
"Apa! Rengganis hamil, dan usia kandungannya udah lima minggu!" pekik Elisa tanpa sadar.
"Iya. Tante bahagia sekali, El, akhirnya keluarga Ardian akan punya penerus," ucap tante Rani di seberang sana.
"Penerus apa maksudnya? Rengganis cuma anak angkat, Tante, apa bisa di sebut penerus," gumam Elisa dalam hati.
"Kamu juga senang 'kan, El, tahu kabar ini?"
"Elisa Andreas? Apa kamu masih di sana?" ulang Nyonya Rani lagi.
"I–iya, Tante, El masih di sini kok."
"Kamu senang 'kan tahu kabar ini, sebentar lagi kamu bakal di panggil tante lho," goda Nyonya Rani.
"Iya, Tan. El sangat senang," jawab Elisa dengan gugup.
"Ya, sudah, tante tutup dulu ya teleponnya, jangan lupa minggu depan kamu harus datang ke acara syukuran kehamilan Rengganis."
"Iya, El pasti datang kok, tante jangan khawatir."
"Kenapa nasib baik selalu bersama gadis kampung itu. Dia sudah merebut kasih sayang Tante Rani, kedua dia juga yang merebut Kak Arya dari aku, nah sekarang dia hamil?" Elisa mengacak rambutnya kasar, merasa telah di kalahkan berkali-kali oleh seorang gadis kampung. Sungguh Elisa tidak akan menerimanya.
"Akhhhhhhhhhhh ... !" Elisa berteriak frustasi.
__ADS_1
*****
"Iya, Sayang, ada apa? Apa kau ingin di bawakan sesuatu?" tanya Arya di sela-sela kesibukannya.
"Tidak," jawab Rengganis pada sang suami.
"Apa ada yang kau rasakan, apa ada sakit?" tanya Arya lagi.
"Tidak juga," jawabnya singkat.
"Terus kau mau apa?"
Sebenar nya Arya tengah memeriksa beberapa berkas yang akan ia gunakan meeting satu jam lagi. Namun saat melihat ponsel sudah ada panggilan dari Rengganis lebih dari sepuluh kali. Arya heran kenapa istrinya menelepon di saat seperti ini, sedangkan Rengganis tahu pasti suaminya sedang sangat sibuk.
"Sayang, apa kau masih di sana?" tanya Arya.
"Iya aku masih disini."
"Sebentar lagi aku ada meeting, jika kau ingin sesuatu cepat katakanlah." Arya mencoba bersabar menghadapi sikap istrinya yang belakangan ini sedikit aneh.
"Apa Mas bisa pulang sekarang, aku merindukanmu," ucap Rengganis tiba-tiba.
Duarrr!
__ADS_1
Astaga ... cobaan apalagi ini?
"Tapi, Sayang, sebentar lagi ada meeting sangat penting, aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Arya berusaha memberi sedikit pengertian pada istrinya.
"Tapi aku merindukanmu!" Rengganis juga tak mau kalah.
"Iya, tapi aku minta maaf, aku tidak bisa pulang sekarang. Sekali lagi maaf yah?" ucap Arya penuh penyesalan.
"Jadi, Mas tidak mau menuruti keinginanku?" Nada bicaranya sudah naik satu oktaf, mata Rengganis sudah mulai berkaca, entah kenapa semenjak hamil perasaannya menjadi sangat sensitif. Kadang mudah marah, tak jarang juga Rengganis sampai menangis karena menginginkan sesuatu yang sepele.
"Aku hanya ingin kamu pulang sekarang," pintanya lagi.
"Maaf, Sayang, ini benar-benar tidak bisa di tinggalkan."
Rengganis langsung saja mematikan sambungan telepon tanpa memperdulikan Arya yang masih saja memberi
nya pengertian. Bukan Arya tidak mau menuruti keinginan Rengganis, namun saat ini i tengah menunggu klien yang datang dari Jepang beberapa saat lagi ,dan saat Rengganis mematikan telepo nya sebenar nya Arya sangat menyesal karena kali ini tidak bisa menuruti keinginan Rengganis.
"Aku janji, akan mengganti kesalahanku nanti," ucap Arya pada dirinya sendiri.
Sementara Rengganis yang merasa sangat kesal memilih masuk ke kamarnya kembali sambil terus menggerutu. Entah kenapa hari ini rasanya Rengganis tidak ingin jauh dari Arya. Padahal baru beberapa jam saja tidak bertemu.
"Ternyata Mas Arya lebih mentingin pekerjaan dari pada aku yang istrinya! Lebih baik aku tidur dari pada mikirin sesuatu yang tidak jelas." Rengganis membaringkan tubuhnya di kasur yang empuk, dan segera memejamkan matanya.
__ADS_1
Maaf baru Up yah teman-teman, untuk yang masih setia nungguin ceritanya, makasih yah🙏