu kamu disini, bagaimana kabarmu sekarang?" ucap Zelia.
"Ya aku baik, bagaimana denganmu?"
"Ya seperti yang kamu lihat saat ini, oh ya apa kamu melihat anak laki-laki berusia empat tahun masuk kesini?"tanya Zelia.
"Apa anak itu yang kamu cari?" tanya Alena sambil menunjuk ke arah Arkan. Zelia langsung menoleh ke arah itu.
__ADS_1
"Arkan!" panggil Zelia sambil berlari kecil ke arah Arkan dan memeluknya.
"Ya ampun sayang, kamu buat mama khawatir saja," ucap Zelia lega bisa menemukan anaknya.
"Maaf ma, Arkan cuma mau membelikan bunga ini untuk mama," ucap Arkan sambil memberikan setangkai mawar untuk Zelia.
Zelia terharu melihat tingkah kecil Arkan, dia menerima setangkai mawar itu. Dan memeluknya kembali, namun sekilas dia melihat ke arah Mona
"Siapa dia sayang?" tanya Zelia pada Arkan.
"Arkan gak tahu ma," jawab Arkan jujur.
Zelia merasa wajah anak perempuan di depannya itu sungguh familiar baginya.
"Dia anak pegawaiku di toko ini Zelia," ucap Alena dari belakang Zelia.
"Jadi ini toko bungamu?" tanya Zelia.
"Ya, ini tokoku dan ini siapa? Jangan bilang ini anakmu? Kamu sudah menikah?" tanya Alena beruntun. Zelia bingung hendak menjawab yang mana terlebih dahulu.
"Iya ini Arkan, dia anakku."
Akhirnya Alena dan Zelia saling bercengkrama, namun pandangan Zelia tak lepas dari anak perempuan yang di depannya itu.
Merasa di perhatikan Mona segera pergi mencari papanya.
Di balik pintu toilet di toko itu, Bram menatap ke arah Zelia. Dia takut akan ketahuan jika dia keluar dari toilet sekarang.
"Kenapa dia ada di sini, dan juga nona Alena sangat akrab dengannya? semoga saja dia tak mengenali Mona," batin Bram.
"Papa, papa ngapain ngumpet?" Bram terkejut saat tangan Mona meraih tangannya.
__ADS_1
"Mona, papa gak ngumpet kok, papa cuma mau memberesin bunga yang ini," Bram mencoba merapikan bunga yang terletak tak jauh darinya.
Mona hanya diam tak menanggapi apapun, hingga akhirnya dia melihat anak laki-laki yang tadi dia temui pergi meninggalkan toko itu bersama mamanya.