
Tengah malam saat semua orang tengah tertidur pulas, dan sebagian orang mungkin tengah bermimpi indah, Rengganis mengerjap, meraba perutnya yang sedikit mengencang. Rengganis berusaha mengatur napasnya seperti yang dokter selalu ajarkan saat kontraksi datang, mencoba kembali memejamkan mata, namun rasanya sakit itu semakin sering terasa.
"Mas ... " Rengganis sudah mencoba membangunkan Arya beberapa kali dengan memanggilnya, namun sepertinya Arya tertidur begitu pulas, hingga tidak sama sekali mendengar panggilan darinya.
Ia coba bangkit agar bisa mendekat ke arah suaminya, tapi perutnya semakin sakit saat ia mencoba bergerak.
"Ibu .... " Rengganis pun memanggil Bu Siti dengan masih menahan rasa sakit. Ia ingin sekali berteriak, tapi seakan suaranya tercekat sampai di tenggorokan.
"Bu ... " Rengganis sudah ingin menangis karena tidak satu orang 'pun yang mendengar suaranya.
Beberapa menit kemudian Bu Siti terjaga saat tiba-tiba ia seperti mendengar suara orang yang tengah memanggil. Ia coba mendengar lebih jelas lagi di mana asal suara itu, lantas Bu Siti sangat terkejut karena yang memanggilnya sedari tadi adalah putrinya sendiri.
Bu Siti segera bangkit dan turun dari ranjang, menyibak gorden dan menghampiri Rengganis yang sudah terlihat sangat kesakitan. "Maafkan Ibu, Nak," Bu Siti segera menekan tombol yang ada di samping ranjang untuk memberikan informasi pada dokter agar segera datang.
"Bu, sakit ... " Rengganis merintih, merasakan perutnya yang semakin kencang. Kali ini terlihat juga cairan yang merembes membasahi ranjang yang ia tempati.
"Nak, tenang, dokter akan segera datang." Bu Siti sangat tidak tega melihat anaknya yang sangat kesakitan seperti ini. Berulang kali ia menyeka keringat yang terus mengalir membasahi wajah Rengganis.
Arya yang mendengar kegaduhan di ruangan itu segera bangun. Ia tak kalah terkejut melihat Bu Siti yang tengah memeluk tubuh Rengganis seraya terus mencoba menenangkan.
"Bu, a–ada apa ini?"
Arya bergegas menghampiri ranjang istrinya, di lihatnya Rengganis terus merintih kesakitan. Arya mendekat, lantas memeluk tubuh Rengganis dan mengusap punggung wanita itu dengan lembut.
"Maaf, karena aku tidur terlalu lelap." Arya merasa bersalah karena tidak menjadi orang pertama yang menemani Rengganis saat kesakitan tadi.
Bu Siti mundur kebelakang membiarkan Arya yang tengah menenangkan istrinya. Ia terus melirik ke arah pintu berharap dokter segera datang dan menolong putrinya.
Tak lama kemudian dokter datang bersama dengan dua orang perawat. Mereka dengan cepat memeriksa keadaan Rengganis dan bersiap melakukan proses persalinan.
"Silakan Nyonya tunggu di luar. Biar kami bisa segera membantu persalinan Nona Rengganis," ucap salah satu perawat pada Bu Siti. Dengan berat hati wanita paruh baya itu keluar ruangan seperti permintaan dokter.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok, istri saya sudah sangat kesakitan. Apa tidak bisa segera di lakukan proses persalinannya?" Arya panik karena melihat Rengganis yang terus menangis, sesekali ia menjadi sasaran cakaran sang istri.
"Sabar, Tuan Arya. Nona baru masuk pembukaan 8, masih ada 2 pembukaan lagi." Dokter memberi penjelasan pada Arya agar tidak ikut panik.
"Apa, bagaimana saya bisa bersabar, sedangkan istriku terlihat sangat kesakitan." Arya sudah emosi mendengar penjelasan dokter yang ia anggap tidak masuk akal.
"Mas ..." Rengganis meraih tangan suaminya, menggenggam erat agar bisa kembali tenang, "Aku baik-baik saja."
Bukan ya tenang, Arya malah semakin kesal dengan perkataan Rengganis yang mengatakan ia baik-baik saja. Sungguh, Arya sama sekali tidak tega melihat Rengganis terluka. Berulang kali Arya menawarkan untuk melakukan operasi pada Rengganis, tapi sang istri tetap menolak, dan mengatakan ingin melahirkan secara normal saja.
"Nona, sekarang Anda sudah boleh mengejan." Dokter memberikan instruksi, setelah tadi melihat jalan pembukaan dan ternyata sudah lengkap.
Rengganis mengambil napas panjang dan menghembuskan dengan kuat, bersamaan rasa sakit yang datang, ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk berjuang melahirkan buah hati yang selama ini mereka nantikan.
"Dorong terus, Nona, ayo terus!" Dokter terus memberi semangat pada Rengganis yang sudah terlihat lelah. Sesekali wanita itu akan berhenti dan mengumpulkan kembali tenaganya.
Arya yang baru pertama kali mendampingi istrinya melahirkan terlihat begitu ketakutan. Arya melihat begitu banyak darah yang keluar dari bagian tubuh istrinya itu, berulang kali ia memeluk tubuh istrinya dan tidak henti-henti memberikan kecupan singkat untuk Rengganis. Arya sampai menangis melihat perjuangan istrinya yang rela bertaruh nyawa demi melahirkan buah hati mereka.
Rengganis tampak begitu lemas, seakan tenaganya sudah terkuras habis. " Saya sudah tidak kuat, Dokter," ucapnya pelan, lantas kedua matanya mulai terpejam.
"Ayo sedikit lagi, Nona. Apa Nona tidak ingin segera bertemu dengannya."
Perkataan Dokter seakan memberikan semangat baru bagi Rengganis. Ia yang selama sembilan bulan ini menantikan kelahirannya, haruskah menyerah begitu saja saat sedikit lagi ia akan bisa melihat wajah anaknya.
"Ayo, Sayang, kamu bisa! Kamu pasti bisa!" Arya memberi semangat dengan mencium wajah istrinya berulang kali.
Rengganis membuka matanya kembali, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang ia miliki. Bayangan wajah lucu seorang bayi tengah menari-nari di kepalanya. Seakan memberinya semangat baru setelah tadi ia hampir menyerah.
Rengganis mengambil napas panjang, bersamaan dengan aba-aba dari dokter, hingga akhirnya terdengar tangisan kencang seorang bayi memenuhi ruang persalinan.
Arya tidak bisa lagi menahan air matanya. Di kecupnya wajah Rengganis berulang kali, sembari mengucapkan ribuan terima kasih di telinga wanita itu.
__ADS_1
10 menit kemudian ...
"Selamat, bayi kalian perempuan, cantik seperti ibunya." Dokter memberikan bayi yang sudah lebih dulu di bersihkan oleh perawat dan memberikannya pada Arya.
Arya menerimanya dengan tangan yang gemetar. Ia masih tidak menyangka kalau sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah dari bayi mungil yang berada dalam dekapannya.
"Sayang, lihat dia cantik sepertimu." Arya menyerahkan bayi itu pada istrinya agar segera mendapatkan ASI.
Rengganis hanya tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Arya. Ia menatap wajah anaknya yang sedikit menggeliat mencari sumber kehidupan yang menjadi makanan pertamanya.
"Mari, Nona, saya bantu." Salah satu perawat membantu Rengganis mencari posisi nyaman untuk menyusui bayinya.
*****
Di luar ruangan persalinan sudah tampak ramai. Nyonya Aggi, Tuan Pratama dan juga yang lain sudah menunggu sedari tadi. Mereka sudah tidak sabar melihat cucu pertama mereka yang katanya berjenis kelamin perempuan.
Saat ruangan terbuka, Nyonya Anggi paling pertama yang bersemangat menghampiri Bu Siti yang keluar dari dalam.
"Bagaimana, Bu, apa kami sudah bisa melihat bayi Rengganis?"
Bu Siti tersenyum melihat begitu semangatnya wanita itu ingin melihat cucunya.
"Sebentar lagi, Bu, bayinya sedang menyusu.
Mau tak mau mereka harus bersabar menunggu. Saat dokter mengijinkan masuk, mereka secara bersamaan memenuhi ruangan rawat Rengganis hingga wanita itu di buat bingung oleh banyaknya pertanyaan dari keluarganya.
"Apa kalian sudah menyiapkan nama untuk putri kalian?" Kali ini Nyonya Anggi yang bertanya mengenai nama bayi itu.
"Sudah, Ma, kami sudah menyiapkan nama yang cantik untuk putri kami." Arya tersenyum ke arah Rengganis yang masih menggenggam erat tangannya.
"Kami akan memberi nama Kayshila. Kayshila Nadin," sambung Arya lagi.
__ADS_1
"Kashila Nadine Pratama." Papa Pratama menambahkan nama belakang keluarga besarnya pada bayi mungil itu.