Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Kedatangan Keluarga Elisa


__ADS_3

"Maafkan kak Arya, Pi, jangan hukum dia." Akhirnya tangis Elisa kembali pecah. Elisa sampai berlutut memohon kepada orang tuanya agar tidak menyakiti Arya.


"Sebesar itu kah kau mencintainya, El, hingga mati-matian membela membelanya!" teriak Tuan Andreas memenuhi langit-langit kamar.


"Aku mencintainya, Pi. Tolong jangan sakiti Kak Arya," ucap Elisa lirih dengan air mata yang semakin deras. Elisa tahu bagaimana sifat papinya saat sedang marah, bahkan Tuan Andreas bisa melakukan apa saja dengan uang yang ia miliki.


"Elisa benar, Pi. Kita tidak boleh melakukan apapun pada Arya. Dia adalah ayah dari anak yang sedang di kandung Elisa saat ini," ucap Nyonya Sintia mencoba membela putrinya.


"Aku memang tidak akan menyakiti Arya, tapi dia harus bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan pada Elisa."


"Lalu, bagaimana dengan istrinya? Bukankah dia anak angkat Mbak Rani? Apa Papi tega menyakitinya?" Nyonya Sintia sedikit bimbang.


"Aku tidak peduli dengan istrinya. Bukankah dia hanya anak angkat ? Untuk apa kita memikirkannya. Mbak Rani tidak akan terlalu sedih." Tuan Andreas yakin sekali.


"Bangun, El, kita akan ke rumah keluarga Pratama untuk meminta tanggung jawab mereka." Tuan Andreas memapah putrinya untuk duduk di sisi tempat tidur.


"Makasih, Pi." Elisa tersenyum dan mengusap sisa-sisa air mata di pipi.


"Kalian segera bersiap, papi ada urusan sebentar." Tuan Andreas melangkah keluar dari kamar Elisa.


*****


"Iya, Tuan?" jawab seseorang di seberang telepon.


"Tolong kau minta rekaman cctv dari hotel XX sekarang juga, lalu kirimkan segera."


"Baik, Tuan."


Klik!


Aku pastikan kau akan menyesal telah menyakiti putriku.


.


.


.


Tuan dan Nyonya Andreas membawa Elisa ke tempat kediaman Pratama. Dengan membawa bukti rekaman CCTV yang sempat Ia minta pada salah satu anak buahnya, Tuan Andreas yakin kalau Arya tidak akan bisa mengelak dari tanggung jawab.


Memasuki halaman rumah mewah itu, mobil Keluarga Andreas langsung di sambut salah satu pelayan yang kebetulan tengah merapikan tanaman.


Tuan Andreas langsung menyampaikan niatnya kepada pelayan itu, agar memberi tahu tuannya kalau sekarang mereka ingin menemui mereka.


Pelayan pun segera mempersilahkan para tamu itu untuk duduk, dan bergegas menemui Tuan dan Nyonya Pratama yang sekarang tengah berada di taman belakang.


"Permisi, Tuan, Nyonya, di depan ada tamu," ucap pelayan itu tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Tamu?" Nyonya Anggi mengernyit heran, "Apa Papa mengundang seseorang?"


"Tidak."


"Tamu siapa, Bi?" tanya Nyonya Anggi lagi.


"Keluarga Tuan Andreas yang datang, Nyonya," jawab pelayan.


Tuan dan Nyonya Pratama semakin heran dengan kedatangan tamu tersebut. Pasalnya mereka tidak terlalu dekat dengan keluarga itu, kecuali masalah pekerjaan, itupun semua sudah di serahkan kepada Arya. Jadi, untuk apa Tuan Andreas sampai datang kemari. Bukankah kalau urusan pekerjaan harusnya mereka datang ke kantor menemui Arya, bukan malah datang ke rumah.


"Selamat siang, Tuan Andreas." Tuan Pratama menjabat tangan pria yang seumuran dengannya.


"Siang, Tuan Pratama. Maaf sudah mengganggu waktu Anda," balas Tuan Andreas kembali.


"Sepertinya ada sesuatu yang penting, hingga Anda sampai menyempatkan diri datang kemari."


"Benar Tuan Pratama, memang ada sesuatu yang sangat penting, yang ingin kami sampaikan." Mengambil sesuatu dari saku jas, dan menyerahkan pada Tuan Pratama.


Tuan Pratama yang masih bingung hanya saling menatap dengan sang istri. Mereka masih tidak mengerti apa yang di maksud Tuan Andreas. Dengan pikiran yang masih bertanya-tanya, Tuan Pratama membuka isi rekaman CCTV itu.


"Apa maksud semua ini, Tuan Andreas?" Tuan Pratama masih tidak mengerti dengan arah pembicaraan mereka, kenapa Tuan Andreas memberinya sebuah rekaman CCTV?


"Putri kami, Elisa hamil."


"Hamil?" Nyonya Anggi menatap Elisa yang sedang tertunduk malu. "Lalu, apa hubungannya dengan kami?" Nyonya Anggi pun mengernyit heran.


Bagai tersambar petir, Nyonya Anggi langsung shock mendengar penjelasan dari Tuan Andreas. Wanita itu langsung meraung, tanpa memperdulikan Keluarga Andreas yang masih ada di depannya.


Nyonya Anggi tidak bisa membayang bagaimana hancurnya perasaan Rengganis kalau tahu berita ini, apalagi sekarang menantunya itu tengah hamil. Nyonya Anggi khawatir akan berakibat buruk pada kandungannya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Perusahaan Pratama


"Iya, Pa." Arya mengangkat telepon dari Tuan Pratama sembari memeriksa beberapa berkas yang akan ia bawa dalam rapat satu jam lagi.


"Pulang ke rumah papa sekarang. Papa tunggu di rumah!" ucap Tuan Pratama dengan suara yang tegas.


"Tapi, Pa, Arya satu jam lagi ada rapat, bisakah ... "


"Pulang! Atau, papa sendiri yang akan menyeretmu!" Tuan Pratama dengan suara baritonnya.


"Sebenarnya ada apa?"


tutttt ...


Tiba-tiba sambungan telepon diputus secara sepihak. Arya bingung dengan sikap papanya yang tiba-tiba menelepo dengan marah-marah. Arya terpaksa nergegas menemui Alex, dan memintanya memimpin rapat yang akan di adakan sebentar lagi.

__ADS_1


Arya segera menginjak pedal gasnya menuju rumah kedua orang tuanya. Dalam perjalanan dia terus berpikir,apa kesalahannya hingga Papanya bisa semarah itu. Sampai di halaman rumah, Arya melihat sebuah mobil yang sangat ia kenali.


Ya, itu mobil Tuan Andreas, Arya beberapa kali melihat Elisa menggunakan mobil itusaat ada pertemuan dengannya. Melangkah masuk, Arya langsung di sambut tatapan tajam dari semua orang.


Arya menoleh ke arah Mama Anggi, terlihat wanita paruh baya itu tengah menangis terisak di samping papanya. Arya semakin bingung karena di sini tengah berkumpul Tuan Andreas beserta istrinya, dan juga Elisa.


"Pa ... "


Plakkk!


Sebuah tamparan keras melayang mengenai pipi Arya. Arya langsung meringis, merasakan ujung bibirnya yang robek, dan sedikit mengeluarkan darah.


"Tunggu Pa, apa salahku?" Mencoba maju mendekati sang mama, namun lagi, sang papa melarang.


"Diam di situ!" teriak Tuan Pratama lantang.


Arya hanya bisa diam dan memikirkan apa kesalahannya. Sungguh, Arya tidak pernah melihat papanya semarah ini, apalagi sampai menamparnya.


"Papa kecewa padamu!" Papa Pratama menahan amarah.


"Salah Arya apa, Pa?"


"Kamu tanya salahmu apa, hah! Dasar, anak kurang ajar! Beraninya kau merusak anak gadis orang!" teriak Nyonya Anggi dengan tangis semakin kencang.


"Merusak? Anak gadis orang?" Arya mengulangi perkataan sang mama yang membuatnya bingung.


"Apa maksud Mama?"


Tuan Pratama melemparkan bukti rekaman CCTV kehadapan Arya. Ia yang masih bingung hanya menatap rekaman itu dengan kening yang sedikit berkerut.


"Apa benar, kau yang ada dalam rekaman itu?" tanya Papa Pratama.


"Iya, Pa, itu memang Arya," jawab Arya.


"Jadi benar, kau yang melakukannya!" Tuan Pratama semakin emosi. Ia .aju ke depan ingin segera menghajar putranya lagi, namun sang istri menahannya.


"Rekaman pertama memang itu Arya, Pa. Tapi yang kedua Arya tidak tahu mereka siapa," jawab Arya sejujurnya.


"Maksudmu, Elisa yang berbohong?" sela Tuan Andreas murka. "Jelas Elisa melihat wajahmu saat kalian berada di kamar. Saya tidak mau tahu, kau harus bertanggung jawab pada Elisa," ucap Tuan Andreas lagi.


"Tapi, saya tidak melakukan apa-apa, Om." Arya berusaha menyangkal.


"Apa kau punya bukti, kalau kau bukan pria yang bersama Elisa?" tanya Papa Pratama


Bukti?


Ah, Arya lupa kalau saat malam itu ia sendirian, karena Alex telah pulang lebih dulu. Harus dengan apa Arya membuktikan, sedangkan rekaman CCTV itu sudah jelas jika pria yang sebelumnya bersama Elisa adalah dirinya.

__ADS_1


__ADS_2