
"Mas Arya kemana sih, kok lama banget ke dalamnya," gumam Rengganis saat menyadari suaminya belum juga kembali.
"Apa aku susul ke dalem aja kali yah." Rengganis berjalan memasuki rumah mertuanya, baru beberapa langkah ia di kejutkan dengan sapaan seorang wanita cantik dengan pakaian yang sangat elegan.
"Apa kabar kakak sepupu." Elisa berjalan ke arah Rengganis. "Oh iya, tadi aku bertemu Kak Arya lho, dia bilang sangat merindukanku," ucap Elisa lagi.
"Kamu kira aku akan marah mendengar omong kosongmu itu," jawab Rengganis menyunggingkan bibirnya.
"Aku lebih mengenal Kak Arya daripada kamu sebagai istrinya, jadi berhati-hati lah."
"Terserah, aku tidak peduli, yang terpenting akulah istri sahnya, bukan dirimu," balas Rengganis dengan senyum tipis.
"Jaga mulutmu, dasar upik abu!" ,Elisa sudah hampir melayangkan tamparan pada wajah Rengganis, namun Rengganis berhasil dengan cepat mencengkeram tangan Elisa.
"Dengarkan aku baik-baik. Tidak akan kubiarkan siapapun merusak rumah tanggaku, dan juga mendekati suamiku! Ingatlah batasanmu, jika kau tak ingin aku melukaimu!" Menghempaskan tangan Elisa dengan kasar, dan berlalu meninggalkan gadis itu yang mengeram sangat kesal.
Ck, lihat saja nanti!
๐๐๐๐๐
Acara berlangsung dengan sangat meriah. Nyonya Anggi memperkenalkan Rengganis kepada semua teman-teman arisannya sebagai menantu dari Keluarga Pratama. Rengganis begitu bahagia karena memiliki mertua yang benar-benar tulus menyayanginya. Menjelang tengah malam semua tamu sudah meninggalkan pesta satu persatu. Arya dan Rengganis pun berpamitan kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Mobil melaju membelah ramainya jalanan ibu kota di malam hari yang tampak indah. Rengganis termenung, masih memikirkan perkataan Elisa tadi. Entah kenapa hatinya merasa tidak tenang. Bagaimana kalau Elisa benar -benar tetap nekad mendekati Arya, lalu suatu saat Arya akan meninggalkannya. Sungguh Rengganis tidak bisa membayangkan semua itu. Menggelengkan kepala, mencoba menepis semua pikiran buruk itu.
"Sayang, kau kenapa?" tanya Arya kepada Rengganis yang sejak tadi diam saja.
"Aku tidak apa-apa," jawab Rengganis singkat.
"Tidurlah jika mengantuk, nanti kalau sampai rumah aku bangunkan," ucap Arya sambil mengusap kepala istrinya itu.
"Mas ..."
"Hemmmm ... "
Duarrrr!
Arya menelan salivanya dengan susah payah. Kenapa Rengganis tiba-tiba bertanya seperti itu. Tidak mungkin Arya bilang kalau tadi Elisa sempat memeluknya, dan parahnya Mama Anggi sempat memergoki mereka.
"Tiโtidak, Sayang. Elisa tidak mendekatiku lagi, lagian di sana ada Papa dan Mama, mana berani dia berbuat seperti itu." Arya terpaksa berbohong.
Maaf sayang...
"Oh ..."
__ADS_1
Rengganis hanya berโoh ria menerima jawaban suaminya. Rengganis percaya kalau Arya adalah laki-laki setia.
*****
Rumah Keluarga Wijaya.
Rangga termenung di balkon kamar sambil menyesap rokok di tangan. Sesekali Rangga memandang sebuah foto seorang gadis cantik yang tengah tersenyum. Rangga sangat menyesal atas keputusan ya saat itu. Bagaimana bisa ia melepas begitu saja gadis yang sangat di cintai hanya karena gertakan dari sang mama. Kini hidupnya serasa kosong, tak tahu kemana arah tujuannya saat ini.
"Rangga sampai kapan kamu akan terus begini, Nak?" Nyonya Yuni datang sambil membawa segelas susu hangat untuk Rangga. "Apa kamu tidak ingin menikah, Mama dan Papa sudah tua," ucap Nyonya Yuni sedih.
"Aku belum ingin menikah, Ma," wab Rangga datar.
"Maafin mama, Nak, kalau saja waktu itu mama tidak ..."
"Cukup, Ma, sekarang tolong Mama keluar, Rangga ingin istirahat," ucapnya dingin.
Nyonya Yuni pergi meninggalkan kamar Rangga dengan perasaan berkecamuk, antara sedih dan kecewa. Beberapa bulan terakhir ini Nyonya Yuni melihat anaknya nampak murung dan terlihat tidak memiliki semangat hidup. Setiap hari Rangga hanya mengurung diri di dalam kamar dan berangkat kerja semaunya dia sendiri. Itu semua berdampak pada pekerjaan kantor yang mulai berantakan, dan mau tidak mau Tuan Wijaya harus turun tangan langsung mengurusi kekacauan yang di buat anaknya sendiri.
Nyonya Yuni sangat merasa bersalah. Akibat keegoisannya ia rela mengorbankan kebahagiaan Rangga. Sudah sering kali wanita paruh baya itu mengenalkan beberapa gadis kepada Rangga, tapi nampaknya tak satu pun yang berhasil menarik Rangga.
Hai teman-teman, maaf yah kalo banyak kekurangan. Othornya masih belajar nih, jangan lupa tinggalkan jejak yah, biar akunya tambah semangat๐
__ADS_1