Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Usaha Roy


__ADS_3

Roy meninggalkan rumah dengan keadaan hati yang sangat kacau. Percuma saja ia meneruskan pertengkaran jika akhirnya ia yang akan terus tersakiti. Sebenarnya bukan Roy mengemis cinta pada Elisa, ia hanya ingin memberikan kasih sayang yang utuh untuk anaknya kelak, dan ingin hidup normal seperti pasangan yang lain.


Tapi sekarang ia sadar, sekuat apa ia berusaha membuat Elisa jatuh cinta, akan percuma jika gadis itu sendiri tidak pernah membuka hati.


Roy melajukan mobilnya ke arah apartemen yang selama dua bulan ini ia tinggalkan. Keluar dari mobil ia melangkah masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai 8. ampai di sana Roy segera keluar lift dan melangkah menuju pintu kamarnya.


Dengan access card yang ia bawa dari rumah, Roy masuk ke dalam dan segera meraih saklar lampu yang ada di ruangan tersebut. Roy merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu sembari merogoh ponsel yang berada di saku jas, menghubungi seseorang di seberang sana.


"Tolong kau carikan hadiah yang cocok untuk bayi perempuan. Aku minta malam ini juga kau harus mengantarnya ke alamat yang akan aku kirimkan," perintahnya pada seseorang.


"Baik, Tuan."


Roy menutup telepon dan mengirimkan alamat Rengganis kepada orang suruhannya. Meletakkan ponsel di atas meja, ia memijit pelipisnya yang sedikit nyeri akibat memikirkan masalah yang tak kunjung usai. Dengan masih mengenakan sepatu kerja, Roy mencoba memejamkan mata, mengistirahatkan tubuhnya yang teramat lelah.


*****


Elisa naik menuju kamar dengan wajah yang masih kesal. Setelah di tinggal pergi oleh Roy begitu saja di ruang tengah, Elisa langsung mengunci pintu kamar agar suaminya itu tidak bisa masuk dan tidur satu ranjang dengannya. Memang seperti itu kebiasaan Elisa selama ini. Setelah bertengkar dengan Roy, Elisa pasti akan mengurung diri di kamar dan tidak akan menemui laki-laki itu selama beberapa hari.


Sedangkan Roy biasanya akan banyak menghabiskan waktu di ruang kerja, lalu beristirahat di kamar tamu. Namun kali ini Roy memilih meninggalkan rumah dan pergi menuju apartemen miliknya. Mungkin Roy sangat sakit hati atau sekedar ingin menenangkan dirinya sejenak.


Sudah lebih dari seminggu Roy tidak lagi pulang ke rumah Elisa seperti biasanya. Hal itu membuat Elisa heran, karena selama ini mereka memang sering bertengkar, tapi tidak sampai tiga hari Roy akan menyapanya kembali dan bersikap seperti biasa.


Elisa menuruni tangga menuju meja makan yang sudah tertata rapi hidangan di atasnya. Ia melirik Mbok Nah yang tengah asik membereskan peralatan masaknya di ruangan dapur.


"Mbok ...?"


Yang di panggil langsung menoleh dan terkejut saat melihat majikannya sudah duduk akan memulai sarapannya. Mbok Nah meninggalkan pekerjaannya lantas menghampiri Elisa.


"Iya, Non."


"Apa Kak Roy belum pulang juga?" tanya Elisa meneguk segelas susu hamil yang sudah Mbok Nah siapkan sedari tadi.


"Belum, Non."


"Apa Kak Roy tidak menelepon?" tanya Elisa lagi.


"Iya, Non. Kemarin Tuan Roy telepon kesini," jawab Mbok Nah kemudian. Padahal setiap hari Roy memang menghubungi Mbok Nah untuk menanyakan kabar Elisa. Tapi Roy melarang Mbok Nah memberitahu pada Elisa.


"Apa yang di bicarakan Kak Roy, Mbok?"


"Tuan bilang akan tinggal di apartemen untuk sementara waktu."


"Berarti selama ini Kak Roy tinggal di sana? Apa mungkin dia masih marah sama aku ya, Mbok?"


"Mbok tidak tau, Non. Mungkin Tuan Roy hanya ingin menenangkan diri." Mbok Nah menjawab ragu. Ia takut salah bicara dan akan menyinggung perasaan Elisa nantinya.


"Oh ... " Elisa melanjutkan sarapannya kembali, seakan ia tidak peduli walaupun sudah lama suaminya itu tidak pulang ke rumah.


Sedangkan Mbok Nah kembali ke dapur meninggalkan Elisa yang masih asik dengan sepotong roti yang tengah ia nikmati. Wanita paruh baya itu menghela napas berat, kenapa ada wanita yang begitu keras kepala seperti Elisa. Padahal setiap hari Roy selalu mencemaskan keadaan istrinya itu. Mbok Nah sampai hapal setiap kali laki-laki menelepon,

__ADS_1


'Mbok,.bagaimana keadaan Elisa?


Apa dia makan dengan baik?


Tolong pastikan El minum vitamin dengan teratur ya, Mbok.


Kalau El menginginkan sesuatu, katakan. Biar saya yang mencarikannya.


Kalau ada apa-apa tolong segera hubungi saya.'


Setiap kali Elisa menginginkan sesuatu Mbok Nah akan langsung menghubungi Roy, dan ia pasti akan segera datang membawakannya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan Elisa.


Mbok, tolong jangan kasih tau El kalau saya yang membelinya.


Mbok Nah hanya bisa mengiyakan semua permintaan Roy. Meski hatinya sedikit iba melihat begitu besar perjuangan Roy untuk bisa mendapatkan hati Elisa. Tapi nyatanya Elisa sama sekali tidak peduli dengannya.


*****


Toko Perlengkapan bayi...


"Tolong siapkan satu bingkisan terbaik untuk bayi perempuan," perintah seorang pria yang mengenakan kaca mata hitam.


"Baik, Tuan. Apa Anda ingin menambahkan kalimat ucapan selamat atau semacamnya?" tanya pelayan toko pada pria tersebut.


Pria itu tampak terdiam. Tadi saat di telepon tuannya hanya bilang menginginkan bingkisan dan mengiriminya alamat. Ia juga lupa tidak menanyakan ucapan apa yang harus ia tulis nantinya.


Kenapa lama sekali tidak di angkat. (iya lah, atuh Roy lagi bobok tauk!) wkwkwk author.


Dering ke tujuh baru ia bisa mendengar suara majikannya yang sedikit serak.


"Ada apa?" Terdengar helaan napas berat dari seberang sana


Apa bos sedang bersama istrinya? Bagaimana kalau saya mengganggu.


"Tuan?"


"Apa kau sudah mengirimnya?" Roy menguap, lalu melirik jam di tangan. Sudah lebih dari satu jam ia tidur, jadi ia pikir anak buahnya telah menyelesaikan pekerjaannya itu.


"Belum, Tuan." Menjawab takut-takut.


"Kau belum mengirimnya juga!" Suaranya sudah terdengar marah.


"Maaf, Tuan. Saya harus mencari toko terbaik untuk memesannya," jawab pria itu beralasan. Padahal pria itu harusnya bilang kalau dia harus mencari toko yang masih buka selarut ini.


"Lalu, kenapa kau menghubungi ku?"


Tuh, kan, benar. Pasti bos merasa terganggu.


"Maaf, Tuan, saya hanya ingin bertanya, ucapan apa yang akan di tulis pada bingkisan itu?"

__ADS_1


Di seberang sana tampak terdiam. Pria masih menunggu, mungkin sang bos tengah memikirkan kata-kata yang cocok untuk di tulis pada bingkisan itu.


"Kau bilang saja, suruh menulisnya dengan ucapan ....."


"Baik, Tuan. Apa ada lagi yang harus saya kerjakan?"


"Tidak. Kirimkan saja jika sudah selesai."


"Baik, Tuan."


klik,


Pria itu lalu menghampiri seorang pelayan yang tengah menunggunya sedari tadi.


"Bagaimana, Tuan?"


"Kau tulis saja ********************** sebagai ucapan, dan letakkan di dalam bingkisan itu."


"Baik, Tuan." Pelayan itu lantas memilih hadiah terbaik yang ada di toko itu untuk seorang bayi perempuan, lalu menyisipkan ucapan selamat di dalamnya seperti permintaan pria tadi.


20 menit berlalu ...


"Silahkan, bingkisannya sudah siap, Tuan." Pelayan menyerahkan sebuah bingkisan besar beserta nota pembayaran.


"Tolong kirimkan sekarang juga ke alamat ini." Pria itu memberikan sebuah alamat pada pelayan itu.


"Maaf, Tuan, tapi toko kami sudah mau tutup," balas pelayan itu menolak halus permintaan aneh sang pembeli. Memang sekarang sudah sangat larut dan pembeli pun sudah tidak ada lagi.


"Saya akan membayar pengirimannya 5 kali lipat," ucap pria itu bernegosiasi sembari mengeluarkan beberapa lembar uang.


Sang pelayan tampak menimbang tawaran pembelinya itu, dan akhirnya menerimanya. Jujur, ia sedang butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya.


Akhirnya Tuhan menjawab doa ku lewat Tuan satu ini.


"Pastikan bingkisan itu sampai malam ini juga." Pria itu melangkah menuju mobil dan bergerak meninggalkan pelataran toko. Sang pelayan masih bingung menatap lembaran uang yang ia terima, lantas segera menghitungnya.


Kenapa ini banyak sekali?


Bahkan uang yang ia terima jumlahnya lebih dari perjanjian awal yang mereka sepakati.


Terima kasih Tuhan ... Kau sangat baik.


Pelayan itu pun cepat-cepat melihat alamat yang ada di tangan dan lantas segera mengantarkan bingkisan hadiah itu agar segera sampai di tempat tujuan. Sedangkan pembeli misterius itu memastikan dari jauh bahwa kirimannya telah sampai dengan selamat. Memfoto dari kejauhan saat pelayan tadi menyerahkannya pada Satpam, lantas mengirim foto tersebut pada sang bos.


LIKE


KOMEN


DONG????

__ADS_1


__ADS_2