Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Syarat Elisa


__ADS_3

"Pi ..." Elisa menghampiri Tuan Andreas yang baru saja kembali dari kantor. Sejak tadi Elisa memang sudah menunggu kedatangan papinya karena ingin membicarakan sesuatu.


"Hemmmm ... " Pria paruh baya itu melepas ikatan dasi yang melilit di leher, lalu menaruhnya di atas sofa ruang tamu.


"Papi nggak sungguh-sungguh ingin aku menikah dengan Roy, kan?" tanya Elisa seraya memeluk manja tangan papinya.


"Kenapa memangnya?" tanya Tuan Andreas santai, bahkan tidak terlihat tertarik untuk menanyakan alasan Elisa.


"El nggak mau nikah sama Kak Roy, Pi!" jelas Elisa kemudian.


Tuan Andreas mendongak, menatap wajah putri semata wayangnya. Ia sebenarnya juga tidak rela menikahkan Elisa dengan cara seperti ini. Tapi apa mau di kata, mungkin memang Roy pria yang pantas menjadi pendamping putrinya itu.


"Jangan egois, El. Kamu tidak lihat berapa usia kandunganmu sekarang?" tanya Tuan Andreas menunjuk perut buncit Elisa.


"Aku sanggup, kok, Pi, besarin anak aku sendiri," jawab Elisa sangat yakin.


"Apa katamu?" Pria paruh baya itu sudah terlihat sedikit kesal.


"Iya, maksudku, Papi nggak perlu nikahin aku sama Kak Roy, karena El yakin bisa merawat anak ini sendiri."


"Tidak bisa, El! Roy juga harus tanggung jawab sama kamu!" ucap Tuan Andreas tidak terima.


"Tapi, Pi ...?"


"Tidak! Pokoknya keputusan Papi udah bulat, minggu depan kamu harus nikah sama Roy!" Tuan Andreas beranjak berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Percuma, bagaimana pun usaha Elisa untuk menggagalkan pernikahan itu, ia tidak akan berhasil karena satu minggu lagi mereka akan segera menikah. Elisa tampak merengut sambil berulang kali menghentakkan kakinya ke lantai.


Sejak mengetahui bahwa yang tidur dengannya malam itu Roy bukanlah Arya, Elisa mencoba berdamai dengan dirinya sendiri. Ia tidak mungkin terus menyangkal kenyataan bahwa ayah dari anak yang ia kandung ternyata orang kepercayaan papinya sendiri.


Namun Elisa tidak bisa pasrah begitu saja saat papinya akan menikahkan dengan Roy. Elisa pikir untuk apa ada pernikahan, kalau keduanya tidak saling memiliki perasaan satu sama lain.


Meski gagal membujuk papinya, Elisa tidak kehilangan akal. Ia akan coba membujuk Roy untuk membatalkan pernikahan mereka yang akan di laksanakan seminggu lagi.


*****


Satu minggu lagi kamu harus menikah dengan Elisa Roy, jangan coba-coba menolak!


Ancaman Tuan Andreas tadi siang terus saja terngiang di telinga Roy. Ia bahkan sampai tidak bisa memejamkan matanya sama sekali hingga menjelang pagi. Bukan Roy tidak mau, tapi apakah Elisa bersedia menikah dengannya? Itulah salah satu pertanyaan yang mengganjal di hati.


Apalagi pernikahannya dengan Elisa akan di adakan sangat sederhana. Mungkin hanya sanak saudara yang datang untuk menjadi saksi. Roy terus saja memikirkan masalah itu hingga suara dering ponsel membuyarkan lamunannya.


"Kak Roy!" Teriakan cempreng dari seberang sana membuat Roy tersentak. Ia segera melirik nama pemanggil, memastikan bahwa yang menghubunginya benar Elisa.


"Iya, ada apa El?"


"Apa hari ini Kak Roy sibuk?" tanya Elisa lagi.

__ADS_1


"Tidak. Memangnya kenapa?"


"Bisakah kita bertemu sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan."


"Di mana?"jawab Roy seketika. Ia tahu ini pasti mengenai pernikahan yang akan di langsungkan seminggu lagi.


"Nanti El kabari tempatnya. Jangan lupa pas jam makan siang," ucap Elisa memberi peringatan.


Roy segera menutup telepon setelah Elisa memberitahunya akan bertemu pas jam makan siang nanti. Menghela napas pelan, Roy segera beranjak menuju kamar mandi dan bersiap untuk bekerja.


*****


"Apa yang ingin kamu bicarakan, El?" tanya Roy setelah mereka memilih bertemu di salah satu restoran dekat kantor. Kali ini penampilan Elisa biasa, tidak seperti waktu itu yang memakai penutup wajah. Elisa mengenakan dress bermotif bunga berwarna abu dengan panjang sampai lutut. Tidak lupa flatshoes dengan warna senada membuat wanita itu semakin cantik saja.


"Minum dulu, Kak." Elisa menyodorkan minuman yang sempat ia pesan sebelum Roy tiba di restoran. Roy melirik jus jeruk yang ada di hadapannya, lalu menatap wajah cantik Elisa kembali.


"Aku tidak mungkin meracuni Kak Roy." Elisa meledek pria di depannya.


Roy hanya menatap malas Elisa. Sungguh ia sama sekali tidak berpikir sejauh itu. Roy hanya heran melihat sikap Elisa yang biasa saja. Apa Elisa belum tahu soal pernikahannya yang akan di laksanakan seminggu lagi?


"Kak ... "


"Hem ... "


"Apa Kak Roy yakin akan menikah sama aku?" Tiba-tiba Elisa membahas soal pernikahan.


"Apa Kakak tahu?" ucap Elisa lagi.


"Tidak!" Roy langsung saja memotong kalimat Elisa yang belum selesai.


"Dengerin dulu!"


Roy tampak terdiam tanpa sepatah kata pun. Ia kembali menatap wajah cantik di depannya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu. Mungkin Elisa tengah menyusun kata-kata yang cocok untuk ia sampaikan pada Roy.


"Bisakah Kakak batalkan pernikahan kita?"


"Maksudmu?" Nadanya sudah terdengar sedikit kesal, meski Roy masih terlihat biasa saja.


"Aku ingin Kak Roy ngomong ke Papi buat batalin pernikahan kita." Akhirnya Elisa menemukan kalimat yang cocok untuk menyampaikan keinginannya.


"Kenapa tidak kamu saja yang berbicara pada Tuan Andreas sendiri?"jawab Roy kemudian.


"Udah, Kak."


"Lalu?"

__ADS_1


"Papi menolak. Memang Kak Roy pikir Papi bakal


terima kalau aku melahirkan tanpa suami." Kali ini Elisa sedikit tercekat dengan kalimatnya sendiri. Seakan ia menunjukkan kebodohannya sendiri pada orang lain.


"Kalau kamu sudah tahu, lalu kenapa kamu ingin membatalkannya?"


"Kak, please ... aku butuh bantuan Kakak sekarang." Elisa memasang wajah memelas. Kali ini Roy sudah tidak tahu lagi apa yang ada dalam pikiran Elisa.


"Aku tidak bisa, El."


"Apa Kakak sengaja meminta Papi untuk menikahkan kita?" Elisa benar-benar geram, kenapa Roy tidak menolak saat papinya mengatakan akan menikahkan mereka.


"Karena itu anakku. Bayi dalam perutmu adalah darah dagingku."


"Tapi kita melakukannya tidak sengaja, Kak!"


Kali ini Roy mengepalkan kedua tangan. Matanya terlihat memerah menahan emosi yang sejak tadi coba ia tahan. Roy memang bersalah, tapi bukan berarti Elisa berhak menginjak-injak harga dirinya.


"Tapi kamu juga menikmatinya." Roy berbicara pelan namun penuh penekanan, membuat wajah Elisa merona.


"Saat itu aku sedang mabuk," balas Elisa lagi.


"Apa kamu menyuruhku mengulanginya lagi di sini? Bahkan aku masih sangat ingat apa yang telah kita lakukan malam itu." Roy tersenyum menyeringai memandang tubuh Elisa dari atas sampai bawah.


"Kak!"


"Apa kamu tidak percaya?" Roy sudah beranjak dari tempatnya duduk berjalan mendekati Elisa.


Elisa yang gelagapan hanya bisa menelan salivanya kasar. Elisa sadar sekarang mereka tengah ada di ruangan VVIP restoran. Tidak mungkin Roy benar-benar melakukannya disini? Tapi kenapa sekarang Roy terlihat sangat menakutkan?


"Cukup, Kak!" Kali ini Elisa mengalah. Ia tidak mungkin bisa membujuk Roy. Mungkin ia harus memutar otak lagi agar menemukan cara lain.


"Tapi aku punya syarat!" Akhirnya muncul sebuah ide di pikiran Elisa yang sedikit menguntungkan untuknya.


"Katakan, karena aku tidak mungkin membatalkan pernikahan kita." Roy kembali ke tempat duduknya semula.


"Tidak ada kontak fisik di antara kita!" pinta Elisa sedikit takut. Ia menatap wajah Roy di depannya yang masih terlihat datar tanpa ekspresi.


"Apa kamu pikir aku akan tertarik denganmu?" jawab Roy dengan sangat enteng.


"Buktinya ..."


"Aku tidak akan melakukannya jika saja kamu tidak terus menggodaku." Roy tersenyum mengejek. Baginya terserah apa persyaratan yang Elisa minta, yang penting ia tidak akan membiarkan anaknya lahir tanpa keluarga yang utuh.


"Terserah!" Elisa beranjak mengambil tas yang ia letakkan di samping tempatnya duduk. Wanita melangkah menuju pintu dan keluar begitu saja.

__ADS_1


"Ingat, KITA HANYA MENIKAH!" ucap Elisa sebelum melangkah meninggalkan Roy.


__ADS_2