Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Pertemuan


__ADS_3

Seperti jadwal yang sudah di rencanakan beberapa waktu lalu, hari ini Arya bertemu dengan pimpinan perusahaan HG. Di sebuah restoran yang cukup terkenal mereka melakukan pertemuan itu.


"Selamat siang, Tuan Arya, senang bertemu Anda kembali," sapa Hasan membuka percakapan.


"Selamat siang juga, Tuan Hasan." Alex mewakili tuannya yang nampak diam saja.


"Baiklah, apa bisa kita mulai? Saya ingin melihat berkas-berkas kerja sama kita," ucap Hasan dengan santai.


"Lex, berikan apa yang dia minta, aku tak punya banyak waktu," ucap Arya ketus.


Hasan hanya menyunggingkan bibir, ia tahu pria di depannya kini masih sangat kesal dengan kejadian beberapa hari lalu.


"Kenapa terburu-buru, Tuan Arya, bukankah kita bisa makan siang bersama lebih dulu, lagi pula aku yakin istri Anda tidak akan marah." Hasan mulai memprovokasi.


"Tutup mulutmu. Cepat, selesaikan, Lex, aku ingin segera pergi menemui istriku."


"Baik, Tuan." Alex menunduk patuh.

__ADS_1


Setelah semua urusan selesai Arya bergegas pergi dari tempat itu. Arya meminta Alex kembali ke kantor sendiri karena ia ingin menemui Rengganis. Perkataan Hasan ternyata sedikit berhasil memprovokasi Arya, seakan dia lebih tahu segalanya tentang Rengganis daripada dirinya.


Tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kantor Rengganis karena memang jarak yang tidak terlalu jauh. Arya bergegas menuju ruangan sang karena sudah tidak sabar ingin bertemu wanita itu.


Ceklek,


"Ada apa, Tar– ...?" Ucapan Rengganis terpotong karena yang masuk ruangannya bukanlah sang asisten, melainkan Arya. Pria itu langsung memeluk Rengganis yang masih nampak kebingungan.


"Mas Arya, apa ada masalah?" tanya Rengganis lembut.


"Apa Mas Arya tidak bekerja?"


"Sttt ... aku ingin seperti ini sebentar saja." Memeluk semakin erat seakan takut kehilangan.


"Duduklah dulu Mas, aku akan meminta Tari membuatkan minuman." Rengganis sudah akan beranjak namun Arya malah menariknya lagi,


"Berjanjilah tidak akan meninggalkanku, apapun yang terjadi," ucap Arya dengan mata sendu.

__ADS_1


"Aku tidak akan meninggalkanmu." Rengganis tersenyum menatap wajah Arya. Rengganis tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya ini. Namun dirinya yakin Arya saat ini sedang tidak baik-baik saja. Saat sedang asik menikmati waktu berdua tiba-tiba pintu kembali terbuka.


"Astaga ... ! Seharusnya kunci pintu dulu, Sayang, kalau mau bermesraan begini," teriak Nyonya Rani heboh. "Lanjutkan, mama tidak akan mengganggu," ucap Nyonya Rani berbalik untuk pergi.


"Maaf, Ma. Ini tidak seperti yang Mama lihat." Rengganis tersipu malu. Buru-buru Rengganis melepaskan pelukannya dan berniat menyusul sang Mama.


"Mama akan pergi, jadi nikmatilah waktu kalian," ucap Mama Rani cepat sambil menutup pintu. Tidak tahu semerah apa wajah Rengganis tadi saat ketahuan sang Mama tengah bermesraan di kantor. Tapi sebagai orang yang pernah muda Mama Rani pasti memakluminya.


"Mas Arya kenapa diam saja, harusnya Mas bantuin aku jelasin ke Mama dong tadi." Sambil mengerucutkan bibir.


"Mama pasti maklum, lagi pula kita sudah menikah, kenapa musti malu?" Arya hanya tersenyum melihat wajah cemberut istrinya.


"Apa kau sudah makan siang?"


"Tadi aku baru mau keluar makan siang, eh Mas Arya tiba-tiba datang." Rengganis mencebik tapi malah membuat Arya gemas sendiri.


"Ya sudah, ayo kita makan di luar," ajak Arya menggandeng tangan istrinya. Mereka keluar kantor meninggalkan pekerjaan sejenak dan mencari tempat makan yang cocok untuk makan siang.

__ADS_1


__ADS_2