
Arya memasuki kamar hotel yang seharusnya ia tempati berdua dengan Alex. Namun karena suatu musibah yang tak terduga, Alex harus pulang lebih dulu. Arya masuk ke kamar mandi karena ingin membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Mengisi bathtub dengan air hangat dan mencampur sedikit aroma terapi, Arya memilih berendam agar badannya kembali rileks.
sepuluh menit berlalu, Arya keluar dari kamar mandi sudah dengan pakaian santai. Arya berjalan ke arah sofa dan menjatuhkan tubuhnya di sana. Mengambil ponsel dan berniat menghubungi Rengganis.
Namun ternyata handphone Arya mati. Arya baru ingat kalau dari kemarin berangkat memang belum sempat mengisi daya ponselnya.
Tiba-tiba terdengar pintu di ketuk dari luar, Arya beranjak dari duduk dan membukakan pintu. Arya begitu terkejut melihat siapa yang berdiri di depan pintu.
"Ngapain kamu malam-malam datang ke kamarku?" tanya Arya ketus.
"Kak Arya, bolehkah aku meminjam charger punyamu, aku lupa tidak membawanya."
"Maaf, Lis, aku juga sedang memakainya."
"Apa Kak Arya tidak ingin mengajakku untuk masuk?" tanya Elisa.
"Kembali ke kamarmu, aku ingin istirahat."
"Kak..."
"Sekali lagi aku tegaskan, jangan pernah mendekatiku lagi."
"Kenapa Kak Arya tidak bisa melihatku sedikit saja?" Mata gadis itu sudah berkaca-kaca.
"Sekalipun kamu berusaha, aku tidak akan berpaling dari istriku, karena aku begitu mencintainya."
__ADS_1
Seperti terhimpit sebuah batu yang sangat besar, dada Elisa terasa sesak akan penolakan Arya. Jika saja Rengganis tidak hadir di antara mereka, mungkin cinta yang begitu besar akan menjadi miliknya. Elisa memutuskan untuk kembali ke kamar dengan perasaan yang sangat hancur. Elisa melampiaskan kekesalannya dengan menghancurkan barang-barang yang ada di sana.
Untuk menghilangkan kesedihan, Elisa berniat keluar sebentar dan menghirup udara segar. Di raihnya kunci mobil yang berada di atas nakas, Elisa melangkahkan keluar dari kamar hotel.
"Mau kemana gadis itu malam-malam begini?" Seorang pria yang tak sengaja keluar kamar untuk membeli sesuatu melihat Elisa yang berjalan tergesa-gesa menuju parkiran. Pria itu terus mengikuti Elisa hingga gadis itu pergi dengan mobilnya. Tidak ingin kehilangan jejak, pria itu pun memanggil taksi, dan mengikuti ke mana taksi di depan sana membawa Elisa.
"Klub malam? Untuk apa bocah itu datang ketempat seperti ini?" gumam pria itu.
Elisa masuk ke dalam dan duduk di salah satu kursi tamu VIP. Elisa juga memesan beberapa minuman yang bisa membuatnya mabuk. Ya ... Elisa ingin sejenak melupakan Arya, melupakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan.
Dari kursi lain pria itu terus saja mengawasi Elisa yang terlihat sudah sangat mabuk. Bahkan beberapa pria asing mulai berusaha mendekatinya. Tidak ingin sampai terjadi sesuatu yang buruk, pria itu segera menghampiri Elisa yang hampir saja akan di bawa pergi oleh salah satu pria.
"Lepaskan tanganmu dari tubuh gadis itu!" ucapnya setengah berteriak.
"Dia wanitaku. Cepat lepaskan brengsek!" makinya lagi.
"Baiklah, silahkan kau bawa. Maaf, aku tidak tahu kalau dia wanita mu!" ucap pria asing itu, lalu meninggalkan Elisa.
Pria itu segera memapah Elisa untuk keluar dari sana. Ia mendudukkan Elisa yang sudah sangat mabuk, dan melajukan mobilnya kembali ke hotel. Sampai di parkiran hotel, pria itu kembali memapah Elisa menuju kamarnya. Sepanjang lorong menuju kamar, gadis itu terus meracau tidak jelas. Bahkan sempat memukul-mukul dada pria itu.
"Kau jahat, Kak, hiks ... kenapa kau jahat sekali," racau Elisa tidak jelas.
"Dasar gadis merepotkan!" Pria itu membawa Elisa masuk kamar, dan membaringkan tubuh Elisa di atas tempat tidur. I melihat sekeliling kamar yang sangat berantakan.
"Sebenarnya apa yang terjadi."
__ADS_1
Pria itu menyelimuti Elisa dan berniat untuk kembali ke kamarnya, namun tiba-tiba saja Elisa malah menariknya. "Jangan tinggalkan aku. Tolong temani aku kali ini saja," kata Elisa dengan mata yang masih terpejam.
"Baiklah aku akan disini menemanimu. Sekarang tidurlah."
Senyum tertarik di sudut bibir Elisa. Bukannya tidur Elisa kembali menarik pria itu hingga keduanya jatuh di atas tempat tidur, lantas Elisa menyerang tanpa aba-aba.
"Tolong, Nona, jangan seperti ini."
"Kak, aku mencintaimu."
"Aku bukan kekasihmu, kau salah orang." Pria itu frustasi. Bagaimana tidak kini, ia berada satu ruangan dengan seorang gadis cantik yang tengah mabuk, dan menganggapnya sebagai kekasihnya.
"Tolong Kak, kali ini saja." Elisa kembali memelas.
"Tapi..."
Belum sempat lria itu menjawab, tiba-tiba Elisa kembali menyerangnya. Kali ini sungguh ia tidak bisa lagi menolak. Seorang pria normal pasti akan tertarik jika di suguhi gadis cantik seperti ini.
"Maafkan saya, Nona, Anda yang memulainya lebih dulu," ucap Pria itu membalas permainan Elisa. Dan malam itu keduanya melakukan sesuatu yang seharusnya tidak mereka lakukan. Saat permainan selesai pria itu berguling ke samping, memeluk tubuh Elisa. Dengan mata yang masih terpejam Elisa tersenyum,
"Kak Arya, aku mencintaimu."
Hai teman-teman, saya heran lho sehari yang lihat tulisan aku tuh bisa puluhan, kadang nyampe ratusan, tapi kenapa buat Like aja kok pelit banget yah, padahal Like itu ga bayar lho...
plisss donk tinggalin jejak buat authornya gitu.
__ADS_1