Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Ekstra Part(Roy Galau)


__ADS_3

"Mama,Ayah...?"


Keduanya tersentak kaget saat mendengar suara Rey yang berada tepat di sebelahnya,bocah kecil itu berjalan menghampiri mereka dengan masih mengucek kedua buah matanya karena baru saja terbangun akibat suara gaduh orang tuanya.


"Rey...?"Dengan cepat Roy melepas tangan Elisa yang tadi sempat ia genggam,lalu bergerak cepat menuju bocah kecil itu.


"Ayah udah puyang?"Tanya Rey dengan wajah polos,membuat Roy tersenyum lantas mengecup puncak kepala bocah itu.


"Maaf,Ayah baru sempat datang kemari."Balas Roy lalu menyerahkan paper bag yang ia bawa.


"Ini apa?"Tangan mungil itu bergerak lincah membuka paper bag yang baru saja ia terima dari ayahnya,dan seketika matanya berbinar senang."Yeyyyy,makasih Ayah."Rey langsung mencium pipi sang Ayah yang tengaj jongkok tepat di depan wajahnya.


"Ayo kita main."


"Lets go!!!"Rey tampak sangat bersemangat,dengan mainan baru yang ada di tangan,keduanya berjalan beriringan menuju kamar bocah laki_laki itu.


"Selalu saja aku di lupakan."Dengus Elisa sebal,bibirnya tampak mengerucut sembari memandangi dua Pria yang telah hilang di balik pintu kamar anaknya.


*****


"Ayah kenapa baru pulang?"Tanya Rey di sela_sela mereka bermain.Bocah kecil itu menatao wajah sang Ayah yang sedari tadi terlihat murung.


"Ayah sedang banyak kerjaan,sayang."Roy memaksakan senyuman sembari mengusap kepala Rey gemas.


"Kasihan Mama terus nungguin Ayah pulang."Kata anak kecil itu lagi,membuat Roy terdiam sambil menghela napas berat.


Nungguin?Rasanya itu tidak mungkin...


Mungkin lebih tepatnya Elisa akan sangat senang jika selamanya ia tidak pulang ke rumah itu.


Roy masih sangat ingat bagaimana terakhir kali Elisa menolaknya,wanita itu memang mengatakannya dengan bahasa yang sedikit lebih halus,tidak seperti awal_awal mereka menjalani pernikahan.Tapi tetap saja,bagi Roy itu hanyalah alasan tak masuk akal karena di hati wanita itu masih menyimpan satu nama laki_laki yang sangat dia cintai.


"Yah...?"Rey menggoyangkan bahu laki_laki itu pelan,karena sedari tadi tak melihat reaksi apapun dari ayahnya.


"Sudah,ayo kita main.Rey suka 'kan hadiah yang Ayah kasih?"Laki_laki itu tersenyum ke arah putranya,mengalihkan topik pembicaraan lain agar Rey tidak kembali membahas perihal mamanya.


"Suka,Yah?"Jawab bocah itu penuh semangat,membuat Roy lega karena berhasil mengalihkan perhatian bocah itu.


Dua jam lebih Roy menemani putranya bermain_main menghabiskan waktu sore akhir pekan ini,hingga bocah kecil itu tampak kelelahan dan tertidur pulas dengan masih memegang mainan yang tadi baru ia dapatkan dari sang Ayah.


Setelah memastikan anaknya tidur dengan nyaman,Roy membereskan mainan yang berserakan di dekat tempat tidur bocah itu,lantas melangkah 'kan kaki menuju pintu dan menutupnya perlahan.


"Kak...?"

__ADS_1


Elisa sudah berdiri di depan pintu kamar dengan pakaian tidur yang biasa ia kenakan setiap harinya.Wanita itu tampak cantik dengan polesan make up tipis dan rambut panjannya yang masih basah tergerai begitu saja.Roy sampai menelan salivanya kasar saat memandang tubuh wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Apa Rey tidur?"Tanya Elisa,membuat lamaunan laki_laki itu buyar begitu saja.


"Ya."Jawab Roy dengan suara datar,ia segera memalingkan wajah agar otak brengseknya tidak kembali berfantasi liar dan membuatnya harus kembali tersiksa.


"Apa Kak Roy akan menginapa di sini?"Tanya Elisa pelan,ia tau mungkin laki_laki di depannya ini masih marah perihal kejadian waktu itu.


"Kenapa?Apa kau tidak suka jika aku menginap di sini?"Ucap Roy dengan pandangan sinis."Tenang saja,aku juga tidak tertarik untuk tetap berada di sini."


"Bu_bukan itu maksudku."Elisa menggeleng cepat,menampik semua tuduhan suaminya itu.


"Aku akan pulang ke apartemen,dan akan tetap mengunjungi anakku seminggu sekali."Ucapnya tegas,Roy segera melangkah meninggalkan Elisa yang masih berdiri mematung dengan raut wajah yang tak bisa ia artikan.


Maaf,dari awal ini memang salahku...


Elisa memegang dadanya sendiri,kenapa baru sekarang ia merasa begitu sangat kehilangan.Padahal sikap Roy yang seperti sudah biasa ia lihat saat keduanya bertengkar.Namun kali ini rasanya ada berbeda,Elisa terus saja terbayang akan foto_foto Roy yang tengah bersama Alina di restoran siang tadi.Rasanya ia sangat tidak rela dan ada perasaan sedikit cemburu yang tiba_tiba hadir di hatinya.


*****


"Roy bagaimana kabar Elisa?"Alina tampak berjalan mendekati meja kerja Roy dan meletakkan beberapa berkas di hadapan laki_laki itu.


"Masih sama seperti biasanya."Jawabnya acuh,ia melihat berkas satu persatu lantas membubuhkan tanda tangan di dalamnya.


"Apa dia masih menolakmu?"


"Entah lah,Lin.Aku sudah berusah,tapi sepertinya wanita itu begitu keras kepala."Jawab Roy dengan nada putus asa.


Alina menyembunyikan senyuman dan berpura_pura ikut sedih mendengar jawaban dari laki_laki itu.Kini peluang yang selalu ia tunggu semakin terbuka lebar,ia tinggal merayu sedikit saja laki_laki di hadapannya ini,dan ia yakin Roy dengan senang hati akan menerimanya kembali.


"Aku turut prihatin."Ucapnya kemudian,wanita itu tampak lebih bersemangat sekarang untuk mendekati Roy lagi.


"Tolong tinggalkan aku sendiri Lin,dan katakan pada siapa 'pun yang datang,aku tidak ingin di ganggu."Ucap Roy dengan suara dingin,lalu ia menyodorkan berkas_berkas yang sudah selesai ia tanda tangani.


"Baik,aku akan pergi sekarang."Alina melenggang pergi dengan senyum sejuta watt.Ia segera menutup pintu lantas melangkah kembali menuju meja kerjanya.


"Hallo,sayang?"Ucap Pria di seberang sana.


"Akhirnya waktu yang kita tunggu_tunggu akan segera tiba."Ucap Alina dengan wajah berbinar.


"Apa maksudmu?"Tanya Pria itu tidak mengerti.


"Aku akan segera menyingkirkan wanita bodoh itu,lalu membuat Roy kembali ke pelukanku dan stelahnya kita akan menguras habis harta mereka."Jawab Alina tanpa basa_basi.

__ADS_1


"Apa ini tentang El__...?"


"Tentu saja,"Jawab Alina gemas,ia sampai menghentak kakinya karena terlalu kesal dengan pertanyaan kekasihnya itu.


"Oke,oke.Aku akan selalu mendukungmu,dan jangan lupa tranferannya bulan ini,muachhh."Terdengar Pria itu membahas soal uang bulanan yang selalu Alina berikan,membuat wanita itu tambah kesal dan sedikit emosi.


"Bukannya baru kemarin aku memberikannya padamu."Ucap Alina dengan wajah penuh emosi.


"Maaf,Sayang?Yang kemarin sudah aku gunakan untuk biaya investasi,kamu percaya sama aku 'kan?"Ucapnya memelas.


Alina memijit pelipisnya sendiri,kenapa sekarang jadi ia yang merasa di poroti.Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak pernah mengeluarkan uang sepeser 'pun untuk seorang laki_laki yang mencintainya.


"Iya,iya nanti aku tranfer lagi."Akhirnya Alina memilih mengalah daripada terlalu lama berdebat dengan Pria itu.


"Makasih sayang,jangan lupa nanti malam aku menunggu mu di tempat biasa.Aku sangat merindukanmu."Ucapnya dengan nada menggoda,membuat tubuh Alina seketika meremang,membayangkan adegan panas yang akan mereka lakukan nanti ketika bertemu.


Ia bukan wanita munafik yang tidak merindukan belaian seorang laki_laki,dan dari kekasihnya lah Alina selalu melakukan hubungan terlarang itu demi menyalurkan hasratnya setiap saat.


Alina menutup telepon genggam dan ia simpan kembali ke dalam tasnya,melanjutkan pekerjaanya lagi sembari memastikan tidak ada seorang 'pun yang masuk ke ruangan Roy hari ini.


"Siapa sayang?"Tanya seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan masih menggunakan handuk yang melilit tubuhnya.


"Siapa lagi kalau bukan wanita bodoh itu."Jawab Anton di sertai gelak tawa bangga.


"Oh,mesin ATM mu."Jawab wanita itu tersenyum mengejek,ia mendekat ke arah ranjang dan duduk di dekat Anton yang masih dengan keadaan polos.


"Biarkan saja dia yang bekerja,toh kita tinggal menikmatinya 'kan?"Anton kembali tergelak,hingga suaranya memenuhi langit_langit kamar.


"Tapi tetap saja aku tidak mau berbagi kehangatan dengannya."Ucap wanita itu manja,wajahnya di buat sesedih mungkin di hadapan Pria itu.


"Tenang saja,setelah dia berhasil menguras semua harta bosnya yang sama_sama bodoh itu,aku akan segera merebutnya dan menendangnya jauh_jauh."Anton tersenyum menyeringai,menampilkan wajah aslinya.


"Benarkah?"Wanita itu semakin terlihat menggoda dengan tubuh yang di condongkan ke arah Pria itu,bahkan sekarang Anton bisa merasakan miliknya yang kembali menegang saat melihat pemandangan indah di depannya.


"Tentu saja."Anton menarik tangan wanita itu cepat,lantas membuang handuk yang tadi masih melilit di tubuh polos wanita itu.


"Mari bersenang_senang kembali...?"Pria itu kembali menjamah dan menikmati permainan itu sampai waktu menjelang sore.


AKU MAH RADAK GUMUS NULIS PART MEREKA TAU,WKWKWK


LIKE


LIKE

__ADS_1


LIKE


KOMEN!!!


__ADS_2