
Setelah membohongi atau lebih tepatnya membodohi semua karyawan kantor, termasuk satpam yang berjaga di depan, Elisa juga berhasil membuat Roy tidak berkutik. Roy terpaksa meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengantar Elisa pergi. Semua mata menatap heran saat sepasang manusia itu berjalan melewati para karyawan. Tak jarang mereka terlihat berbisik satu sama lain, mengomentari penampilan si wanita yang terlihat aneh. Bagaimana tidak, Elisa menutup wajahnya menggunakan masker dan juga kaca mata hitam, tak lupa kain panjang sebagai penutup kepalanya.
Para karyawan sebenarnya menyayangkan sikap Roy yang sudah menyembunyikan pernikahannya. Memang apa yang salah dari wanita itu, toh kelihatannya dia juga cantik.
Dengan tidak tahu malu Elisa juga menggandeng tangan Roy layaknya pasangan sesungguhnya, membuat Roy sungguh tidak nyaman. Jarak yang terlalu dekat membuat jantung Roy berdetak lebih cepat. Namun sialnya Elisa sama sekali tidak menyadari dan malah asik dengan dunianya sendiri.
*****
Mobil Roy berhenti tepat di depan rumah Nyonya Rani. Memang satpam di rumah itu langsung membuka gerbang dan mengijinkan mereka masuk karena sudah sangat mengenal Elisa. Roy membangunkan Elisa yang sejak perjalanan tadi terlelap seperti orang pingsan.
"El, kita sudah sampai." Roy menggoyang bahu Elisa pelan. Elisa mengerjap, mengumpulkan kesadarannya. Dan, saat itu juga jantung Elisa nyaris di buat copot oleh tingkah Roy.
"Sudah sampai, ya?" tanya Elisa gelagapan saat wajah Roy sudah berada tepat di depannya dengan jarak yang begitu dekat. Tatapan pria itu terlihat intens mengarah pada benda merah muda basah yang terlipat ke dalam karena terlalu gugup.
Ingatannya kembali pada malam itu, saat tiba-tiba Elisa menahannya yang hendak pergi, lantas Roy yang awalnya mencoba menolak akhirnya tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Roy masih sangat jelas, bagaimana ia merasakan bibir merah muda milik Elisa yang terasa begitu sangat manis dan memabukkan.
Apalagi pergulatan panjang yang mereka lakukan, kadang masih terlintas di otak breng–seknya yang membuat ia amat tersiksa. Bagaimana mungkin ia telah melakukannya dengan gadis ini?
"Kak ... !" Elisa menepuk pundak Roy yang seketika tersadar dari lamunan mesumnya.
"Sudah sampai sejak tadi," balas Roy menatap kembali wajah Elisa. "Ingat, hanya satu jam!" Deru napas Roy terasa nyata menerpa wajahnya. Elisa melengos dan mencari topik pembicaraan lain untuk meredam kegugupan.
"Iya, iya, aku 'kan memang hanya ingin berkunjung. Memang mau apalagi sampai harus berlama-lama," sungut Elisa. Roy mendekat ke arah telinga Elisa seraya berbisik, "Jangan coba-coba membuat keributan!"
Seketika wajah Elisa memucat. Apa maksud ucapan Roy. Apa dia tahu kalau sebenarnya Elisa hanya ingin menemui Rengganis? Elisa salah karena telah berurusan dengan orang seperti Roy. "Iya, aku bukan anak kecil yang suka membuat keributan!"
"Roy tersenyum puas. Masih dalam keadaan yang sangat dekat, telapak tangannya menyentuh puncak kepala Elisa, "Bagus, itu baru gadis baik." Elisa melongo tak percaya akan ucapan Roy. Bagaimana bisa Roy yang terkenal pendiam bisa bersikap sehangat itu.
Roy masih berada di posisi yang sama, wangi tubuh pria itu yang maskulin membuat Elisa begitu nyaman. Elisa mulai tidak fokus menghadapi cobaan alam yang tiba-tiba mengusik jiwanya. Pikiran Elisa tiba-tiba melayang, membayangkan adegan romantis sepasang kekasih seperti dalam film yang seringkali ia tonton.
Roy yang sejak tadi mencondongkan tubuhnya ke arah Elisa kembali ke posisi semula setelah melepas sabuk pengaman. Membuat Elisa reflek menoleh dan tersadar dari lamunannya. Elisa langsung cemberut karena semua tidak terjadi seperti ekspetasinya.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Elisa menggeleng dengan wajah merona, "Aku nggak mikir apa-apa," elak Elisa. Padahal sebenarnya ia sedang memikirkan adegan-adegan romantis sepasang kekasih.
__ADS_1
"Aku hanya berniat membantumu membuka seatbelt, tapi kalau kamu masih ingin terus melamun, aku akan langsung putar balik dan pergi dari sini!" ancam Roy yang membuat wajah Elisa semakin malu. Ketauan berbohong, Elisa berdecak seraya melotot sebal,
"Coba saja kalau berani!" balas Elisa malah sengaja menantang Roy.
Benar saja, Roy sudah bersiap memutar balik dan menyalakan kembali mobilnya. Sepertinya ancaman Roy tidak main-main. Elisa memajukan bibirnya, "Iya, iya,aku turun." Akhirnya mengalah daripada urusan tambah panjang.
"Kamu menyebalkan, Kak!" Roy menoleh dengan senyum meledek. "Pasti otakmu ini sedang membayangkan adegan mesum seperti di film-film, kan?"
"Apaan sih, Kak!" sungut Elisa, sebal karena Roy terus memancing emosinya.
"Lagipula untuk apa aku harus membayangkan, kalau aku bisa ..." Ucapan Elisa terhenti saat melihat Roy yang tengah menatapnya dengan tajam. Lantas Roy langsung turun dan bergegas meninggalkan Elisa yang masih berdiam diri di tempat.
*****
Bel pintu yang berkali-kali berbunyi membuat Rengganis merengut kesal karena kegiatan yang baru saja dirinya mulai jadi terganggu. Pasalnya wanita hamil itu tengah berada di pinggir kolam renang dan sedang melakukan senam hamil dengan tenang. Memang ini lah kegiatannya setiap pagi, setelah Arya berangkat ke kantor.
Menunggu beberapa saat, namun bel di depan rumah tak juga berhenti. Ke mana para pelayan? kenapa tak satu'pun dari mereka yang mendengar. Masih dengan pakaian senam khusus ibu hamil, Rengganis lantas beranjak menuju pintu utama untuk melihat siapa tamu yang datang pagi-pagi seperti ini.
"Hai ... selamat pagi," sapa seseorang yang sama-sama sedang hamil tengah berdiri di depannya.
"Untuk apa kalian datang ke sini pagi-pagi?" tanya Rengganis dengan suara ketus. Ia tidak menduga kalau Elisa akan datang menemuinya pagi-pagi begini.
"Kalau kamu sudah tau jawabannya, untuk apa lagi bertanya?"
"Ck, jangan suka marah-marah, kasihan bayi yang ada di sini." Elisa lantas mengelus perut buncit Rengganis dan sontak membuat pemiliknya melotot sebal.
"Yang lebih pantas di kasihani adalah dirimu sendiri!"
"Apa maksudmu!" ucap Elisa dengan suara mulai meninggi, wajahnya pun mulai memerah.
"Dasar wanita tidak tau diri!"
"Kau ... !"
"El ... !" Roy langsung menahan tubuh Elisa yang hendak maju mendekati Rengganis. Roy tidak ingin dua wanita hamil itu terlibat perkelahian yang akan membahayakan keduanya.
__ADS_1
"Lepas, Kak! Aku harus kasih pelajaran untuk wanita murahan ini!" tunjuk Elisa dengan wajah penuh emosi. Elisa meronta mencoba melepas cekalan tangan Roy.
"Seharusnya kau berkaca, siapa di sini yang pantas di bilang murahan!" ejek Rengganis dengan melipat kedua tangannya di dada. Wanita ini masih tampak santai menghadapi dua orang tamunya.
"El, ayo kita pulang!" ajak Roy mencoba membujuk Elisa.
"Nggak, Kak! Aku nggak mau pulang sebelum kasih pelajaran sama
dia, lepas!"
Plak!
Seketika satu tamparan mengenai pipi mulus Rengganis yang membuatnya terlihat langsung memerah. Rengganis yang kala itu memang tidak siap hanya meringis kecil sambil memegangi bekas tamparan dari Elisa.
Karena merasa tidak terima, Rengganis langsung menarik rambut Elisa dengan kencang, hingga membuat sang pemilik terhuyung hampir jatuh ke lantai. Maka terjadilah keributan antara dua wanita hamil itu dengan aksi saling menarik dan mencakar. Rengganis yang merasa ada kesempatan langsung mencakar wajah cantik Elisa hingga menimbulkan goresan kuku di pipi gadis itu.
Roy sendiri merasa kewalahan memisahkan dua wanita hamil yang masih asik berseteru. Bahkan ia tak luput mendapat serangan juga saat mencoba memisahkan salah satu dari mereka. Kegaduhan itu terdengar sampai ke taman belakang. Nyonya Rani yang saat itu tengah menyiram tanaman di kejutkan dengan teriakan yang berasal dari pintu depan.
Wanita paruh baya itu bergegas meninggalkan pekerjaannya dan langsung berlari menuju pintu depan. "Astaga!" Nyonya Rani berteriak menyaksikan pemandangan di depan mata.
"Elisa ..! Rengganis ... ! Apa-apaan kalian!" Wanita itu langsung berlari menghampiri Rengganis dan mencoba memegang tubuh putrinya. Sementara Roy mencoba menahan Elisa agar keduanya tidak kembali saling menyerang.
Sudah tidak tahu seperti apa wajah Roy saat ini. Ia yang sejak tadi menjadi sasaran amukan keduanya terlihat sangat berantakan. Roy sangat menyesal karena bersedia mengantar Elisa untuk datang ke rumah ini, yang akhirnya ia harus terkena masalah karena Elisa bukannya datang berkunjung tapi malah membuat keributan.
"Ma, lepas." Rengganis masih mencoba melepaskan tangan sang mama yang memegangi tubuhnya dari belakang. Rumah seketika menjadi ramai oleh ulah kedua wanita itu. Para pelayan tampak berkumpul melihat perkelahian keduanya, tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani melerainya.
"Bik, tolong hubungi Arya, cepat!" titah Nyonya Rani menyuruh salah satu pelayannya.
"Baik, Nyonya."
LANJUT...LANJUT...
LIKE NYA MANA?
KOMEN NYA MANA?
__ADS_1
DUKUNGAN NYA MANA?
BIAR AKUH SEMANGAT💪💪💪