Terpesona Anak Pembantu

Terpesona Anak Pembantu
Tidak Akan Menyentuhmu


__ADS_3

Dengan langkah penuh percaya diri Elisa melangkah masuk ke dalam lift. Ia langsung menuju lantai delapan tempat di mana Roy tinggal. Apartemen mewah yang Roy tempati sekarang adalah hadiah dari Tuan Andreas saat pertama kali ia memenangkan proyek besar. Waktu itu usia Roy baru 23 tahun. Masih terbilang sangat muda untuk seorang pebisnis. Namun Roy mampu membuat perusahaan Tuan Andreas berkembang pesat berkat kemampuannya.


Elisa sampai di depan pintu kamar sambil terus mengingat nomor kamar yang dulu pernah ia datangi. Memang Elisa pernah sekali berkunjung ke sini bersama dengan papinya. Elisa yakin bahwa kamar yang ia tuju tidak lah salah. Ia menekan bel apartemen, sekali ... dua kali ... tiga kali. Tidak ada tanda-tanda akan di buka pintu itu.


Kemana Kak Roy, apa aku salah kamar?


Elisa terus menekan bel pintu berulang kali, sampai ia jengah sendiri karena tidak ada respon sama sekali dari dalam sana.


Sementara Roy yang tengah berada di kamar mandi menggerutu kesal, karena mendengar suara bel pintu berbunyi terus menerus. Ia hanya melilitkan handuk sebatas pinggang karena terlalu terburu-buru ingin melihat siapa orang yang datang ke tempatnya malam-malam begini.


Berjalan ke arah pintu, Roy terus mengumpat pada seseorang yang tidak sabaran itu. Sampai ia lupa melihat terlebih dahulu siapa yang datang. Roy membuka pintu kamar dengan memasang wajah yang masih kesal, dan benar saja ia bertambah kesal saat tau siapa tamu yang datang ke tempatnya.


"Untuk apa kau datang kemari?" Roy langsung bersikap tidak ramah saat melihat wajah Elisa yang tengah mematung di depan pintu. Lain hal nya dengan Elisa yang malah shock melihat pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana bisa Roy membuka pintu hanya dengan menggunakan handuk seperti itu.


Seketika pikiran liar Elisa berkelana, kalau saja ... ah, apa yang ia pikirkan. Memang benar ia telah melakukan dengan pria yang ada di depannya ini, tapi waktu itu ia dalam keadaan tidak sadar.


"Hei!" Roy menepuk pundak Elisa pelan, tapi Elisa hanya bengong dan menatapnya.


"Eh ... " Elisa mengerjap berulang kali, mencoba mengembalikan kesadaran yang tadi sempat hilang.


"Apa yang ingin kau katakan hingga malam-malam datang kemari." Roy kembali bersuara namun dengan pertanyaan yang berbeda.


"Aku ... " Seketika Elisa menjadi gugup. Entahlah, semua rencana yang telah ia siapkan matang-matang sedari tadi seakan menguap begitu saja. Ia masih fokus memandangi pria di depannya dengan sesekali menunduk menyembunyikan rona merah di wajah.


"Apa yang kau pikirkan." Roy mendekat saat melihat Elisa yang semakin gugup. Ia tahu Elisa tengah menyembunyikan rasa malunya.


"Bisakah Kak Roy memakai baju." Elisa memalingkan wajah. Ia tidak ingin terus menerus berfantasi liar karena terlalu lama memandang tubuh seorang pria.

__ADS_1


"Kenapa?" Roy pura-pura bodoh, seakan ia tidak mengerti dengan isi pikiran Elisa saat ini.


"Pakai baju sih, apa Kak Roy tidak malu?" Elisa mencebik kesal akan jawaban Roy yang tidak peka sama sekali.


"Malu? Apa seorang gadis yang mendatangi tempat laki-laki juga tidak malu? Apalagi malam-malam seperti ini," jawabnya telak, membuat Elisa menelan salivanya kasar. Benar juga apa yang di katakan Roy, harusnya kalimat itu di tujukan untuk dirinya sendiri.


"Aku 'kan ada urusan." Elisa mengelak agar ia tidak semakin tersudut.


"Apa?"


Elisa bungkam. Ia kembali merangkai kata-kata nya yang tadi sempat ia persiapkan dari rumah. Roy yang melihat Elisa diam, melangkah menuju tempat gadis itu berdiri.


"Apa yang Kak Roy lakukan?" Elisa mundur beberapa langkah karena melihat gelagat mencurigakan dari pria di hadapannya ini.


"Kenapa? Bukannya kau sendiri yang datang kemari?" Roy semakin mendekat, membuat Elisa terus mundur dan akhirnya membentur tembok. Elisa bisa merasakan napas hangat Roy yang menerpa wajah. Seketika tubuhnya meremang saat memandangi tubuh Roy dengan jarak yang begitu dekat.


"Apa kau sudah tidak sabar menunggu malam pertama kita?" Roy membelai rambut Elisa lembut, membuat pemiliknya menahan napas sejenak karena terlalu gugup.


Jujur, ia belum pernah di perlakukan seperti ini, karena dari dulu ia terlalu sibuk mengejar cinta Arya yang bahkan sama sekali tidak pernah menganggapnya.


Elisa tersadar saat tangan Roy berhenti mengusap pipinya. Perlahan ia membuka mata dan melihat Roy tengah tersenyum mengejek.


"Apa yang Kak Roy lakukan?" Tiba-tiba Elisa mendorong tubuh Roy hingga ia bisa terlepas dari kungkungannya.


"Apa?" Roy hanya menjawab santai tanpa mempedulikan wajah Elisa yang terlihat kesal. Entah karena tindakannya barusan atau karena ia tidak jadi mencium.


"Jangan macam-macam ya, Kak!"

__ADS_1


"Maksudnya?" Roy menggeleng tak percaya akan sikap Elisa, padahal tadi gadis itu sama sekali tidak menolak saat ia menyentuhnya.


"Aku akan teriak jika Kak Roy berani macam-macam!" ancam Elisa dengan tidak tahu malu. Ia kehabisan kata-kata hingga kalimat itu yang akhirnya keluar. Roy hanya berdecak sambil berlalu masuk ke dalam kamar, dan keluar sudah dengan memakai pakaian santai.


"Sebenarnya, apa yang ingin kau sampaikan." Roy sudah duduk di sofa ruang tamu sembari memainkan ponsel di tangan.


"Apa Kak Roy yakin?" Kali ini Elisa kembali ke niat awalnya datang kemari.


"Tentang?"


"Kita akan menikah besok."


"Lalu?"


"Apa Kak Roy bisa janji tidak akan mengingkari perjanjian kita?" Elisa mengingatkan syarat yang ia ajukan pada Roy, dan saat itu Roy langsung menyetujuinya.


"Aku tidak akan menyentuhmu!" ucap Roy santai, ia sama sekali tidak memandang Elisa saat mengatakan hal itu.


Elisa berbinar senang mendengar jawaban dari Roy untuk yang ke dua kalinya. Ternyata Roy tidak lupa dengan permintaannya dulu.


"Makasih, Kak." Elisa tersenyum, sekarang tidak ada yang ia takutkan lagi. Setelah menikah nanti Elisa akan menjalani pernikahannya seperti biasa. Tapi tidak akan saling mengurusi urusan pribadi masing-masing.


"Aku tidak akan menyentuhmu." Roy kembali bersuara tanpa mengalihkan pandangan dari layar gawainya, "Kecuali jika kau juga menginginkannya."


Kali ini Elisa terdiam, mencerna setiap ucapan yang baru saja keluar dari bibir pria itu.


Apa maksudnya, apa dia berniat melakukannya lagi denganku?

__ADS_1


Elisa membulatkan matanya saat memahami ucapan Roy. Elisa menatap tajam pada Roy yang tengah memandangnya dengan senyum yang menyeringai.


"Kakkkkk ... !!"


__ADS_2