
Seminggu sudah berlalu ...
Hari ini adalah pernikahan Rengganis dan Arya. Sebuah gedung dengan dekorasi yang sangat mewah menjadi tempat yang akan di gunakan untuk acara ini.
Keluarga Pratama adalah keluarga kaya raya, jadi mereka ingin menyelenggarakan pesta pernikahan dengan megah dan mengundang semua rekan bisnis nya.
Di dalam ruangan Rengganis tengah di rias oleh para MUA yang terkenal dan sengaja di sewa oleh keluarga calon suaminya.
Menggunakan kebaya berwana putih serta mahkota kecil di atas kepala Rengganis terlihat sangat cantik dan anggun.
Sementara di ruangan lain Arya tengah bersiap, tak dapat di pungkiri kini dirinya berdebar-debar mengingat sebentar lagi acara akan di mulai.
Tak lama kemudian Tuan Pratama masuk ke ruangan di ikuti oleh sang Istri. Melihat anak nya yang sedikit gemetar sang papa mencoba menenangkan.
"Kau sudah siap, Nak, acara akan segera di mulai."
__ADS_1
Arya hanya mengangguk lalu menarik napas demi mengurangi rasa gugup.
"Tak perlu panik, papa yakin kamu bisa." uan Pratama menepuk pundak putranya untuk memberi semangat.
Dengan satu tarikan napas Arya berhasil mengucapkan ijab kabul dengan lantang dan tegas. Kini tinggal menunggu pengantin perempuan yang keluar dari ruangan rias.
Semua pasang mata menatap kagum akan kecantikan sang pengantin wanita saat berjalan menuju kursi pelaminan. Ada perasaan haru dan juga sedih di hati Rengganis saat ini. Bagaimana pun kini statusnya telah berubah menjadi istri dari seorang pria yang belum dirinya cintai.
.
.
.
Betapa terkejutnya sampai di tempat pesta, Elisa melihat Arya yang ternyata menjadi mempelai dari pengantin pria di acara tersebut. Hati langsung hancur. Kenapa ia tidak datang sedari tadi untuk melihat semuanya. Andaikan ia datang sebelum semuanya terlambat, mungkin pernikahan ini tak akan pernah terjadi. Hingga menjelang tengah malam pesta pun telah usai, satu persatu tamu telah meninggalkan acara itu.
__ADS_1
Kini dua pasang manusia yang baru saja sah menjadi pasangan suami istri pun masuk ke kamar pengantin yang sudah di siapkan sebelumnya.
Pintu kamar mandi terbuka. Nampak Arya yang baru selesai membersihkan tubuh. Berjalan melewati Rengganis yang memalingkan muka karena malu melihat Arya yang hanya menggunakan handuk melilit di pinggang.
"Mandilah. Apa kau ingin tidur menggunakan pakaian seperti itu?" tanya Arya melihat kearah Rengganis.
"Ehmmm ... i–iya, aku akan mandi." Rengganis bergegas menuju kamar mandi dan tidak lupa untuk menguncinya. Rengganis ingin berendam dengan air hangat untuk menghilangkan rasa lelah setelah seharian berdiri menyalami para tamu.
"Astaga ... ! Kenapa aku lupa tidak membawa baju ganti. Apa aku harus keluar dengan handuk ini." Rengganis bingung karena baju yang ia kenakan tadi sudah basah. Akhirnya Rengganis keluar dari kamar mandi dengan mengendap-endap. Berharap sang suami telah tidur, karena dirinya mungkin akan sangat malu jika ketahuan keluar kamar mandi dengan handuk yang hanya melilit tubuhnya.
Dengan langkah langkah hati-hati Rengganis melangkah menuju lemari dan mengambil pakaian, lantas kembali masuk ke kamar mandi.
Sedangkan Arya nampak tersenyum melihat tingkah istrimya yang nampak begitu menggemaskan. Sebenar sedari tadi Arya menunggu Rengganis selesai mandi. Namun saat tadi Rengganis mengendap-endap Arya pura-pura tertidur karena tak ingin melihat istrinya malu.
Selesai mengenakan pakaian Rengganis bermaksud ingin tidur. Ia sangat lelah. Namun dirinya kini bingung harus tidur di mana, tidak mungkin kan ia satu tempat tidur dengan Arya. Rengganis mengambil bantal dan selimut, lalu menuju sofa di sudut ruangan. Tapi baru beberapa langkah sebuah suara membuatnya terkejut,
__ADS_1
"Tidurlah di sini, aku tidak akan memaksamu," ucap Arya menepuk sisi tempat tidurnya. Rengganis melihat kesungguhan di mata Arya, Rengganis lantas membaringkan tubuh di samping pria itu. Keduanya sama-sama terlelap dalam mimpi tanpa melakukan apapun.