Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Hasil Tes DNA


__ADS_3

Sejak perkelahian antara dua wanita hamil di kediaman Nyonya Rani terjadi, Elisa tidak lagi terdengar kabar beritanya. Sepertinya Elisa benar-benar di jaga ketat agar tidak bisa melarikan diri dan diam-diam menyelinap menemui Arya.


Sementara Rengganis tampak sedikit menjaga jarak dengan Arya. Mungkin Rengganis kesal oleh kelakuan Elisa yang sudah keterlaluan dan berdampak pada suaminya. Arya pun dapat mengerti, kenapa sikap Rengganis seperti itu. Ia menyadari tidak mudah bagi siapa pun menerima permasalahan yang serumit ini.


*****


Berulang kali Alex selalu mengingatkan Arya untuk segera membongkar kebusukan Roy agar kesalahpahaman ini segera usai, tapi Arya terus menahan dengan alasan ia akan membongkarnya pada saat yang tepat. Arya khawatir Elisa tidak akan menerima kenyataan kalau bayi yang ada di dalam kandungannya bukanlah darah dagingnya, melainkan milik Royโ€“pria yang menjadi orang kepercayaan papinya sendiri.


Arya melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor. Tak terasa dua minggu berlalu dengan begitu cepat, dan besok adalah hari yang di tunggu bagi keluarga Pratama dan Andreas.


Rencananya besok Arya juga akan mengajak Rengganis untuk ikut datang ke rumah sakit. Arya sangat ingin membuktikan pada sang istri bahwa dirinya benar-benar tidak bersalah. Meski Arya sendiri tidak tahu Rengganis akan bersedia ikut dengannya atau tidak.


*****


Hari yang di tunggu pun tiba. Pagi sekali Arya telah bersiap bersama keluarga besarnya untuk segera datang ke rumah sakit guna melihat hasil tes DNA yang akan keluar hari ini. Rengganis juga terlihat berada di antara mereka. Meski tadi sempat menolak dan terus berdebat karena ingin tinggal di rumah, namun Arya bersikeras mengajaknya untuk pergi.


Begitu pula dengan keluarga Andreas. Mereka sudah rapi dan bersiap hendak menuju rumah sakit yang sama. Senyum terus mengembang di bibir Elisa. Elisa ingin segera mengetahui hasilnya, dan Elisa yakin hasil test itu pasti cocok. Sebentar lagi ia akan menyandang status sebagai istri dari Arya Pratama.


"Pi, bisa lebih cepat lagi?" tanya Elisa tidak sabar. Ia terus menatap jam di pergelangan tangan kanan yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.


"Sabar, El, Papi tidak mungkin ngebut di situasi sepadat ini." Jawaban Tuan Andreas sama sekali tidak menenangkan putri satu-satunya itu.


"Kak Arya pasti sudah datang. El nggak mau mereka terlalu lama menunggu."


"Iya, sabar El, sebentar lagi kita akan sampai." Nyonya Sintia menoleh melihat wajah Elisa yang sudah memasang mode ngambek.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang membelah ramainya jalan ibu kota pagi ini. Hanya butuh waktu lima belas menit mereka telah sampai di parkiran rumah sakit dan segera turun mengikuti lorong-lorong menuju ruangan dokter yang menangani pemeriksaan itu.


Terlihat di sana keluarga Pratama yang ternyata sudah sampai lebih dulu. Elisa melirik sebal saat tatapannya bertemu dengan Rengganis. Begitupun Rengganis, yang membalas tatapan Elisa tidak kalah sengit, seolah keduanya memang telah bersiap dengan peperangan yang akan terjadi nanti.


Di sekitar ruangan itu sama sekali tidak ada orang selain dari dua keluarga itu, karena Tuan Pratama memang sengaja mengosongkan dan melarang siapa pun mendekat. Ruangan dokter terbuka, mereka di persilahkan masuk ke dalam guna melihat hasil tes yang sudah berada di atas meja kerja Dokter Rara.


Jantung Rengganis berdegup kencang, mengira-ngira apa isi tulisan di dalamnya. Ia sangat berharap hasil tes itu tidak cocok seperti yang Arya selalu ucapkan.

__ADS_1


Rengganis meremas kedua tangannya, hingga memperlihat buku jarinya yang memucat. Keringat dingin mulai bercucuran membasahi seluruh tubuhnya.Ia menyesal telah mengikuti permintaan Arya untuk menemaninya di sini.


Bagaimana kalau ternyata hasilnya positif? Anak yang ada di kandungan Elisa benarlah darah daging Arya. Bagaimana ia akan sanggup nanti melihat kemenangan Elisa.


Rengganis terus terdiam dengan pikirannya yang melayang-layang. Tanpa sadar entah kemana perginya suaminya itu. Hingga Nyonya Anggi datang dan menepuk pundak Rengganis yang masih terdiam, "Nak, di mana Arya?"


"Ya?" Rengganis tersentak dari lamunan. Ia segera sadar dan menatap sekeliling. Benar, Arya sudah tidak ada di di dekatnya. Padahal Rengganis ingat sekali kalau mereka masuk ke ruangan dokter sama-sama, dan Arya persis berada tepat di belakangnya.


"Rengganis?"


"Mungkin Kak Arya sedang ke toilet, Tante, sebentar lagi juga dia pasti akan kembali," serobot Elisa memotong pembicaraan dua wanita itu.


"Iya mungkin Mas Arya ke toilet, Ma," jawab Rengganis terbata. Ia sampai kehabisan kata-kata karena terlalu memikirkan sesuatu yang belum terjadi.


"Tuh, kan, masa suami pergi tidak tahu. Istri macam apa!" ucap Elisa mengejek.


"Tutup mulutmu!" Rengganis melotot sebal mendengar Elisa berusaha memprovokasi.


*****


"Lex ... !"


"Maaf, saya masih dalam perjalanan menuju rumah sakit, Tuan."


"Apa kau berhasil membawanya?"


"Iya, saya sudah berhasil membawa pria itu."


"Bagus. Kalau begitu aku akan kembali ke dalam." Arya menutup sambungan telepon dan segera melangkah menuju ruangan. Ia sudah tidak sabar mendengar dokter membacakan hasil tes itu dan segera mengakhiri semua kesalahpahaman ini.


"Bagaimana, Dok? Apa bisa kita bisa melihat hasilnya sekarang?" tanya Tuan Pratama tidak sabar.


"Tentu saja, Tuan. Nona Elisa dan Tuan Arya silahkan duduk di sini." Dokter meminta Elisa untuk duduk bersebelahan dengan Arya setelah melihat kemunculan pria itu, yang langsung di sambut senyuman manis oleh Elisa. Sedangkan Rengganis merengut kesal menatap keduanya.

__ADS_1


Dokter mulai membuka lembaran kertas berisikan hasil tes DNA di hadapan semua orang. Dokter menatap satu persatu tulisan yang ada di dalamnya. Terdiam sesaat menatap kedua wajah yang ada di hadapannya itu.


"Bagaimana, Dok, hasilnya cocok, kan?" tanya Nyonya Sintia memastikan.


"Begini, Nyonya, Tuan ... "


"Pasti hasilnya cocoklah, Mi. Dokter juga pasti udah tahu kalau ini beneran anak Kak Arya," jawab Elisa penuh percaya diri.


Arya hanya melirik sekilas seraya tersenyum sinis. Rupanya rasa percaya diri yang di miliki Elisa sejak dulu tidak pernah berkurang. Bahkan di suasana terburuk pun Elisa akan selalu membanggakan dirinya sendiri.


Sementara Rengganis sendiri masih harap-harap cemas. Berulang kali Rengganis menghela napas pelan untuk menetralkan kembali detak jantungnya yang semakin tidak beraturan.


Nyonya Rani yang berada satu ruangan menyadari semua kekhawatiran putrinya. Berulang kali mencoba menenangkan wanita hamil itu agar tidak terlalu tegang dan kembali rileks.


"Bacakan hasilnya sekarang juga, Dokter!" Tuan Pratama membuka suara. Ia begitu geram karena sejak tadi harus mendengar obrolan yang tidak penting.


Dokter kembali melihat hasil tes itu,dan kemudian membuka suara, "Dari hasil pemeriksaan ternyata DNA Tuan Arya dan bayi yang ada di dalam kandungan Nona Elisa hasilnya ..."


AKU CUMA MAU BILANG


LIKE


KOMEN


MAKASIH BUAT YANG MASIH SETIA, JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KU YANG LAIN๐Ÿ‘‡


MAAFKAN AKU MENDUA


BUKAN ANAK PELAKOR


KAU AMBIL KEKASIHKU, KUPACARI SUAMIMU


๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

__ADS_1


__ADS_2