Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Syukuran


__ADS_3

Seminggu sudah berlalu. Seperti yang sudah di rencanakan, hari ini Rengganis akan melaksanakan syukuran kecil-kecilan di rumah keluarga Ardian. Memang Rengganis sendiri yang memilih ingin melakukannya disini, dan tentu dengan senang hari Mama Rani menyetujuinya.


Acara ini hanya akan di hadiri keluarga. Arya menggandeng tangan Rengganis memasuki rumah yang akan di selenggarakannya pesta. Di sana sudah terlihat Mama Anggi dan Papa Pratama yang tengah mengobrol dengan Mama Rani. Tak ketinggalan Bu Siti yang memang sejak tadi menunggu kedatangan Rengganis, wanita itu sangat bahagia mendengar kabar kehamilan putrinya.


"Selamat malam semuanya," sapa Arya berjalan menyalami semua orang yang ada di sana.


"Malam, Sayang, bagaimana kabar kalian?" tanya Mama Rani menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Kami baik, Ma, bagaimana kabar Mama sendiri?" tanya Rengganis kembali.


"Kabar kami sangat baik, Nak, ayo duduk di sini. Kalian pasti capek setelah perjalanan ke sini." Mama Rani tahu saat akhir pekan seperti ini pasti jalanan sangat macet.


"Makasih, Ma. Oh ya, gimana kabar Mama dan Papa?" tanya Rengganis kepada kedua mertuanya.


"Kabar kami juga baik Nak. Bagaimana, apa kamu masih sering merasa mual?" tanya Mama Anggi pada Rengganis.


"Sudah lebih baik, Ma. Jadang kalau pagi masih sering mual, tapi sudah tak separah dulu." Rengganis tersenyum.


"Syukurlah, yang penting kamu harus jaga kesehatan, kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi Mama ya?"

__ADS_1


"Makasih, Ma." Rengganis sangat bersyukur mempunyai mertua yang sangat baik.


"Sudah, nanti saja kita lanjutkan mengobrol, sekarang kita makan malam dulu." Mama Rani mengajak semua untuk makan malam. Mereka menuju meja makan yang sudah di penuhi dengan berbagai masakan.


Semua nampak bahagia menikmati hidangan yang ada di hadapannya, apalagi Rengganis yang sudah lama tidak merasakan masakan ibuny, Rengganis sangat lahap menyantap berbagai makanan itu.


"Maaf, sepertinya aku terlambat," sapa seorang gadis cantik yang baru datang. Semua menghentikan kegiatannya, dan menoleh ke arah sumber suara.


"Hai, El, ayo sini duduk. Tante kira kamu gak akan datang." Nyonya Rani berbinar senang.


"El pasti datang kok, Tan, 'kan udah janji." Elisa mendudukkan tubuhnya di samping Nyonya Rani.


"Sangat baik, Nak. Oh ya, bagaimana kuliah kamu? Tante dengar kamu melanjutkan di Inggris ya?"


"Iya, Tan. Tapi sekarang Lisa kuliah di sini, Papi ingin Lisa mengurus perusahaannya," jawab gadis itu.


"Baguslah, jadi kamu bisa sambil belajar mengurus perusahaan."


"Iya juga sih, Tan, tapi Lisa pengennya nanti kalau sudah menikah." Melirik ke arah Arya yang tampak tak peduli.

__ADS_1


"Rengganis, kak Arya, selamat ya semoga sehat selalu," ucap Elisa tersenyum kaku.


"Makasih." Arya yang menjawab tapi dengan wajah dingin.


Sok cuek, awas aja nanti!


*****


Makan malam di lanjutkan dengan di selingi obrolan keluarga. Semua nya nampak senang. Hingga acara selesai Rengganis langsung berpamitan dan mengajak Arya segera pulang. Rengganis beralasan sudah sangat lelah dan ingin segera istirahat. Padahal Rengganis hanya tidak suka melihat Elisa yang terus menatap suaminya dengan tatapan tak biasa.


"Tan, El pulang dulu ya?" pamit Elisa pada Nyonya Rani.


"Lho, kamu nggak mau nginep, El? Biasanya kamu paling seneng kalau suruh nginep di sini."


"Makasih ,Tan. Lain kali aja, El tadi nggak ijin Papi kalau mau nginep di sini, takutnya Papi marah," balas gadis itu.


"Sejak kapan Elisa peduli dengan ijin papinya, biasanya juga di ijinkan atau tidak dia akan tetap menginap di sini," gumam Nyonya Rani.


"Ya sudah, kamu hati-hati ya, salam buat Papi dan Mami kamu."

__ADS_1


"Baik, Tante." Elisa melangkah meninggalkan rumah Nyonya Rani. Di depan sudah ada supir yang memang menunggunya sejak tadi.


__ADS_2