Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Kiriman Misterius


__ADS_3

Roy melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju apartemen pribadi miliknya. Setelah tiba di parkiran apartemen, ia segera memarkirkan mobilnya dan segera ke luar menuju pintu lift. Lantai enam menjadi tujuannya, Roy segera keluar saat pintu lift itu setelah terbuka.


Mengambil access card dari saku jasnya, Roy lantas masuk ke dalam Apartemen yang sudah ia tinggali selama lima tahun belakangan ini. Sebelumnya Roy pernah tinggal di kediaman Andreas saat Elisa menetap di luar negeri, tapi kemudian Roy memilih tinggal di apartemen karena ingin belajar hidup mandiri.


Roy sadar sebagai seorang yatim piatu yang tidak mempunyai siapa pun, ia harus bisa menghidupi dirinya sendiri. Terlepas dari itu semua, Tuan Andreas sebenarnya telah menganggap Roy seperti anaknya sendiri, dan memang sejak kecil Roy telah mengabdi pada keluarga Andreas.


Dulu ayahnya Roy sebenarnya supir pribadi Tuan Andreas. Saa kecelakaan tunggal yang menimpa Tuan Andreas dan ayah kandungnya, Roy masih berusia lima tahun.


Tuan Andreas yang dulu sempat mengalami koma, akhirnya selamat dan bisa sembuh seperti sedia kala. Sedangkan ayah kandung Roy yang mengalami luka sangat parah meninggal setelah beberapa jam di larikan ke rumah sakit.


Sejak saat itu Keluarga Andreas merawat Roy kecil dengan sebaik-baiknya. Tuan Andreas juga sangat menyayangi Roy seperti anaknya sendiri.


*****


Roy merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk yang berada di ruangan tengah. Teringat kembali dengan pertemuannya siang tadi dengan Elisa, ia sungguh merasa sangat bersalah. Apalagi mengingat begitu banyak kebaikan keluarga Andreas yang dirinya terima. Apa pantas ia membalas semua itu dengan penghianatan.


Ya mungkin sebutan yang paling cocok bagi orang sepertinya adalah penghianat. Bagaimana mungkin ia merusak anak dari seorang yang sudah merawatnya sejak kecil, yang sudah memberikannya kasih sayang seperti orang tuanya sendiri.


Orang tua? Bahkan Roy tidak pernah mengenal sosok ibu kandungnya, entah seperti apa rupanya. Jika dulu Roy kecil sering bertanya pada sang ayah dimana ibunya berada? Maka ayahnya hanya menjawab dengan senyuman. Sang ayah tidak pernah menjelaskan apapun tentang ibunya, jecuali beliau selalu mengatakan, "Maafkan dia jika suatu saat nanti kau bertemu dengannya."


Roy tidak pernah tahu apa maksud dari perkataan ayahnya itu sampai saat ini. Menghela napas pelan, Roy lantas memejamkan matanya. Mencoba mencari ketenangan sesaat, sebelum bayangan Elisa kembali menghantuinya.


Akhhhh! Roy menjambak rambutnya frustasi. Bayangan Elisa yang sedang menangis kembali membayangi pikirannya. Di raihnya ponsel yang tadi ia sempat letakkan di atas meja, Roy segera menghubungi seseorang di seberang sana.


"Bagaimana? Apa kau sudah menemukan sesuatu?" tanya Roy pada orang di seberang sana. Tadi saat di perjalanan pulang Roy sempat menghubungi anak buahnya untuk mencari tahu tentang Elisa dan kehamilannya.


"Sudah, Tuan, Nona Elisa memang sedang hamil," awab seseorang dari seberang telepon.


"Bodoh! Kalau masalah itu aku sudah tahu!" umpatnya geram.


"Maaf, Tuan."


"Lalu apalagi yang kau tahu?"


"Usia kandungan Nona Elisa sekarang sudah lima bulan, dan sepertinya Nona Elisa melakukan tes DNA di rumah sakit XX."

__ADS_1


"Tes DNA?"


"Benar. Tuan Pratama sendiri yang meminta Nona melakukan tes itu, karena mereka ragu anak dalam kandungan Nona Elisa bukan darah daging Tuan Arya."


Jadi benar, Elisa menganggap orang yang menghamilinya adalah Arya. Jelas saja bukan, Arya 'kan tidak melakukan apapun. Roy bermonolog dengan dirinya sendiri.


Hening...


"Tuan...? Apa Anda masih mendengarkan?"


"Terus awasi, aku ingin kau melaporkan kapan tes DNA itu akan keluar!" Roy lantas mematikan sambungan teleponnya.


Sekarang apa yang harus ia lakukan. Haruskah ia berterus terang pada Tuan Andreas bahwa ia yang telah menghamili Elisa? Lalu apa tanggapan gadis itu, jika tahu malam itu yang tidur bersamanya bukanlah Arya, melainkan dirinya yang tidak sengaja menyelamatkannya dari laki-laki hidung belang yang hendak melecehkannya. Namun, malah berakhir di atas ranjang. Lalu apa bedanya kini dirinya dengan laki-laki brengsek itu?


🌺🌺🌺🌺🌺


Elisa duduk di sofa ruang tengah sambil menyalakan televisi di depannya. Di raihnya ponsel yang ada di samping, Elisa kembali menghubungi Arya berulang kali, pun dengan puluhan pesan yang ia kirimkan, tapi tak satu pun Arya membalasnya.


Sudah tiga hari Arya memang mengabaikan Elisa dan tidak membalas satu pun pesan darinya. Arya terlalu fokus untuk mendapat maaf dari Rengganis, dan kembali mendapatkan hati istrinya itu.


Elisa kesal, ia ingin marah tapi pada siapa. Ia bahkan sudah mendatangi kantor Arya, tapi sepertinya Arya sengaja menghindarinya. Setiap Elisa ingin datang menemui Arya di kantor, Elisa selalu tidak mendapatkan ijin untuk masuk dengan alasan Arya sedang sibuk meeting dan tidak dapat di ganggu. Entah itu akal-akalan dari Alex, atau memang Arya sengaja memerintahkan pria itu untuk mencegah Elisa supaya tidak sampai datang menemuinya lagi.


Elisa terus melamun, memikirkan cara, saat tiba-tiba pembantu di rumahnya datang sambil membawa sesuatu di tangan.


"Non, ada kiriman makanan buat Non Elisa," ucap Mbok Nah pada majikannya perempuannya itu.


"Makanan? Tapi saya tidak memesan apapun, Mbok?"


"Mbok tidak tahu, Non. Di sini tertulis buat Nona Elisa." Mbok Nah segera menunjukkan paket makanan yang ia terima beberapa saat tadi.


"Coba buka saja, Mbok. Saya takut itu isinya bom." Elisa malah sengaja meledek. Mbok Nah hanya menggeleng sambil tersenyum, lantas di bukanya bungkusan makanan itu yang ternyata isinya...


"Eh, rujak, Non! Isinya rujak." Wanita itu menunjuk makanan yang baru saja ia buka. Tampak irisan buah-buahan segar yang terlihat sangat menggiurkan.


Elisa menatap pada wadah makanan itu. Ta terasa air liurnya hampir menetes, membayangkan betapa nikmatnya saat siang seperti ini menikmati rujak buah. Tidak sadar tangannya terulur untuk mengambil potongan rujak itu, tapi...

__ADS_1


"Jangan, Non!" Mbok Nah segera menjauhkan wadah makanan itu agar tidak terjangkau oleh majikannya.


"Kenapa, sih, Mbok?" Elisa yang sudah ingin sekali menikmati rujak itu menjadi heran saat Mbok Nah melarangnya.


"Non Elisa tidak boleh menerima sembarangan makanan dari orang yang tidak jelas. Bagaimana kalau orang itu berniat jahat, dan ingin mencelakai Non Elisa?" jelas Mbok Nah berapi-api.


"Maksud, Mbok Nah?"


"Nona lihat, kan, di sini tidak ada nama pengirimnya?"


Elisa mengangguk membenarkan semua ucapan Mbok Nah tadi. "Tapi aku pengen rujak itu, Mbok?" Elisa sudah tidak bisa menahan keinginannya. Mungkin juga ini efek dari bayi dalam kandungannya hingga tak terasa air matanya mengalir begitu saja.


Mbok Nah yang merasa kasihan lantas segera menutup kembali tutup makanan itu. "Non Elisa tunggu sebentar, Mbok akan buatkan rujak yang seperti ini, mau?"


Elisa berbinar senang. Ia segera mengusap air mata yang sempat tadi ia tumpahkan, Elisa segera mengangguk, "Cepetan yah, Mbok."


"Iya, tunggu sebentar, Non," jawab Mbok Nah lagi.


"Eh tunggu, Mbok." Elisa menahan tangan Mbok Nah yang hendak membuang bungkus makanan itu, "Lihat, ada tulisannya." Elisa segera membuka lipatan kertas yang terselip di antara sela-sela box.


MAAF ....


Elisa mengeja tulisan itu dengan tarikan napas yang dalam. Sudah tiga hari ini ia selalu mendapatkan kiriman makanan dari orang yang sangat misterius. Di dalam box makanan itu tidak pernah tercantum nama pengirimnya, namun anehnya selalu ada lipatan kertas bertuliskan kata MAAF di setiap kiriman makanan tersebut.


Meski kadang makanan yang Elisa terima tampak menggiurkan, tapi Mbok Nah selaku pelayan pribadi Elisa tidak pernah membiarkan gadis itu memakannya barang secuil pun. Mbok Nah memang sudah di wanti-wanti oleh Tuan Andreas untuk menjaga putrinya di rumah, dan mempercayakan keselamatan Elisa pada wanita paruh baya itu.


LIKE


KOMEN


LIKE


KOMEN


LIKE

__ADS_1


KOMEN


MAKASIH BUAT YANG MASIH SETIA NUNGGUIN TULISAN AKUH, JANGAN LUPA DUKUNGANNYA DAN TOLONG TINGGALKAN JEJAK YAH???


__ADS_2