Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Seperti Pernah Mengalami


__ADS_3

"Hei, lepaskan gadis itu!" Teriakan seorang pria menyadarkan Rangga yang tengah memeluk nyaman seseorang dalam dekapannya. Rangga mendongak ke arah sumber suara, dan terlihat tiga orang pria tengah berdiri menatapnya.


"Apa?"


"Tolong lepaskan gadis itu, Tuan. Kami harus segera membawanya," ulang salah satu pria berbadan besar.


Membawa?


"Kami sudah membeli gadis itu dari ayah tirinya." Pria itu kembali bersuara. Rangga semakin bingung dengan semua ucapan pria di hadapannya ini. Membawa kemana? Dan apa tadi, membeli? Siapa yang mereka beli? Rangga menarik kepala gadis itu yang masih berada dalam dekapan.


"Si–siapa kau?" Rangga terkejut bukan main, melihat wajah gadis yang ia peluk. Ia melangkah mundur seketika.


"Tuan, Maaf.Tolong selamatkan saya, Tuan?" ucap gadis itu memohon, sembari bersembunyi di balik tubuh besar Rangga.


"Cepat kemari gadis tak tau diri! Bos kami sudah membelimu dengan sangat mahal!" teriak pria berbadan besar di depan sana.


"Tidak! Aku tidak mau!"


"Tuan, tolong selamatkan saya." Gadis itu sudah menangis sesenggukan seraya terus memohon.


"Ada apa ini?" Mau tidak mau Rangga membuka suara karena melihat perdebatan diantara mereka yang tak kunjung usai.


"Mereka orang jahat, Tuan. Tolong selamatkan saya."


"Bos kami telah membeli gadis itu dari ayah tirinya, jadi tolong serahkan pada kami." Salah satu dari mereka mendekat ke arah Rangga, dan segera menarik pergelangan tangan gadis itu.


"Lepas! Aku tidak mau!" Memberontak seraya mencoba melepas cekalan pria itu.


"Ayo ikut kami!" Menyeret dengan paksa, gadis itu terus berteriak meminta pertolongan.


Entah kebetulan atau hanya perasaan Rangga, ia merasa pernah mengalami kejadian seperti ini. Menolong seorang gadis yang tengah membutuhkan bantuan. Ya persis di tempat ini. Bedanya dulu ia yang lebih dulu menawarkan bantuan.


"Tunggu!" Secara serempak mereka berhenti. Gadis itu berlari kembali ke arah Rangga saat para pria itu lengah dan bersembunyi di balik tubuhnya.


"Hei, mau kemana kau!"

__ADS_1


"Tolong lepaskan dia," ucap Rangga kemudian.


"Tidak bisa, Tuan. Dia sudah jadi milik bos, dan kami harus segera membawanya."


Merasa di remehkan,Rangga kembali bersuara, "Berapa harga yang bos kalian berikan untuk gadis ini, aku akan menggantinya."


Para pria itu hanya tersenyum sinis memandang wajah Rangga yang tampak serius. Tidak mungkin ada yang berani mengganti uang sebesar itu. Apalagi hanya untuk membayar seorang gadis yang biasa saja.


"Aku akan mengganti dua kali lipat." Rangga kembali membuka suara saat melihat para pria itu diam tanpa memberinya jawaban.


"Tuan ... "


"Diam!"


Gadis itu langsung terdiam saat Rangga memberinya sorot mata tajam. Ia hanya tidak yakin pria di hadapannya ini akan sanggup mengganti uang yang telah ayah tirinya terima dari sang rentenir. Apalagi sampai mengganti dua kali lipat.


"Dua ratus juta!" ucap salah satu pria sambil tersenyum mengejek. Ia yakin pria di hadapannya ini akan segera pergi saat mendengar nominal uang yang ia sebutkan.


"Kenapa kau diam? Kau mau pura-pura jadi pahlawan kemaleman Lihat, bahkan kau tidak sanggup memikirkan uang sebanyak itu." Para Pria itu secara serentak tertawa sambil terus mencibir keberadaan Rangga di tempat itu, yang di anggap percuma.


Rangga hanya diam menatap ketiga pria berbadan besar yang masih asik tertawa, sambil sesekali melirik gadis itu yang terlihat semakin ketakutan. Rangga merogoh dompet di saku jas, mengeluarkan kartu nama dan segera memberikan pada salah satu pria tadi. "Aku tidak memiliki uang cas, kalian bisa menghubungiku nanti karena ponselku kehabisan baterai." Rangga memperlihatkan layar ponselnya yang memang sudah mati sejak tadi sore.


"Iya. Apa kalian percaya?" balas Rangga tersenyum sinis. Rangga melipat kedua tangannya di depan dada, seraya menatap ketiga pria itu yang nyalinya sudah terlihat menciut.


"I–iya Tuan, kami percaya."


"Lalu untuk apalagi kalian disini, pergi!" usir Rangga mengibaskan tangannya.


"Baik, Tuan. Ayo pergi." Berbisik pada teman yang lain, lalu segera pergi dari hadapan Rangga. Mereka tidak ingin terlibat masalah terlalu jauh dengan pria di hadapannya ini.


*******


"Kau tidak apa-apa?" Rangga menyodorkan sebotol air mineral yang langsung di teguk habis oleh gadis tadi. Setelah para pria itu pergi, Rangga mengajak sang gadis untuk duduk di bangku taman dan membiarkan untuk sedikit tenang.


"Terima kasih, Tuan. Saya janji akan membayar hutang saya nanti setelah punya uang," ucap gadis itu terbata. Ia masih menenangkan dirinya yang masih sedikit ketakutan akibat ulah ketiga pria tadi.

__ADS_1


"Kenapa ayahmu sampai tega menjualmu?"


"Sebenarnya ayah saya bukan menjual, tapi lebih tepatnya menjadikan saya sebagai jaminan hutang."


"Hutang?"


"Iya, Tuan. Ayah saya suka berjudi, dan ketika semua barang berharga kami habis, Ayah menjadikan saya sebagai jaminan."


"Lalu kemana ibumu?"


Gadis itu meremas ujung pakaiannya sendiri. Terlihat di sudut matanya sudah mulai menggenang. "Ibu meninggal dua tahun yang lalu," jawabnya lirih.


"Maaf ...." Rangga merasa bersalah karena menanyakan sesuatu yang tidak tepat. Ia bisa melihat seberapa menderitanya gadis itu hanya dari sorot matanya.


Gadis itu mendongak seraya menghapus air mata yang belum sempat turun melewati pipi. Ia tersenyum ke arah Rangga yang masih melihatnya dengan tatapan iba. "Sekali lagi terima kasih, Tuan. Saya tidak tahu kalau Tuan tidak menyelamatkan saya, mungkin sekarang ...?"


"Ayo, aku akan mengantarmu pulang." Rangga bangkit dan ingin melangkah, namun gadis itu segera menarik tangannya.


"Tuan ...?"


Rangga menoleh menatap wajah gadis itu. "Bisakah Anda memberi saya pekerjaan?" Gadis itu menunduk takut, seraya menggigit bibir sendiri. Bagaimana ada orang tidak tau diri seperti dirinya. Sudah di tolong, masih saja merepotkan. Itulah pikiran yang berkecamuk dalam dirinya.


******


Rangga melajukan mobilnya ke salah satu restoran dari cabang yang ia miliki. Mungkin tempat itu kini sedang bersiap untuk tutup, karena memang waktu telah menunjukkan tengah malam. Tapi demi menolong gadis tadi, Rangga rela menahan perutnya yang sedari tadi berteriak minta di isi, dan juga tubuhnya yang sudah amat lelah.


Tiba di parkiran, Rangga segera turun mengajak gadis itu masuk restoran. Kedatangan mereka di sambut baik oleh manager restoran itu sendiri. Tanpa basa basi lagi Rangga lantas memberitahu pada sang manager bahwa gadis yang datang bersamanya akan bekerja di sini mulai besok pagi.


"Kamu bisa gunakan kamar di belakang, kebetulan di sana tidak ada yang menempati," ucap Rangga yang sudah bersiap ingin pergi.


"Tuan, tunggu!" Gadis itu mengekor di belakang Rangga yang sudah sampai di luar pintu restoran. Rangga mendengus, sambil berbalik ke arah belakang.


"Apalagi?"


"Sekali lagi, terima kasih, Tuan. Kenalkan, nama saya Andir ... " Sambil mengulurkan tangan, namun bukannya di sambut baik tapi Rangga malah acuh begitu saja.

__ADS_1


"Tuan ..."


Rangga tidak peduli dan memilih segera melangkah menuju mobil. Ia ingin segera pulang dan mandi air hangat untuk menyegarkan tubuhnya. Ah, ya kenapa aku sampai lupa tidak makan lebih dulu di restoran tadi. Sial, aku harus pulang dalam keadaan lapar!


__ADS_2