Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Rindu


__ADS_3

"Aku ingin pisah dari Mas Arya." Nyonya Rani mematung di tempatnya dengan wajah terkejut. "Aku juga pengen tinggal sama Mama setelah pulang dari sini," ucap Rengganis lagi.


Nyonya Rani menghela napas pelan. Ia hanya tersenyum lalu membelai lembut rambut Rengganis. Nyonya Rani tidak mungkin menolak keinginan Rengganis saat kondisinya seperti ini. Lagi pula ia akan bisa mengawasi kesehatan Rengganis langsung kalau gadis itu tinggal bersamanya.


Nyonya Rani tahu tidak mudah bagi Rengganis untuk menerima semua ini. Apalagi dia butuh orang-orang yang bisa mendukungnya melewati masalah berat yang tengah mengguncang rumah tangga mereka.


Wanita itu hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan putrinya. Mungkin nanti ia akan sedikit meyakinkan Arya agar mengijinkannya membawa Rengganis untuk tinggal di rumah. Nyonya Rani juga tidak mungkin membiarkan putrinya merasa tertekan jika terus berada satu atap dengan pria yang saat ini sangat dirinya benci.


Apalagi kondisi kesehatan Rengganis yang sedikit menurun. Nyonya Rani khawatir akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pada bayi dalam kandungan Rengganis jika membiarkan gadis itu tinggal jauh tanpa pengawasannya.


"Makasih, Ma." Rengganis kembali memeluk sang mama dengan perasaan haru. Ia bersyukur memiliki keluarga dan orang-orang yang sangat tulus menyayanginya.


*****


Sudah lebih dari tiga hari Rengganis di rawat di rumah sakit, dan selama itu pula ia tidak pernah lagi bertemu dengan Arya. Entah kemana suaminya itu menghilang, yang pasti Rengganis tak peduli.


Mungkin Arya sedang bersenang-senang bersama Elisa. Bukankah beberapa hari hasil tes DNA akan keluar? Dan setelah itu, mereka berdua akan segera menikah.


Rengganis yang sebelumnya telah mendengar semua penjelasan dari Nyonya Rani itu pun tahu, kalau Arya dan Elisa melakukan tes DNA di salah satu rumah sakit ternama di kota ini. Bahkan Tuan Pratama sendiri yang menyewa Dokter khusus untuk merawat perkembangan bayi di dalam kandungan Elisa. Itulah yang Rengganis tangkap semua penjelasan dari sang mama. Padahal kenyataannya Nyonya Rani juga mengatakan kalau tes DNA itu untuk memastikan kalau anak dalam kandungan Elisa benarlah anak Arya, bukan milik orang lain. Nyonya Rani juga meyakinkan Rengganis kalau Arya tidak melakukan itu, terlihat bagaimana Arya yang bersikukuh membantah semua tuduhan itu.


Namun apalah arti penjelasan wanita itu di mata Rengganis. Sebagai seorang perempuan bukankah mereka akan memilih menggunakan perasaannya daripada logika? Rasanya Rengganis begitu bodoh, kenapa baru sekarang ia mengetahui segalanya. Sementara umur kandungan Elisa kini menginjak lima bulan. Bukan kah hanya selisih dua bulan saja dengan usia kandungannya, dan selama itu pula Rengganis yakin, Arya sering mengunjungi Elisa dan beralasan pulang telat akibat pekerjaan kantor yang menumpuk.


Rengganis meremat kain berlapis di dada bersama air mata yang mengalir deras di kedua pipinya. Ada sedikit perasaan yang menggelitik di hatinya. Jujur ia rindu. Sungguh ia sangat merindukan suaminya. Biasanya Arya akan memeluknya setiap malam. Arya juga akan melakukan apapun untuk memenuhi keinginannya.


Tapi mungkin mulai saat ini semua akan berubah. Arya bukan lagi menjadi miliknya seorang. Ada keluarga lain yang juga akan merindukannya. Tidak! Rengganis tidak rela jika harus berbagi. Mungkin lebih baik ia mundur, sebelum ia semakin sakit.


Hampir menjelang tengah malam Rengganis baru merasakan kantuknya yang sudah tidak bisa ia tahan lagi. Melirik sang ibu yang sudah tampak terlelap di sofa yang tidak jauh dari ranjang yang ia tempati.

__ADS_1


Rengganis memutuskan untuk tidur dan mengistirahatkan pikirannya yang lelah setelah berkeliaran entah kemana. Ia berharap akan bermimpi bertemu dengan suaminya untuk sekedar melepas rasa rindu.


Padahal tanpa sepengetahuan Rengganis, Arya selalu datang setiap malam. Saat Rengganis telah tertidur lelap, Arya akan mengendap-endah dan masuk ke kamar itu untuk membangunkan Bu Siti.


Seperti malam ini, Arya sengaja datang lebih awal dan menunggu waktu tengah malam di sebuah cafe yang tidak jauh dari rumah sakit. Meski berapa puluh kali panggilan, pun dengan pesan yang di kirimkan Elisa padanya, Arya tetap tak berniat membuka benda pintar miliknya. Saat ini yang ada di dalam pikirannya ialah Rengganis, ia sudah sangat merindukan istrinya itu.


Dengan langkah yang sangat hati-hati Arya membuka pintu ruangan rawat itu yang sebelumnya memang sengaja tidak di kunci oleh sang ibu. Wanita paruh baya itu segera bangun dan meninggalkan kamar putrinya. Bu Siti menuju ruangan sebelah yang memang sudah Arya sewa untuk tempat tidur sementara sampai menjelang pagi.


Arya mendekat ke arah ranjang, melihat wajah pulas istrinya yang tampak damai. Di kecupnya kening Rengganis, lalu membelainya dengan lembut.


Mungkin hanya ini yang dapat Arya lakukan. Menemuinya secara sembunyi-sembunyi saat Rengganis sudah terlelap, dan meninggalkannya sebelum Rengganis terbangun.


Arya terlalu takut Rengganis akan menolaknya dan kembali histeris jika ia memaksa menemuinya seperti saat itu.


Arya melangkahkan kakinya menuju sofa di ruangan itu, lantas segera berbaring dan mengistirahatkan tubuhnya yang sudah sangat lelah.


Memang beberapa hari ini ia sering bermimpi. Dalam mimpinya Arya selalu datang menemuinya, bahkan ia sangat ingat Arya selalu mengecup keningnya, dan membelainya dengan lembut. Namun ketika pagi hari Rengganis terbangun, yang di lihatnya pertama kali adalah ibu kandungnya. Benar itu hanya mimpi.


Ah, apa mungkin karena Rengganis terlalu merindukannya, hingga mimpi itu berulang kali datang. Tapi, kali ini berbeda, Rengganis merasakan saat ini benar-benar Arya datang menemuinya. Rengganis menggeliat, memegang bekas kecupan yang ia rasakan beberapa menit yang lalu. Rengganis segera berbalik menghadap ke arah sofa, tempat di mana biasanya ibunya tengah tertidur. Dan....


"Mas Arya!" ucap Rengganis tak percaya. Ia mengucek kedua matanya, memastikan jika yang di lihatnya saat ini benar suaminya.


Arya yang baru saja memejamkan matanya terkejut mendengar suara Rengganis memanggilnya. Ia segera beranjak duduk dan melihat ke arah suara itu.


"Sayang ... " Arya gugup harus mengatakan apa. Ia sangat bingung harus menjelaskan pada Rengganis. Bagaimana kalau Rengganis menangis dan kembali berteriak mengusirnya? Setelah beberapa menit tak ada respon apapun dari sang istri, Arya pun mencoba mendekat.


"Maaf .... "

__ADS_1


Mungkin hanya kata itu yang sanggup terucap dari bibir Arya. Sebenarnya ia sangat ingin memeluk dan mencium wanita di depannya ini. Namun Arya belum seberani itu melakukannya. Setelah semua kebohongan yang ia lakukan, pantaskah ia mendapatkan semuanya kembali? Dan, apa hanya dengan kata maaf, Rengganis akan mau menerimanya.


"Mas ... ?" Rengganis bergumam pelan, seraya mendudukkan tubuhnya. "Kamu sejak kapan di sini?"


"Aku bangunin kamu ya?" Lantas Arya mendekat ke arah Rengganis dan duduk di sampingnya.


"Kamu sejak kapan ... ?"


"Setiap malam aku kesini," ucap Arya memotong ucapan istrinya.


"Apa maksudmu?"


"Sebenarnya setiap malam aku kesini," balas Arya lagi. Ia merengkuh tubuh istrinya dengan perasaan rindu. Karena tidak ada penolakan lagi dari istrinya, lantas Arya segera mengecup bibir wanita itu dengan singkat.


Rengganis hanya bisa mematung mendapatkan perlakuan dari Arya. Ingin sekali ia menolak dan mengusir pria di depannya ini. Tapi seakan tubuhnya menerima semua perlakuan Arya. Ia begitu sangat merindu dengan belaian lembut suamiya.


"Mas!" Rengganis tersadar dan segera melepas pelukan Arya. Ia lantas berpaling menyembunyikan wajah merah menahan malu.


"Tidurlah, kamu pasti lelah," ucap Arya membelai lembut pipi Rengganis. "Aku akan menemanimu di sini."


🌺🌺🌺🌺🌺


LIKE


LIKE


LIKE

__ADS_1


__ADS_2