Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Terungkap


__ADS_3

"Bagaimana, Lex?"


"Seperti dugaan saya, Tuan, pelakunya memang ..."


"Jadi, benar dia orangnya?" tanya Arya sekali lagi. Arya hanya ingin memastikan informasi yang Alex berikan adalah benar.


"Benar, Tuan. Orang suruhan saya sudah mengikutinya dari beberapa hari ini," ucap Alex di seberang sana.


"Brengsek!" Arya menggebrak meja kerja di depannya, menghempaskan semua barang-barang yang ada di atas meja ituhingga semuanya jatuh berceceran di lantai. Tidak puas dengan semua itu, lantas Arya meraih gelas beling yang ada di sampingnya, di lemparkannya gelas itu hingga hampir mengenai wanita yang kini tengah berdiri di hadapannya.


"Tuan ... ?"


"KELUAR!" sentak Arya cepat. Ia sangat geram dengan kelakuan pria brengsek itu yang hampir saja memporak-porandakan rumah tangganya, hanya untuk menutupi semua kelakuan busuknya selama ini.Beruntung Rengganis tidak sampai meminta pisah darinya. Kalau saja itu terjadi, entah apa yang akan Arya lakukan.


Memang Rengganis sempat marah dan mendiamkan Arya. Bahkan Rengganis menolak pulang ke rumah, dan memilih tinggal bersama orang tuanya hanya untuk menghindari Arya. Namun karena Arya terus membujuk, akhirnya Rengganis mau memaafkan dengan syarat Arya harus pulang tepat waktu, dan bisa membuktikan kalau dirinya tidak bersalah.


*****


Susi yang saat itu sedang berada di ruangan Arya sampai menggigil ketakutan. Wanita itu baru melihat wajah murka sang bos. Hingga Susi harus menjadi sasaran kemarahannya. Padahal ia tidak tahu menahu apa masalahnya. Susi lantas bergegas keluar dari ruangan Arya, dan menutup pintu dengan sangat hati-hati. Masih di depan ruangan bos, Susi memegangi dadanya yang berdebar sangat kencang.


Apa salahku? Kenapa Tuan Arya tiba-tiba marah? Dan, siapa tadi, Alex? Apa yang sebenarnya mereka bicarakan.


Susi di buat bingung dengan sikap Arya hari ini. Tadi pagi sang bos datang ke kantor dengan wajah cerah, dan juga senyum yang tak lepas dari bibirnya. Hingga semua karyawan kantor heran melihat sikap tuannya yang biasanya acuh, mau membalas sapaan dari para karyawan.


Tapi kenapa tadi tiba-tiba marah-marah? Bahkan membanting semua berkas yang ada di atas meja kerjanya. Padahal berkas itu penting, yang akan mereka gunakan saat meeting siang nanti.

__ADS_1


Kini entah berkas itu sudah berbentuk apa? Yang bisa Susi lakukan sekarang hanyalah menyusun kembali pekerjaannya, dan menyerahkannya nanti pada sang bos saat situasi sudah membaik.


*****


Arya mendesah kasar, mencoba menetralkan kembali emosinya. Hampir saja Arya hilang kendali dan menghancurkan semua barang-barang di ruangannya. Lagipula siapa yang tidak kesal, tiba-tiba ia di tuduh meniduri seorang gadis hingga membuatnya hamil. Tapi anehnya, gadis itu sendiri mengatakan dengan sangat yakin kalau memang Arya lah yang bersamanya pada malam itu.


Entah memang Elisa yang terlalu mabuk, hingga ia tidak bisa mengenali orang, atau memang Elisa sengaja mencari celah untuk menghancurkan rumah tangganya. Tadinya Arya sempat berpikir seperti itu, tapi saat mengetahui kebenarannya, Arya tahu bahwa Elisa sebenarnya juga tidak sengaja menuduhnya. Elisa hanya mengatakan apa yang dilihatnya ketika tengah mabuk, walaupun ia salah menduga orang lain dan menganggapnya sebagai Arya.


walaupun Arya yang paling banyak terkena imbasnya disini. Dari ia terkena amukan sang papa, dan juga Rengganis sampai harus di rawat di rumah sakit akibat pendarahan. Tapi tetap saja Arya kasihan memikirkan bagaimana perasaan Elisa nanti jika tahu orang yang telah melecehkannya tak lain adalah orang kepercayaan papinya sendiri. Ah, kenapa juga Arya harus memikirkan orang lain?


Arya baru ingat, kalau tadi ia sempat marah dan membuat Susi lari ketakutan. Padahal keberadaan Susi tadi di ruangannya hanya ingin meminta tanda tangan. Tapi tanpa sadar Arya telah membentak dan mengusirnya.


Bagaimana tidak, tadi Alex menghubunginya dan menceritakan semua tentang penyelidikannya selama ini. Ternyata memang Roy dalang di balik kasus yang menimpa Elisa. Roy sengaja menghilangkan sebagian potongan rekaman CCTV di hotel itu. Parahnya lagi, kini Roy sudah mengetahui kehamilan Elisa, tapi dia malah tidak mau mengatakan dengan jujur pada keluarga Tuan Andreas. Roy malah memilih diam dan menyembunyikan semuanya.


*****


"Iya, Tuan," sahut Alex dari seberang sana. Ia sudah menduga kalau Arya akan segera menghubunginya lagi, setelah tadi sempat terputus secara sepihak karena Arya emosi dan sedikit membuat kerusuhan.


"Awasi dia! Kalau sampai dia tidak mau mengakui sendiri perbuatannya, seret dia nanti saat hasil tes DNA itu keluar!" perintah Arya pada Alex


"Baik, Tuan."


Arya meletakkan kembali ponsel miliknya ke atas meja kerja. Di lihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangan, lantas ia mengacak rambutnya kasar.


"Sus, kamu ke ruangan saya sekarang!" titah Arya pada Sekretarisnya melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Baik, Tuan."


Susi bimbang antara masuk ke ruangan bos, atau memilih diam di ruangannya. Ia masih takut dengan sikap Arya yang tadi tiba-tiba membentaknya. Memberanikan diri, Susi memilih masuk ke ruangan itu, meski dengan detak jantung yang kian cepat. Ia memberanikan diri melangkah ke hadapan Arya, seraya menunduk dan meremas ujung kemeja kerjanya.


"Tuan."


"Sus, soal tadi saya minta maaf," ucap Arya tanpa basa-basi. Ia tidak ingin melihat Susi yang terlihat ketakutan.


"Iya, Tuan. Saya tidak apa-apa." Susi mengangguk. Ia melihat sekeliling ruangan yang masih tampak berantakan. Sama seperti saat di tinggalkannya beberapa menit yang lalu. Lantas ia menengok ke arah bosnya yang terlihat tengah duduk dengan wajah yang kusut dan terlihat berantakan.


Oh, Ya Tuhan ... Kenapa orang tampan dalam keadaan apapun masih saja tidak hilang ketampanannya. Susi menjerit dalam hati, memuji ciptaan Tuhan yang begitu indah yang terpampang jelas di depan mata.


"Hei, apa yang kau lihat!" sentak Arya membuyarkan semua lamunan indah Susi.


"Ti–tidak, Tuan, saya hanya ..."


"Cepat, bereskan ruangan ini, saya akan kembali satu jam lagi!" Arya lantas beranjak dari tempatnya duduk, dan menyambar kunci mobil yang ia letakkan di atas meja.


"Huhhh ... selamat. Hampir saja." Susi mengusap dadanya lega. Arya tidak sampai mengetahui isi pikirannya yang tadi sempat traveling.


Dengan cepat Susi membereskan ruangan itu. Memunguti pecahan-pecahan gelas yang berserakan di lantai, dan menyusun kembali berkas-berkas yang tadi berceceran. Susi harus segera selesai sebelum bosnya itu kembali ke ruangannya.


UP KE 2 LHO???


LIKE LIKE LIKE

__ADS_1


KOMEN KOMEN KOMEN


MET MALEM, MET ISTIRAHAT🙏🙏🙏


__ADS_2