
"Roy!" Panggilan Tuan Andreas menghentikan langkah pria itu yang hendak menuju kamar tamu.
"Iya, Pi," jawab Roy setenang mungkin. Ia tidak ingin Tuan Andreas tahu Elisa mengusirnya dari kamar.
"Kau belum tidur?" Tuan Andreas menghampiri menantunya yang terlihat menuruni anak tangga. Kebetulan ia tengah dari dapur mengambil air minum dan tidak sengaja berpapasan dengan Roy.
"Aku ingin ke dapur, Pi. Mengambil minum." Roy terpaksa memutar langkah menuju dapur. mengambil sebotol air mineral lalu membawanya ke arah sofa ruang tengah, tempat dimana tadi ia melangsungkan pernikahan. Tapi kini sudah terlihat seperti semula karena para pelayan langsung membereskan sisa-sisa acara tadi siang.
Tuan Andreas menggeleng samar. Meski Roy berusaha menutupi, tapi sebagai orang tua, ia paham betul dengan sifat kedua anak dan menantunya itu. Roy yang selalu berusaha menjadi yang terbaik dan Elisa yang masih sangat kekanakan.
Tuan Andreas berjalan menapaki tangga, bukan kembali ke kamar, namun ia lebih dulu menuju kamar putrinya. Entah apa yang akan di lakukan pria paruh baya itu, Roy sama sekali tidak ingin tahu.
"El, Papi masuk ya?" Setelah dua kali mengetuk, Tuan Andreas lantas mendorong pintu yang tidak terkunci. Ia melihat putrinya yang tengah asik duduk di depan meja rias.
"Lho, Papi belum tidur?" tanya Elisa seraya mengolesi wajahnya dengan krim malam. Pandangan Elisa tidak lepas dari kaca besar di depannya.
"Kau tidak mengusir suamimu dari kamar ini, kan?" Tuan Andreas mendudukkan tubuh di tepian ranjang.
"Nggak, Pi, Kak Roy sendiri yang mau tidur di kamar tamu," jawab Elisa dengan sangat santai.
Benar apa yang Tuan Andreas duga. Roy memang berusaha menutupi untuk melindungi Elisa. Walaupun sebenarnya Tuan Andreas lebih paham sifat dari anaknya dari siapapun.
"El ... "
"Beneran, Pi. Untuk apa El mengusir Kak Roy, kalau dia sudah tahu ... "
"Papi tidak mau tahu. Roy itu suamimu. Jadi, mau tidak mau dia akan tidur di sini!"
"Tapi, Pi ... "
"Cukup, El. Jangan keterlaluan, atau kau tidak akan mendapatkan sepeserpun, karena Roy yang akan mengurus perusahaan Papi dan akan menyerahkan pada cucu Papi kelak."
Yang di maksud Tuan Andreas adalah anak dari Elisa dan Roy. Memang rencananya Tuan Andreas akan melimpahkan semua kekayaannya pada anak Elisa. Namun, sebelum anak itu dewasa, Roy yang akan memegang kendali semuanya.
__ADS_1
"Pi!" Elisa frustasi jika harus memikirkan ancaman dari papinya.
"Iya, iya, Kak Roy akan tidur di sini sama aku." Akhirnya mengalah, daripada berdebat dan berakhir ia kehilangan segalanya. Mungkin Elisa akan menurunkan egonya untuk bisa sedikit saja berbagi tempat tidur dengan suaminya. Eh, apa ia baru saja mengakuinya?
Tuan Andreas kembali menggeleng dengan senyum yang terlihat di sudut bibirnya. Membujuk Elisa memang terkesan mudah. Hanya perlu mengancamnya sedikit, pasti Elisa akan ketakutan. Elisa memang sangat takut dengan kesusahan,nkarena sedari kecil Elisa sudah terbiasa dengan hidup mewah. Jadi, ia tidak mungkin rela kehilangan fasilitas mewah yang selama ini ia nikmati.
Memang Tuan Andreas telah menyelidiki kebenaran, sebelum mengambil keputusan untuk menikahkan Elisa dengan Roy. Tuan Andreas tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Roy dalam masalah itu, karena saat itu Roy hanya berusaha menyelamatkan Elisa dari pria kurang ajar yang ingin melecehkannya. Namun naas, saat keduanya berada di satu ruangan, Elisa malah menganggapnya Arya, dan Roy yang sebelumnya terus menolak akhirnya hilang kendali saat melihat Elisa yang terus saja menggodanya.
"Kenapa Papi selalu mengancam dengan yang satu itu sih! Dan, kenapa selalu Kak Roy yang di bela, sebenarnya siapa sih anak kandung Papi?" gumam-gumam kecil, namun jelas saja Tuan Andreas masih bisa mendengar.
"Kau tidak sedang memaki Papi 'kan, El?" Tuan Andreas berbalik saat hendak meraih handle pintu.
"Eh, tidak! Mungkin Papi salah dengar," ucap gadis itu gelagapan. Elisa segera berjalan menuju tempat tidur dan bergulung di bawah selimut untuk menutupi wajahnya.
Tuan Andreas lantas melanjutkan langkah keluar dari kamar Elisa. Ia kembali menuruni anak tangga dan melihat Roy yang tengah asik memandang gawai di tangan.
"Roy?"
"Iya, Pi." Roy baru meletakkan ponsel setelah mendengar suara Tuan Andreas berjalan mendekat. Entah apa yang baru saja Tuan Andreas bicarakan dengan Elisa, beliau terlihat turun setelah setengah jam yang lalu masuk ke kamar anaknya.
"Iya , Pi." Roy lantas beranjak dari duduk menuju ke arah kamar tamu.
"Kamarmu di atas Roy, kau mau ke mana?"
"Sebaiknya saya tidur di kamar tamu saja, Pi."
"Kenapa? Apa ini gara-gara Elisa?"
"Bukan, Pi." Roy menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali. Apa yang harus ia katakan. Tidak mungkin ia bilang kalau Elisa tidak ingin tidur satu kamar dengannya.
"Elisa tidak akan berani mengusirmu lagi. Jadi, kembalilah ke kamar kalian!" Tuan Andreas menepuk pundak menantunya, lantas ia berjalan kembali menuju kamar menemui sang istri yang mungkin sudah terlelap lebih dulu ke alam mimpi.
Roy terdiam sejenak mencerna kata-kata yang Tuan Andreas sampaikan. Kenapa begitu yakin kalau Elisa tidak akan mengusirnya lagi. Sebenarnya ia juga tidak masalah tidur terpisah Toh, dari dulu ia terbiasa hidup sendiri. Namun karena ingin menghargai Tuan Andreas yang kini telah menjadi papa mertuanya, Roy akhirnya melangkah kembali menuju kamar Elisa.
__ADS_1
Roy membuka pintu perlahan, barangkali Elisa telah tertidur dan tidak ingin membuatnya terusik. Ia melangkah menuju ranjang, lantas segera berbaring di samping tubuh Elisa dengan posisi memunggungi.
"Kak ... "
Roy membuka mata kembali saat mendengar suara Elisa memanggil. Ia kira Elisa sudah terlelap, dan tidak menyadari kedatangannya, nyatanya Elisa masih terjaga.
"Hem ...."
"Maaf, aku udah keterlaluan," ucap Elisa kemudian.
Benarkah Elisa meminta maaf? Roy masih diam dan tidak merespon ucapan Elisa, membuat gadis itu berbalik menghadap kearah Roy.
"Kenapa?" Roy masih diposisi yang sama, telentang sembari menatap langit-langit kamar.
"Mulai sekarang, aku akan berbagi tempat tidur denganmu."
Cih, kenapa terdengar menggelikan. Bukannya memang seharusnya seperti itu. Suami istri memang harusnya tidur di satu tempat yang sama kan?
"Papi yang maksa aku kembali ke sini," jawab Roy tidak peduli.
"Iya, tadi Papi kesini lalu ..."
"Papi bilang apa? Kenapa kau tiba-tiba ingin berbagi tempat tidur denganku?" tanya Roy memotong kalimat Elisa.
Elisa tersentak, tidak mungkin Elisa jujur dan mengatakan kalau Papi Andreas mengancamnya akan mencabut seluruh fasilitas mewahnya, dan ia tidak akan mendapatkan apa-apa.
"Tidak. Papi hanya menasehati aku supaya bisa bersikap lebih baik sama Kak Roy."
Roy memandang wajah Elisa yang terlihat sedikit gugup. Namun dalam hatinya ia sangat bersyukur memiliki mertua seperti Tuan Andreas yang bisa memaafkan dan menerimanya dengan baik.
LIKE
KOMEN
__ADS_1
THANXQIU...πππ