
Rengganis berlari keluar kamar dengan perasaan yang teramat hancur. Bagaimana tidak, berkali-kali Arya membentaknya tanpa alasan yang jelas. Salahkah jika ia ingin menanyakan sesuatu yang mengganjal di hatinya? Ah, kenapa terlihat menyedihkan? Rengganis menarik selimut, dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Malam ini Rengganis memutuskan untuk tidur di kamar tamu.
*****
"Sial! Kenapa aku bisa seceroboh ini, pasti Rengganis sudah melihatnya." Memaki dirinya sendiri, lalu meremas lembaran nota yang tadi sempat Rengganis temukan. Arya .enyusul istrinya keluar kamar.
Arya membuka pintu dengan hati-hati karena tidak ingin mengusik wanita yang ada di dalamnya. Ia mendekat, dan semakin dekat. Arya merasakan debar jantungnya yang semakin cepat. Rasa bersalah semakin menggunung tinggi begitu ia melihat wajah terlelap sang istri. Arya yakin, Rengganis tadi sempat menangis sebelum meninggalkannya, terlihat jelas dari bekas air mata di pipi wanita itu.
"Maaf," ucap Arya lirih. Mengecup kening Rengganis, Arya lantas menaiki ranjang, dan ikut berbaring disana. Arya memeluk tubuh Rengganis dari belakang, lalu menyembunyikan wajahnya di tengkuk sang istri. Cukup lama ia menghirup wangi tubuh Rengganis, mengusap perut wanita itu, hingga lenguhan kecil terdengar.
Rengganis mengerjap. Ia tentu sangat terkejut, tapi harum wangi tubuh dari seseorang dibelakangnya jelas Rengganis tahu, wangi tubuh ini yang selalu ia rindukan.
"Mas?" Rengganis bergumam pelan seraya hendak berbalik, tapi Arya menahannya, "Kamu sejak kapan disini?"
"Maaf aku sudah membentakmu."
Jelas saja Rengganis terkejut, kenapa sikap Arya tiba-tiba lembut, berbeda dengan beberapa jam yang lalu. "Kamu sejak kapan ..." Lalu Rengganis teringat lembaran-lembaran nota yang tadi ia sempat temukan dari tas milik Arya. "Kamu belanja untuk siapa?" Rengganis ganti pertanyaannya dengan cepat.
__ADS_1
"Mas?"
"Kamu pasti capek, tidur lagi aja."
"Mas ... "
"Udah lama aku tidur tidak memelukmu seperti ini."
Rengganis pun meraskan itu, sejak kapan? Rasanya lama sekali, meski baru satu minggu setelah pertengkaran mereka malam itu. "Kamu belanja untuk siapa?" Rengganis mengulangi lagi pertanyaannya tadi yang belum sempat Arya jawab.
"Aku menemani Mama belanja."
Arya membungkam, ia teringat tadi siang saat tiba-tiba Elisa datang ke kantor. Dengan tidak tahu malunya ia terus merengek, meminta Arya untuk menemaninya jalan-jalan. Tentu saja Arya langsung menolak. Di samping ia sedang banyak kerjaan, Arya juga sama sekali tidak tertarik sedikitpun dengan gadis itu.
Namun sepertinya Elisa tidak kehilangan akal, gadis itu terus merengek dan mengancam akan menghubungi Rengganis saat itu juga. Elisa juga mengatakan akan menceritakan masalah kehamilannya pada Rengganis jika Arya tidak menuruti kemauannya itu.
Arya mengeram frustasi menghadapi Elisa. Lama-lama mungkin ia akan kehilangan akal sehatnya jika tidak segera menemukan bukti rekaman CCTV yang asli. Ah ya, kini Arya kembali merasa bersalah pada istrinya. Sudah banyak kebohongan yang ia lakukan pada Rengganis, banyak pula kesakitan yang ia berikan. Tapi Arya tidak tahu sampai kapan ia akan menyembunyikan semua ini pada Rengganis, ia juga tidak tahu harus bersikap seperti apa.
__ADS_1
Ck!
Bisa tidak sih ia melupakan Elisa sejenak, sialan! Ia ingin memeluk Rengganis hingga pagi menjelang.
"Mas ..."
Arya memeluk tubuh Rengganis kian erat, seolah tahu apa yang akan sang istrinya ucapkan. Sungguh, Arya belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Aku akan menelepon Mama sekarang juga biar kamu percaya." Arya lantas ingin beranjak dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja.
Rengganis menggeleng, TTidak perlu." Rengganis menahan tangan Arya yang hendak melepaskan pelukannya, "Aku percaya padamu." Meski masih ada setitik keraguan di hati, Rengganis memilih mengalah dan percaya pada suaminya. Karena tidak mungkin bukan, ia menelepon mama mertuanya selarut ini, apalagi hanya untuk menanyakan perihal nota belanja. Apa yang akan mereka pikirkan nanti?
Arya masih melihat keraguan terpancar dari dalam diri istrinya. Ia pun merasa remasan kuat dibalik dadanya. Ketidakberdayaan ini bukan hanya berhasil melukai Rengganis, tapi juga berhasil membuatnya tersiksa.
"Kamu bisa telepon Mama besok pagi, dan menanyakan semuanya." Arya kembali membuka suara untuk meyakinkan kembali istrinya. Walaupun sejujurnya Arya juga khawatir kalau sampai benar Rengganis menghubungi mamanya. Entah apa yang akan terjadi nanti.
"Tidak." Rengganis kembali menggeleng, menandakan ia sudah benar-benar yakin dan percaya dengan apa yang di ucapkan suaminya.
__ADS_1
Senyum mengembang di bibir Arya. Meski kini ia berbohong lagi, Arya terpaksa. Setidaknya Rengganis tidak akan merasa tersakiti dengan mendengar kebenaran dari orang lain. Kali ini Arya berjanji akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara jujur, tentang semuanya pada Rengganis. Namun untuk sekarang sepertinya Arya harus terus berusaha menyembunyikan masalahnya, sampai kebenaran bisa ia dapatkan.
MAKASIH, TINGGALIN JEJAK DONG BUAT AKUHπππ